Stadsklock yang ada di Kayutangan Utara bisa menjadi daya tarik wisatawan datang ke Kayutangan Utara yang saat ini belum ramai. (Firman/MT)
MALANGTREND.ID – Kawasan Kayutangan Heritage sisi utara dinilai masih menyimpan banyak potensi wisata yang belum tergarap maksimal. Untuk menghidupkan kawasan tersebut, muncul usulan pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sekabrom Heritage yang diharapkan mampu mendorong pengembangan wisata berbasis sejarah sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
Usulan itu disampaikan Penasihat Arsitektur Tata Kota sekaligus Penggagas Kampung Kayutangan Heritage, Ir. Budi Fathony. Menurutnya, kawasan utara Kayutangan memiliki banyak aset bersejarah yang bisa menjadi daya tarik wisata jika dikelola dengan baik.
Mulai dari pintu air bersejarah, rumah-rumah lawas, bangunan cagar budaya, koleksi pernak-pernik pecah belah, hingga Monumen Stadsklok yang menjadi salah satu ikon kawasan.
“Karakter heritage-nya tetap harus dipertahankan, tetapi bagaimana menciptakan UMKM juga harus dibimbing dulu. Saya mengusulkan pembentukan Pokdarwis Sekabrom Heritage, singkatan dari Semeru, Kayutangan, Bromo. Istilah Sekabrom ini dulu sudah dikenal dan cukup keren,” ujar Budi, Minggu (11/10).
Budi menjelaskan, gagasan pengembangan Kayutangan sisi utara sebenarnya sudah muncul sejak sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan pengurus RW setempat. Namun, rencana tersebut belum berjalan maksimal karena belum mendapat dukungan yang cukup aktif dari wilayah.
Selain menghadirkan UMKM kreatif, ia menilai kawasan ini juga berpotensi menjadi lokasi berbagai event yang mampu menarik wisatawan.
“Stadsklok itu punya daya tarik yang bagus. Kalau untuk event, bisa memanfaatkan Hotel Trio. Halamannya luas dan parkirnya tidak mengganggu,” katanya.
Meski begitu, Budi mengingatkan agar pengembangan tidak hanya berfokus pada koridor jalan utama, tetapi juga menghidupkan aktivitas di dalam kampung. Menurutnya, konsep tersebut menjadi pembelajaran dari pengembangan Kayutangan sisi selatan.
Ia menilai sejumlah elemen yang dibangun sebelumnya kurang selaras dengan karakter heritage, termasuk hadirnya lampu bernuansa keraton Jawa. Selain itu, persoalan parkir liar yang memenuhi badan jalan juga dinilai mengurangi kenyamanan kawasan.
“Dulu konsepnya bukan ramai di depan dulu. Tidak boleh ada parkir di sepanjang koridor. Harus ada sentral parkir, misalnya di Stadion Gajayana, Jalan Kelud, atau Hotel Trio. Jadi orang bisa berjalan kaki menikmati kawasan,” jelasnya.
Karena itu, Budi menilai penguatan sumber daya manusia (SDM) harus menjadi langkah pertama sebelum pengembangan fisik dilakukan. Pembinaan masyarakat dinilai penting agar mampu melahirkan UMKM kreatif yang menjadi identitas baru Kayutangan sisi utara.
“Tinggal bagaimana UMKM itu dibimbing, termasuk membentuk Pokdarwis Sekabrom. Semangat saja. Sekarang saatnya kawasan utara ini diberi kesempatan untuk tumbuh,” pungkasnya. (ian/bua)




