MALANGTREND.ID, BATU – Biasanya pameran seni identik dengan galeri, ruang putih, dan karya yang terpajang rapi di dinding. Tapi Pemuda Bundle justru mengambil jalan berbeda.
Kolektif seni ini menghadirkan pameran bertajuk Panen Tiga Jalan langsung di tengah perkampungan warga. Bukan sekadar pindah venue, konsep ini menjadi bagian dari upaya mereka membawa seni agar lebih dekat dengan masyarakat.
Dalam pameran tersebut, Pemuda Bundle berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya, melibatkan Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Seni Rupa, dan Program Studi Antropologi melalui program PISN dari Kemenristekdikti.
Yang bikin pameran ini makin unik, karya yang ditampilkan berangkat dari folklor atau cerita rakyat lokal yang sebelumnya dikaji melalui riset. Hasil riset tersebut kemudian diolah menjadi karya instalasi yang memadukan cahaya dan suara.
Konsep ini sekaligus menjadi gebrakan dari format pameran konvensional yang selama ini identik dengan white cube atau galeri berdinding putih.
Anggota Pemuda Bundle, Ardi Prain, menjelaskan bahwa proses kreatif dalam Panen Tiga Jalan menjadi pengalaman baru bagi para perupa yang sebagian besar terbiasa bekerja menggunakan media kanvas.
Ada tiga tahapan utama yang mereka jalani, yakni Temuan, Ramuan, dan Jamuan.
Tahap Temuan dilakukan dengan menggali berbagai folklor yang berkembang di Kota Batu, terutama cerita yang memiliki keterkaitan dengan isu lingkungan.
Kemudian masuk tahap Ramuan, yakni mengolah hasil riset tersebut menjadi ide dan konsep karya.
Terakhir, Jamuan menjadi tahap ketika folklor yang telah diolah dipresentasikan dalam bentuk instalasi spasial dengan kombinasi elemen cahaya dan suara.
“Pengerjaannya sangat berbeda dengan praktik seni sebagian besar dari kami yang mayoritas pelukis. Di sini kami ditantang bermain dengan media baru seperti cahaya dan suara. Formatnya pun satu ruang satu karya yang dikerjakan secara berkelompok, dan tempatnya langsung di perkampungan warga, yaitu di Jalan Terusan Bejo, Kaliputih, Kelurahan Sisir,” ungkap Ardi.
Pemilihan kampung sebagai lokasi pameran juga bukan tanpa alasan. Pemuda Bundle ingin membuat seni terasa lebih dekat dan accessible bagi masyarakat, bukan hanya dinikmati oleh mereka yang biasa datang ke ruang-ruang seni.
Bagi mereka, seni rupa juga bisa menjadi medium untuk merespons berbagai persoalan yang terjadi di sekitar, mulai dari isu lingkungan, sosial, hingga ekonomi.
Ke depan, Pemuda Bundle berharap ekosistem seni rupa di Kota Batu bisa terus berkembang dan semakin kuat.
Dengan mengandalkan semangat pertemanan serta keterbukaan dalam berkarya, mereka ingin menjadikan Pemuda Bundle sebagai ruang yang fun untuk berekspresi, bereksperimen, sekaligus menyuarakan berbagai keresahan yang dirasakan bersama. (eri/van)





