Skip to main content

Malang Trend

Membunuh Dualisme

Membunuh Dualisme
Oleh H. Buari, STP
Wartawan Malang Posco Media


Selamat ulang tahun Arema. Ulang tahun ke-39 untuk Tim Arema Singo Edan. Tim Arema yang didirikan oleh Brigjen (Pur) Acub Zainal bersama anaknya, Lucky Acub Zainal (Sam Ikul). Ya, yang berulang tahun adalah tim Arema yang lahir 11 Agustus 1987.

Meski kita memahami, Arema sudah menjadi sebuah identitas bagi Arek Malang. Kita meyakini, nama Arema sebagai Arek Malang  sudah lama hadir, sebelum tim Arema itu ada.

Arema memang tak hanya urusan sepak bola. Seperti mengutip kalimat yang saya dengar dan lihat langsung dari bibir alm Sam Ikul: Arema is Arema, not just a football.

Hadirnya tim sepak bola Arema, menjadi perwujudan kebanggaan, rasa cinta dan persatuan Arek Malang. TerkKhusus Arek Malang yang berada di perantauan, sangat terasa adanya Tim Arema sebagai alat pemersatu.

Nah, jika yang dirayakan ulang tahunnya adalah tim Arema, pertanyaan yang sering muncul adalah, Tim Arema yang mana? Bagi yang memahami, atau di kalangan klub atau supporter lain, terutama Bonek, sering itu ditanyakan.

Alhamdulillah, sekarang sudah relatif kompak. Kami mengikuti arus utama, tentu yang sangat terlihat euforianya adalah Tim Arema FC. Hampir sebagian besar Malang Raya, merayakan HUT ke-39 Arema FC yang mengusung tema TH39GREATNESS.

Mungkin kita sudah lelah dengan yang namanya dualisme Arema, mulai melupakan itu. Atau seperti kata Sam Amin, Aremania Jalur Gaza, saat ini supporter Arema sudah memasuki generasi ketiga.

Saya ketemu Sam Amin saat pelantikan pengurus pusat Aremania Utas, beberapa waktu lalu. Dia terhitung sebagai Aremania generasi pertama, bersama kelompoknya alm Cak Surtato, alm Cak No, alm Sam Tembel dan sesepuh lainnya. Kini, menurutnya sudah generasi ketiga.

Barangkali generasi ketiga ini, tahu-nya yang eksis adalah Arema FC. Pantas jika kemeriahan HUT ke-39, dengan serangkaian acaranya, memang lebih berasa untuk tim yang berlaga di kasta tertinggi Liga Indonesia itu.

Namun, juga tak bisa menutup mata, masih ada yang menempuh jalan sunyi, memberi dukungan pada tim Arema yang satunya. Arema Indonesia. Mereka juga merayakan ulang tahun yang sama, ulang tahun ke-39.

Disebut-sebut berdenyut setahun sekali. Tim yang terakhir ikut Liga 4 Jawa Timur  2024/2025 ini juga menampilkan logo ulang tahun ke-39 dengan tema: SUPREM39UARD. 

“Dari Rebel Land maka lahirlah para Supreme Guard. Barisan terakhir para penjaga, para pengawal nilai sejarah dan tradisi Klub Arema Indonesia. Tujuan mereka satu yaitu berjuang mempertahankan hak hidup yg sudah berhasil mereka lakukan dalam kurun waktu 39 tahun ini. Semangat perjuangan inilah yang menginspirasi lahirnya sebuah karya logo Anniversary Arema Indonesia ke 39 ini dan dengan bangga kami persembahkan bagi barisan setia Arema Indonesia”

Demikian saya mengutip keterangan dari akun IG tim Arema Indonesia. Sepertinya tim ini sudah tidak ikut kompetisi Liga 4, tapi masih ada tanda-tanda kehidupan. Barangkali seperti pepatah, hidup segan, mati tak mau.

Terlepas itu, tim inilah yang menggunakan logo Arema dengan gambar Singa Bertindik. Belakangan, tim Arema FC coba mendaftarkan logo tersebut. Meski dari dialog podcast Sam Iwan Budianto sebagai CEO Arema FC, tampaknya tak mau memaksakan.

Sam IB yang sebenarnya dulu adalah juga bagian dari Tim Arema yang satu, sebelum pecah, menyampaikan tak ingin menambah masalah jika harus menggunakan logo Singa Bertindik. Sam IB mengakui logo itu memang bukan milik Arema FC.

Kecuali logo itu memang diberikan kepada Arema FC, atau diserahkan kepada Presidum Aremania yang sekarang menjadi simbol persatuan supporter Aremania, bisa jadi Arema FC mau menggunakan logo itu. Bahkan menurut IB, siap membelinya, jika akhirnya itu harus dijual.

Perlahan namun pasti, dualisme itu akan berakhir. Meski belum tahu kapan pastinya. Di antara sekian tim di Indonesia yang dilanda dualisme, Arema-lah yang paling awet, sejak tahun 2011 silam.

Mengutip dialog dengan Sam Darmaji, pengurus Arema FC saat datang ke kantor Malang Posco Media beberapa waktu lalu, dualisme Arema adalah sejarah yang tak bisa terhindarkan. Bisa jadi, jika saat itu tidak terjadi dualisme, mungkin Arema sudah mati.

Dualisme adalah takdir dan menjadi ujian cukup panjang bagi Arema dan Aremania. Insya Allah itu akan segera berakhir. Setidanya melihat peserta Liga 4 tahun 2025 lalu, sesuai keputusan Asprov PSSI Jatim, sudah tidak ada nama tim Arema Indonesia. Yang ada Tim ArekMalang Indonesia (AMI).

Terpenting lagi, Aremania mulai kompak dengan hadirnya Presidium Aremania Utas. Ya, mereka sudah bersatu, tanpa membedakan dari tim yang mana. Menurut informasi, di antara presidium Aremania yang berjumlah 7 orang itu sudah ada perwakilan dari Aremania pendukung tim Arema Indonesia.

Kini membaur jadi satu, dalam Aremania Utas. Semoga dari sisi tim, juga akan menjadi satu. Atau akhirnya akan tinggal satu tim Arema saja. Satu Arema yang dikenal dan didukung oleh Aremania generasi berikutnya.

Bersama waktu, mari kompak membunuh dualisme. Matikan ego. Akhiri dengan menjadi satu.

Salam satu jiwa. Arema. (*)