Skip to main content

Malang Trend

Nobar Arema FC Bikin Cuan! Warkop di Malang Full House, UMKM Ikut Kecipratan Rezeki

Nobar Arema FC Bikin Cuan! Warkop di Malang Full House, UMKM Ikut Kecipratan Rezeki
Caption: Ratusan pasang mata terpaku ke layar lebar yang menyiarkan duel penuh gengsi semifinal Piala Presiden 2026. (Firman/MPM/MT)

MALANGTREND.ID – Derbi Jatim antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di semifinal Piala Presiden 2026 bukan cuma bikin tensi suporter naik. Di balik panasnya pertandingan, ada cerita manis dari pelaku UMKM yang ikut merasakan cuan berkat ramainya agenda nonton bareng (nobar).

Salah satunya terlihat di Warkop Distrik DPR, Kota Malang. Warung kopi yang biasanya jadi tempat nongkrong santai itu mendadak penuh sesak oleh ratusan Aremania yang datang untuk menyaksikan duel panas Arema FC kontra Persebaya di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (4/8).

Sepanjang pertandingan, suasana dibuat campur aduk. Sorak sorai sempat pecah saat Johan Alfarizi membobol gawang lawan, namun gol tersebut dianulir. Tak lama kemudian, rasa kecewa kembali terasa ketika beberapa peluang emas Singo Edan gagal dikonversi menjadi gol.

Malam itu, sepak bola bukan sekadar hiburan. Nobar berubah menjadi momen yang menyatukan ratusan orang dalam satu harapan agar Arema FC bisa melangkah ke final.

Nobar Bikin Warung Full House

Di balik ramainya suporter, roda ekonomi warga sekitar ikut bergerak. Pemilik Warkop Distrik DPR, Saiful Arif (53), mengaku pertandingan semifinal menjadi salah satu momen paling ramai sejak Piala Presiden 2026 bergulir.

Biasanya, warungnya hanya dikunjungi sekitar 50 hingga 60 pelanggan setiap malam. Namun saat laga Arema FC kontra Persebaya, jumlah pengunjung melonjak hingga sekitar 150 sampai 200 orang.

“Intinya saya ingin UMKM terus berjalan. Dampak ekonominya cukup lumayan, omzet bisa naik sekitar 25 persen malam ini. Waktu penyisihan grup kemarin memang ada peningkatan, tapi tidak sesignifikan saat laga semifinal ini,” ujar Saiful saat ditemui usai pertandingan.

Tak hanya menikmati keuntungan sendiri, Saiful juga melibatkan warga sekitar dengan menjual berbagai camilan titipan, mulai gorengan, kacang hingga roti.

“Saat nobar, jajanan yang saya jual seperti gorengan, kacang, atau roti itu semua dari warga sekitar. Biar mereka juga bisa dapat rezekinya,” lanjutnya.

Harga Tetap Bersahabat, Nobar Gratis

Meski pengunjung membludak, Saiful memilih tidak menaikkan harga makanan maupun minuman. Baginya, nobar harus tetap bisa dinikmati semua kalangan, terutama anak muda.

Harga menu di Warkop Distrik DPR pun terbilang ramah di kantong. Menu termahal hanya sekitar Rp8 ribu.

“Banyak anak muda yang uangnya ngepres, kadang masih minta orang tua. Saya lihatnya kasihan kalau harganya mahal. Apalagi nobar ini kan gratis. Mau ke sini cuma numpang nonton saja tanpa pesan makan atau minum ya monggo, tidak masalah. Yang penting saya nyetel TV untuk nobar sebagai hiburan rakyat,” kata Saiful.

Ia berharap tradisi nobar sepak bola di Indonesia tetap bisa dinikmati masyarakat secara gratis sekaligus menjadi ruang berkumpul yang positif.

Aman, Nyaman, dan Ramah Perempuan

Agar suasana tetap kondusif, pihak warkop selalu berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan TNI sebelum menggelar nobar. Selain itu, ada petugas khusus yang bertanggung jawab menjaga keamanan selama acara berlangsung.

Hasilnya, Warkop Distrik DPR dikenal sebagai salah satu lokasi nobar yang nyaman, termasuk bagi penonton perempuan.

Ririn Fitriani, warga Kedungkandang, mengaku sudah beberapa kali memilih tempat ini untuk menyaksikan pertandingan Arema FC.

“Saya nobar di sini karena minim kerusuhan dan tidak ada catcalling. Jadi sangat nyaman dan betah,” ujarnya.

Menurut Ririn, suasana yang tertib membuat dirinya tak ragu datang bersama teman-temannya.

“Tempatnya nyaman, lebih teratur, dan makanannya enak. Kalau ke sini, paling banyak pengeluaran cuma Rp 12.000, itu sudah murah sekali dan Wi-Fi juga ada gratis,” yakinnya.

Parkiran Ikut Kebanjiran Rezeki

Ramainya pengunjung juga membawa berkah bagi pekerja parkir. Muhammad Nurdiansyah atau Ahmad mengaku jumlah kendaraan yang datang meningkat drastis setiap kali ada nobar.

Bahkan, karena parkiran terlalu padat, ia harus ikut membantu melayani pesanan di dalam warung.

“Setiap ada nobar pasti ramai, otomatis pengaruh ke penjualan. Karena parkiran sepeda sangat ramai, saya jadi ikut turun tangan membantu di dalam untuk melayani pesanan. Yang parkir saya serahkan ke temen lain. Alhamdulillah, bisa nambah penghasilan,” ungkap Ahmad.

Meski Arema FC harus mengakui keunggulan Persebaya dan gagal melangkah ke final Piala Presiden 2026, malam itu tetap meninggalkan cerita positif. Bukan soal skor akhir, melainkan bagaimana sepak bola mampu menghidupkan UMKM, membuka peluang rezeki bagi warga, sekaligus menjadi ruang kebersamaan yang dirindukan masyarakat. (fir/bua)