Skip to main content

Malang Trend

Harga Daging Sapi Ngegas ke Rp 160 Ribu, Pemkot Malang Siapkan Langkah Darurat

Harga Daging Sapi Ngegas ke Rp 160 Ribu, Pemkot Malang Siapkan Langkah Darurat
HARGA NAIK: Harga daging sapi di pasar tradisional dilaporkan mengalami kenaikan cukup signifikan.

MALANGTREND.ID – Harga daging sapi di Kota Malang lagi bikin dompet waswas. Dalam beberapa pekan terakhir, harganya terus merangkak naik hingga menyentuh Rp160 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal yang biasanya berkisar Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mulai menyiapkan langkah antisipasi. Jika kenaikan harga terbukti terjadi secara merata dan berpotensi memicu inflasi, pemerintah siap melakukan intervensi agar harga kembali stabil.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, saat ini Pemkot masih menunggu data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) sebelum mengambil keputusan. Setelah itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan turun langsung untuk mengecek kondisi di lapangan.

Apabila situasi dinilai mendesak, Pemkot siap memanfaatkan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebagai salah satu instrumen pengendalian inflasi.

“Bisa sekali. Nanti dengan BTT, itu kami diperbolehkan. Malah kami ada bobot karena untuk menekan inflasi, kami menggunakan BTT agar daya beli masyarakat terjangkau,” ujar Wahyu, Rabu (5/8).

Opsi Datangkan Sapi Hidup dan Maksimalkan WTI

Salah satu skenario yang sedang dipertimbangkan adalah mendatangkan sapi hidup untuk menambah pasokan daging di pasaran. Harapannya, stok yang bertambah bisa membantu menurunkan harga sehingga tetap ramah di kantong masyarakat.

Selain itu, Pemkot Malang juga memiliki program Warung Tekan Inflasi (WTI) yang selama ini digunakan untuk menjaga stabilitas harga sejumlah kebutuhan pokok. Program tersebut juga berpotensi dimanfaatkan apabila lonjakan harga daging sapi terus berlanjut.

Meski begitu, Wahyu menegaskan pemerintah tidak ingin buru-buru mengambil langkah sebelum mengetahui penyebab utama kenaikan harga.

Menurutnya, perlu dipastikan lebih dulu apakah lonjakan harga terjadi di seluruh pasar tradisional di Kota Malang atau hanya di beberapa lokasi tertentu.

“Kami juga ada Warung Tekan Inflasi (WTI). Bisa saja nanti WTI dimanfaatkan untuk itu. Kami lihat dulu di lapangan, kami pelajari dulu. Kalau hanya di satu pasar saja, kami pelajari kenapa bisa seperti itu, sehingga tidak bisa serta merta,” pungkasnya.

Berbeda dengan tren pada tahun-tahun sebelumnya, harga daging sapi tahun ini justru tetap tinggi setelah Iduladha. Kondisi ini menjadi perhatian Pemkot Malang karena berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat sekaligus mendorong kenaikan inflasi daerah apabila tidak segera dikendalikan.(ian/bua)