Skip to main content

Malang Trend

Gempa Flores M7,7 Bikin 40 Ribu Warga Mengungsi, 70 Orang Meninggal Dunia

Gempa Flores M7,7 Bikin 40 Ribu Warga Mengungsi, 70 Orang Meninggal Dunia
RUSAK BERAT: Foto udara bangunan yang rusak akibat gempa di kawasan Reo Kabupaten Manggarai, NTT. Antara Foto/Fikri Yusuf

MALANGTREND.ID – Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggalkan duka mendalam. Hingga Selasa (18/8), tercatat 70 orang meninggal dunia dan 132 lainnya mengalami luka-luka.

Direktur Operasi Badan SAR Nasional (Basarnas) Laksamana TNI Bramantyo mengatakan, total korban yang tercatat hingga hari ketiga penanganan mencapai 202 orang. Rinciannya, 70 meninggal dunia dan 132 mengalami luka-luka.

Dari jumlah korban luka tersebut, 40 orang mengalami luka berat dan 92 lainnya luka ringan.

“Sampai dengan hari ketiga kemarin pukul 23.30 telah kami kumpulkan total korban adalah 202 orang. Kemudian meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang yang kami catat. Kemudian luka berat 40, luka ringan 92,” ujar Bramantyo dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (18/8) kemarin.

Memasuki hari keempat, Tim SAR lebih banyak melakukan penyisiran di sejumlah wilayah terdampak.

Bramantyo menyebut, fokus pencarian kini diarahkan pada penyisiran. Berdasarkan laporan dan informasi dari masyarakat, sejauh ini tidak ada lagi korban yang dilaporkan masih dalam pencarian.

40 Ribu Warga Mengungsi

Di sisi lain, jumlah warga yang mengungsi akibat gempa juga terus menjadi perhatian. Pejabat Pelaksana Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyebut jumlah pengungsi sementara mencapai 40.040 jiwa.

Namun, angka tersebut tidak semuanya berada di posko pengungsian resmi pemerintah.

Di Manggarai Timur, misalnya, sebanyak 966 orang tercatat mengungsi di posko BPBD, sementara sekitar 14.000 orang memilih mengungsi secara mandiri.

“Data sementara pengungsi saat ini yang kami kumpulkan ada 40.040 jiwa sekali lagi data pengungsi itu sebesar 40.040 jiwa. Ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, jadi perlu kita hati-hati untuk menerjemahkannya. Namun ini karena banyaknya dampak psikologis yang dirasakan oleh warga,” ujar Berton.

Artinya, angka pengungsi tersebut tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah rumah yang rusak. BNPB menilai faktor psikologis pascagempa juga membuat banyak warga memilih meninggalkan rumah dan mencari tempat yang dianggap lebih aman.

Kemensos Pastikan Pengungsi Tak Kelaparan

Sementara itu, Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan kebutuhan dasar para penyintas tetap terpenuhi. Lebih dari 31 ribu warga terdampak gempa M7,7 di NTT mendapat dukungan logistik selama masa pengungsian, baik di posko terpusat maupun lokasi pengungsian mandiri.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan, Kemensos telah menyalurkan dukungan logistik senilai lebih dari Rp14 miliar. Bantuan tersebut antara lain berupa 48 ton beras reguler dan 7.500 paket sembako.

“Ada 31.000 lebih orang yang mengungsi. Per hari ini sudah ada Rp14 miliar lebih dukungan dari Kementerian Sosial,” katanya.

Kemensos juga mendirikan tujuh dapur umum yang dikelola tim Tagana untuk memenuhi kebutuhan makanan warga selama masa tanggap darurat.

Dapur umum tersebut tersebar di Manggarai, Sikka, Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, dan Ngada.

Beberapa dapur umum bahkan sudah memproduksi ribuan paket makanan setiap hari. Di Nagekeo, misalnya, sekitar 2.000 bungkus makanan diproduksi per hari, Sikka 4.500 bungkus, dan Manggarai 3.000 bungkus. Sementara wilayah lainnya masih terus dikebut penjangkauannya.

Bantuan Rp14 miliar tersebut tidak hanya untuk kebutuhan pangan. Kemensos juga menyiapkan buffer stock logistik serta berbagai kebutuhan pengungsian, mulai dari makanan anak, tenda keluarga, tenda serbaguna, kasur, selimut hingga peralatan penerangan darurat.

“Kementerian Sosial bekerja sama dengan pemerintah daerah, TNI-Polri di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Kami berkoordinasi, berkolaborasi memastikan bahwa seluruh dukungan bisa sampai kepada mereka atau keluarga yang terdampak. Termasuk dapur darurat masyarakat juga pasokan logistiknya kami dukung, dicukupi,” kata dia.

Di tengah situasi yang masih dalam masa tanggap darurat, proses penanganan terus dilakukan. Tim SAR fokus melakukan penyisiran, sementara pemerintah dan relawan berupaya memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap aman. (sua/ntr/bua)