Skip to main content

Malang Trend

Auto Bangga! Anak Batu Ini Tampil di Istana Negara Bareng Gita Bahana Nusantara

Auto Bangga! Anak Batu Ini Tampil di Istana Negara Bareng Gita Bahana Nusantara
MEMBANGGAKAN : Gilang Larrivo Prayoga, warga Kota Batu bersama cello miliknya berhasil membawa dirinya masuk GBN 2026.

MALANGTREND.ID – Dari sebuah sudut sejuk di Bumiaji, Kota Batu, lahir kisah inspiratif seorang musisi muda yang berhasil membawa nama daerahnya ke panggung nasional. Dialah Gilang Larrivo Prayoga, atau akrab disapa Ivo, pemain cello yang sukses menjadi bagian dari Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026.

Di tengah anggapan bahwa Kota Batu lebih lekat dengan musik populer atau hiburan rakyat, Ivo memilih jalan yang berbeda. Ia jatuh cinta pada cello, instrumen musik klasik dengan karakter suara yang hangat, dalam, dan sering disebut paling mendekati suara manusia.

Lahir di Kota Batu pada 20 Juni 2005, perjalanan Ivo tidak instan. Ia mengenyam pendidikan di MI Miftahul Ulum Batu dan MTs Hasyim Asy’ari, sebelum sempat masuk jurusan broadcasting di SMKN 3 Batu. Namun, kecintaannya pada musik membuatnya mengambil keputusan besar: merantau ke SMKN 2 Kasihan (SMM) Yogyakarta, salah satu sekolah musik paling bergengsi di Indonesia.

“Awalnya berat harus meninggalkan Bumiaji dan belajar hidup mandiri di Yogyakarta. Lingkungan di rumah tentu masih asing dengan musik klasik, mayoritas menggemari musik tradisional atau pop. Tapi keluarga, terutama ayah yang juga seorang pemusik, memberikan dukungan penuh. Meskipun hanya saya yang akhirnya menekuni klasik seutuhnya,” kenang Ivo.

Kini, Ivo melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta program D4 Penyajian Musik. Baginya, cello bukan sekadar alat musik, tetapi media untuk menyampaikan emosi.

“Cello punya posisi yang sangat unik. Register suaranya berada di tengah hingga rendah. Dia menjadi jembatan penghubung yang sempurna antara viola dan contrabass. Karakter suaranya dalam, hangat, dan sangat dekat dengan human voice,” tuturnya.

Perjalanan bermusiknya dipenuhi berbagai pengalaman bergengsi. Ivo pernah mengikuti masterclass bersama dirigen Italia Beatrice Venezi, tampil dalam orkestra HUT Kemerdekaan RI ke-79 di Gedung Agung Yogyakarta, hingga dua kali mengikuti Melbourne Symphony Orchestra Youth Camp pada 2024 dan 2026.

Namanya juga sempat tampil bersama Alvin Witarsa Orchestra (Alchestra) berkolaborasi dengan Diskoria di Synchronize Fest 2025.

Lolos Gita Bahana Nusantara 2026

Puncak pencapaiannya datang saat berhasil lolos sebagai peserta Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026, ajang yang mempertemukan musisi muda terbaik dari 38 provinsi untuk tampil dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Seleksi berlangsung ketat, mulai dari tahap video hingga audisi langsung yang menguji kemampuan membaca partitur secara spontan.

“Juri memberikan partitur lagu yang sama sekali tidak saya ketahui, lalu meminta saya memainkan beberapa bagian yang ditunjuk seketika. Momen paling menegangkan adalah ketika salah satu juri ternyata musisi yang pernah bekerja sama dengan saya. Rasa grogi langsung memuncak,” cerita Ivo.

Perjuangannya berbuah manis. Ia terpilih menjadi satu-satunya wakil Kota Batu yang membawa nama Jawa Timur di GBN 2026.

Tak hanya itu, selama masa karantina, Ivo dipercaya menempati posisi strategis di deretan pemain cello sebagai kursi terdepan di samping Principal Cello, sebuah posisi yang membutuhkan ketelitian, kepemimpinan, dan konsistensi tinggi.

“Tentu ini kehormatan besar, tapi bebannya luar biasa. Sebagai principal, ketepatan tempo, arah gesekan bow, hingga interpretasi alunan lagu anggota lainnya bermula dari saya. Saya harus sangat fokus mengikuti aba-aba konduktor agar rekan-rekan seksi cello tidak bingung,” akunya.

Ingin Ubah Stigma tentang Musisi Kota Batu

Bagi Ivo, tampil di panggung nasional bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia ingin menunjukkan bahwa anak muda Kota Batu juga mampu berprestasi di jalur musik akademis.

“Saya merasa terhormat bisa membawa nama Kota Batu di tingkat nasional. Saya ingin membuktikan bahwa pemuda Batu tidak selalu identik dengan stigma musik sound horeg semata. Masih ada kami, musisi-musisi muda yang berjuang di jalur seni akademis dan siap mengharumkan nama daerah,” tegasnya.

Ia berharap kisah perjalanannya bisa menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya untuk berani mengejar mimpi, apa pun bidang yang dipilih.

“Saya berharap keberadaan saya di GBN 2026 bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda di Kota Batu. Jangan pernah malu menunjukkan bakat bermusik dan teruslah berkembang dengan tekun. Saya yakin, perwakilan Kota Batu di panggung nasional tidak akan berhenti di saya,” harapnya.(eri/bua)