Tim UB Forest melakukan pengecekan Drone DJI Matrice 30 setelah melakukan penerbangan pendeteksian kebakaran di kawasan UB Forest. (Ist/MPM/MT)
MALANGTREND.ID – Teknologi jadi senjata baru untuk menjaga kawasan UB Forest tetap aman. Tim Universitas Brawijaya (UB) Malang berhasil mendeteksi titik api menggunakan drone termal DJI Matrice 30T, sehingga potensi kebakaran hutan berhasil dicegah sebelum meluas.
Berkat data koordinat dari udara, tim lapangan bisa langsung bergerak ke lokasi dan memadamkan api sebelum merembet ke vegetasi di sekitarnya.
Titik Api Ketahuan dari Udara
Deteksi dilakukan saat patroli rutin pada 25–27 Agustus 2026. Drone menemukan titik panas di wilayah perbatasan barat luar kawasan UB Forest, tepatnya di koordinat 7.824301° LS dan 112.572614° BT, dengan ketinggian sekitar 1.247 meter di atas permukaan laut.
Koordinator Bidang Perlindungan dan Pengawasan Kawasan Hutan UB Forest, Dr. Muhammad Yusuf, mengatakan setiap titik panas yang muncul di layar drone langsung dicek oleh tim di lapangan.
“Kalau ada titik panas, langsung kami datangi untuk cek. Kalau ada titik api, itu segera kami matikan,” ujarnya.
Dipadamkan, Lalu Dicek Lagi Pakai Drone
Setelah api berhasil dipadamkan, tim kembali menerbangkan drone untuk memastikan tidak ada bara atau titik api baru yang masih tersisa.
Menurut Yusuf, penggunaan drone termal membuat pengawasan kawasan hutan jauh lebih efektif dibanding patroli darat.
“Perangkat tersebut dilengkapi sensor suhu permukaan dan fitur zoom sehingga dapat membantu membedakan sumber panas dengan kenaikan suhu normal,” jelasnya.
Sekali Terbang Bisa Pantau 10 Hektare
Koordinator KJF Bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan UB Forest, Rifqi Rahmat Hidayatullah, menyebut drone termal sangat membantu proses deteksi dini kebakaran.
“Kalau hanya patroli jalan kaki atau naik motor, jangkauannya terbatas. Dengan drone, pemantauan jadi lebih luas, efektif, dan efisien,” katanya.
Sementara itu, Yulianto Muji Nugroho menambahkan drone mampu memantau area hingga 10 hektare dalam satu kali penerbangan. Meski begitu, waktu terbangnya sekitar 30 menit, sehingga penggunaannya harus diatur secara efektif.
Gandeng Petani Cegah Karhutla
Selain mengandalkan teknologi, UB Forest juga memperkuat upaya pencegahan lewat kerja sama dengan petani penggarap di sekitar kawasan hutan.
Edukasi terus diberikan agar masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, terutama saat musim kemarau yang rawan memicu kebakaran.
“Kami juga memperkuat pencegahan melalui pendekatan kepada masyarakat dan petani penggarap. Edukasi dilakukan karena pembakaran lahan yang tidak diawasi menjadi salah satu pemicu kebakaran saat musim kemarau,” tutup Yusuf.(hud/bua)





