Skip to main content

Malang Trend

Bantengan Nuswantara Trance Festival 2026 Pecah! Kota Batu Diserbu Ribuan Penonton, Peserta dari 5 Negara Ikut Meriahkan

Bantengan Nuswantara Trance Festival 2026 Pecah! Kota Batu Diserbu Ribuan Penonton, Peserta dari 5 Negara Ikut Meriahkan

MALANGTREND.ID – Jalanan utama Kota Batu berubah menjadi panggung budaya raksasa saat Bantengan Nuswantara Trance Festival ke-18 digelar, Minggu (2/8). Ribuan warga dan wisatawan memadati sepanjang Jalan Gajah Mada hingga Jalan Panglima Sudirman untuk menyaksikan salah satu festival budaya paling ikonik di Jawa Timur.

Dentuman kendang, gong, dan gamelan berpadu dengan suara cambuk yang menggelegar, menciptakan suasana yang penuh energi. Di tengah keramaian, para pemain Bantengan tampil totalitas. Mengenakan topeng kepala banteng, mereka menari, berlari, hingga meliuk-liuk mengikuti irama, menghadirkan atraksi yang memikat perhatian penonton.

Nuansa sakral pun semakin terasa ketika aroma kemenyan mulai memenuhi udara. Beberapa pelaku seni memasuki fase trance atau ndadi, menjadi bagian dari tradisi yang selama ini melekat dalam kesenian Bantengan.

Lebih dari 150 Kontingen Ramaikan Kota Batu

Tahun ini, antusiasme peserta meningkat tajam. Tercatat lebih dari 150 kontingen ikut ambil bagian dalam parade budaya tersebut.

Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, mulai dari Malang Raya, Mojokerto, Blitar, Kediri, Lumajang, Sidoarjo, hingga sejumlah kota lainnya.

Yang membuat festival ini semakin istimewa, gaung Bantengan kini telah menembus panggung internasional. Sebanyak 18 peserta mancanegara dari Australia, Jepang, Malaysia, Maroko, hingga Cile ikut hadir untuk merasakan langsung kemeriahan festival budaya khas Nusantara ini.

Ketua Pelaksana Bantengan Nuswantara Trance Festival ke-18, Anjani Sekar Arum, mengatakan minat wisatawan asing terhadap festival ini terus meningkat setiap tahunnya.

“Mereka yang datang tahun lalu kembali lagi dan mengajak teman-temannya. Mereka memang datang ke Kota Batu khusus untuk menyaksikan Bantengan Nuswantara. Dampaknya tentu ikut meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara saat festival berlangsung,” terang Anjani.

Digelar Mandiri, Tanpa Dana Pemerintah

Ada cerita berbeda di balik penyelenggaraan festival tahun ini. Jika sebelumnya kegiatan berlangsung dengan kolaborasi bersama pemerintah, edisi ke-18 justru digelar secara mandiri oleh komunitas pecinta Bantengan.

Pemerintah daerah hanya memberikan izin penyelenggaraan, sementara seluruh kebutuhan operasional ditanggung melalui swadaya komunitas dan masyarakat.

“Tahun ini benar-benar digelar oleh masyarakat Bantengan sendiri. Yang ikut lebih dari 150 peserta dari berbagai daerah, ditambah peserta dari luar negeri,” ujar Anjani.

Ia juga menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak mengurangi semangat para pelaku seni untuk terus melestarikan budaya leluhur.

“Kegiatan ini murni swadaya masyarakat. Tidak ada dukungan dana dari pemerintah. Namun, semangat para seniman tidak pernah surut. Yang paling penting bagi kami, budaya tetap hidup dan ekonomi masyarakat ikut bergerak,” imbuhnya.

Ribuan Penonton dan UMKM Jadi Bukti Kesuksesan Festival

Meski panitia telah mengundang sejumlah pejabat sejak awal rangkaian acara, tidak ada perwakilan pemerintah yang hadir saat parade puncak berlangsung.

Namun, bagi panitia dan komunitas Bantengan, hal itu bukan ukuran utama keberhasilan festival.

Kesuksesan justru terlihat dari membludaknya penonton yang memenuhi sepanjang rute parade. Di sisi lain, para pelaku UMKM yang berjualan di sekitar lokasi juga ikut merasakan dampak positif karena ramainya pengunjung.

Bukan Sekadar Festival, Tapi Ruang Melestarikan Budaya

Parade kolosal pada Minggu menjadi puncak dari rangkaian acara yang telah berlangsung beberapa hari sebelumnya. Festival diawali dengan Award Night sebagai bentuk penghormatan kepada para sesepuh Bantengan Nuswantara.

Agenda kemudian berlanjut dengan pertunjukan seniman nasional dan internasional, kegiatan budaya di Kecamatan Pujon, hingga ditutup dengan parade akbar ribuan seniman di pusat Kota Batu.

Agar seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang sama, panitia membatasi durasi penampilan setiap kontingen sekitar dua menit di depan panggung utama. Skema tersebut membuat jalannya parade tetap tertib sekaligus nyaman dinikmati ribuan penonton.

Bagi komunitas Bantengan, festival ini bukan hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda dan masyarakat dunia.

Melihat antusiasme peserta maupun penonton yang terus meningkat setiap tahun, Anjani optimistis masa depan kesenian Bantengan akan semakin cerah.

“Perkembangannya luar biasa. Ini membuktikan masyarakat semakin peduli untuk menjaga budaya asli Nusantara,” pungkasnya. (eri/bua)