Skip to main content

Malang Trend

Malang Lagi Gerah Banget! BMKG Ungkap Penyebab Suhu Panas Tembus 35 Derajat

Malang Lagi Gerah Banget! BMKG Ungkap Penyebab Suhu Panas Tembus 35 Derajat

MALANGTREND.ID – Belakangan ini warga Malang Raya dibuat gerah karena cuaca terasa jauh lebih panas dari biasanya. Berdasarkan data BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, suhu udara di wilayah Malang Raya pada 6 Oktober 2026 tercatat berkisar 33 hingga 35,2 derajat Celsius.

Kondisi ini dipengaruhi oleh gerak semu matahari yang sedang berada tepat di atas wilayah ekuator dan Jawa Timur. Selain itu, fenomena El Nino juga membuat musim kemarau berlangsung lebih lama sehingga suhu udara terasa semakin menyengat.

Meski begitu, BMKG menjelaskan bahwa suhu yang tercatat alat ukur belum tentu sama dengan suhu yang dirasakan tubuh.

Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, mengatakan tingkat kelembapan udara ikut memengaruhi sensasi panas yang dirasakan masyarakat atau yang dikenal sebagai effective temperature.

“Jadi di Surabaya suhu 36 derajat, tapi badan merasakan 37 derajat karena kelembapannya tidak banyak. Tapi di Malang, suhu lingkungannya 30, tapi di lingkungan menyatakan 35, lah itu kan juga ada kenyamanan tubuh,” jelas Anung.

Ia menambahkan, meskipun sedang mengalami cuaca panas, suhu di Malang masih relatif lebih rendah dibandingkan beberapa daerah lain di Jawa Timur.

“Jadi Malang itu tetap lebih dingin dong ketimbang Lamongan, Tuban, atau Bojonegoro,” sebut dia.

Dinkes Minta Warga Hindari Aktivitas Saat Matahari Lagi Terik

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr. Husnul Muarif, mengimbau masyarakat agar lebih bijak mengatur aktivitas di luar ruangan.

Ia menyarankan warga menghindari paparan sinar matahari langsung, terutama saat suhu berada di puncaknya, sekitar pukul 11.00 hingga 15.00 WIB.

“Usahakan kalau di luar ruangan, waktunya harus direncanakan. Artinya kalau yang sudah mencapai puncak suhu panas antara mungkin jam 11.00 sampai jam 15.00 itu mungkin kegiatan di luar ruangan bisa dihindari ya,” imbau Husnul.

Jangan Lupa Masker dan Banyak Minum

Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, Husnul mengingatkan pentingnya menggunakan pelindung diri, termasuk masker, untuk mengurangi paparan debu yang mudah beterbangan saat cuaca panas.

Selain itu, tubuh juga membutuhkan asupan cairan yang cukup agar tidak mengalami dehidrasi.

“Kenapa masker? Karena kalau sudah panas, ini kan gampang debu-debu partikel-partikel juga akan berterbangan apalagi ketambahan sama angin ya. Kemudian karena panas itu akan membuat dehidrasi, maka kebutuhan nutrisi terutama cairan harus cukup,” tuturnya.

Cuaca Panas Bisa Picu ISPA

Menurut Husnul, meningkatnya debu di udara saat cuaca panas juga dapat memicu gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) serta iritasi pada tenggorokan dan hidung.

“ISPA maupun saluran makanan bagian atas juga ya. Seperti serik (nyeri) tenggorokan atau flu, atau rasa kering nyeri di hidung itu merupakan salah satu yang dirasakan manakala kita terpapar cuaca panas itu terlalu lama itu. Tapi kalau nanti sudah normal, suhu biasa-biasa, insya Allah tidak,” tutupnya.

Dengan kondisi cuaca yang masih didominasi musim kemarau, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan, memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, serta mengurangi paparan sinar matahari pada jam-jam terpanas.(ian/bua)