Pemain Arema FC dalam latihan rutin di Lapangan Dream Football Pitch, Pakis, Malang, Rabu (12/8). (Media Officer Arema FC)
MALANGTREND.ID – Ada sinyal menarik dari persiapan Arema FC menuju Super League 2026/2027. Singo Edan ingin kembali memainkan karakter khas yang selama ini lekat dengan tim: ngeyel, agresif, dan berani dalam duel.
Namun, kali ini gaya ngeyel tersebut nggak akan dimainkan dengan cara lama. Arema FC ingin mempertahankan identitas tersebut sambil menggabungkannya dengan gaya sepak bola modern yang lebih mengandalkan penguasaan bola, taktik, dan kecerdasan pemain.
Hal itu disampaikan Doni Suherman, yang kini bergabung dalam tim senior Arema FC. Menurutnya, karakter keras dan agresif sebenarnya masih sangat relevan di sepak bola modern. Hanya saja, pemain harus lebih pintar menentukan kapan harus bermain keras dan kapan harus mengontrol permainan.
“Kalau dulu memang karakter Arema itu keras, tapi sekarang mindset tim harus lebih maju. Saya melihat dari Spanyol sama Argentina, saat Piala Dunia lalu, possession-nya bagus. Argentina punya force, pemain keras, cuma kalau dihadapkan dengan Spanyol tidak berkutik juga, dengan taktik La Roja,” ujar Doni.
Buat Doni, “ngeyel” bukan berarti asal main keras. Karakter tersebut harus dibarengi kemampuan membaca pertandingan, menjaga possession, serta mengambil keputusan dengan timing yang tepat.
Dengan kata lain, Arema tetap boleh ngegas, tetapi harus lebih smart.
Doni bahkan menegaskan bahwa karakter ngeyel tidak seharusnya hilang dari permainan Singo Edan. Baginya, gaya tersebut merupakan bagian dari identitas Arema yang tetap dibutuhkan ketika menghadapi lawan.
“Harus (bermain ngeyel, red), memang harus ngeyel, cuma dalam permainan ini para pemain harus pintar. Tahu waktu alias timming, jadi kapan keras ini, dan bisa penguasaan,” katanya.
Menurutnya, kontak fisik juga merupakan bagian natural dalam sepak bola. Karena itu, permainan agresif dan karakter keras tetap harus dipertahankan. Bedanya, pemain Arema dituntut lebih mampu mengontrol emosi, membaca situasi, dan mengombinasikannya dengan aspek teknis.
“Memang sepak bola seperti itu, kontak fisik ada, tapi enggak menutup kemungkinan keras dan ngeyel itu, jadi tetap harus ada,” pungkas Doni.
Ngeyel Versi Baru Arema
Jika diterjemahkan ke permainan di lapangan, konsep tersebut bisa menjadi formula baru Singo Edan: mental bertarung tetap, tetapi cara bermain lebih modern.
Arema tidak ingin kehilangan identitasnya sebagai tim yang sulit menyerah dan berani berduel. Namun, karakter tersebut bakal coba dipadukan dengan possession, permainan progresif, tactical awareness, serta kemampuan pemain dalam membaca momentum.
Jadi, kalau musim depan Arema kembali tampil ngeyel, ekspektasinya bukan sekadar keras atau fight. Singo Edan ingin punya versi “ngeyel tapi smart”. (rex/bua)





