Skip to main content

Malang Trend

Musim Kemarau Tekan Bendungan Sutami, Debit Air Turun tapi Pasokan Masih Aman

Musim Kemarau Tekan Bendungan Sutami, Debit Air Turun tapi Pasokan Masih Aman
TURUN DEBIT AIR: Bendungan Sutami atau Bendungan Karangkates di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang mengalami penurunan debit air. (Ist/Mt)

MALANGTREND.ID – Musim kemarau mulai terasa dampaknya di Kabupaten Malang. Salah satu indikatornya terlihat dari penurunan elevasi Bendungan Sutami, yang menjadi sumber penting pasokan air sekaligus pembangkit listrik di wilayah hilir Sungai Brantas.

Meski begitu, masyarakat belum perlu khawatir. Perum Jasa Tirta (PJT) I memastikan kondisi waduk masih aman dan mampu memenuhi kebutuhan air baku, irigasi, industri, hingga operasional pembangkit listrik.

Berdasarkan data PJT I per Rabu (26/8), elevasi Bendungan Sutami berada di +269,02 meter. Angka tersebut sekitar 80 sentimeter di bawah pola operasi yang ditargetkan, yakni +269,82 meter.

Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air Brantas 1 PJT I, Arief Satria Marsudi, menjelaskan penurunan ini dipicu oleh debit air yang masuk (inflow) ke waduk yang lebih kecil dari perkiraan.

“Kondisi inflow Bendungan Sutami tercatat di bawah 49 meter kubik per detik, sementara dalam pola operasi direncanakan sekitar 58 meter kubik per detik,” ujar Arief.

Meski debit air masuk menurun, PJT I tetap mengatur pelepasan air (outflow) secara ketat agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Pengoperasian waduk dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi tampungan, kebutuhan air di wilayah hilir, sektor pertanian, industri, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

“Operasional turbin PLTA masih dapat dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan air di wilayah hilir dan kondisi tampungan waduk,” jelasnya.

Arief mengakui, berkurangnya debit air membuat produksi listrik PLTA belum bisa mencapai target. Namun, menurutnya hal itu merupakan konsekuensi agar pasokan air untuk masyarakat tetap menjadi prioritas utama.

“Prioritas utama dalam pengoperasian waduk adalah menjaga keseimbangan pemenuhan kebutuhan air untuk berbagai kepentingan,” terangnya.

PJT I Siapkan Antisipasi hingga Operasi Modifikasi Cuaca

Menghadapi musim kemarau yang masih berlangsung, PJT I juga telah berkoordinasi dengan BMKG terkait kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Berdasarkan hasil koordinasi awal, OMC diperkirakan baru berpotensi dilakukan saat memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, sekitar Oktober 2026.

“PJT I akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi kondisi waduk secara berkala serta menyesuaikan pola operasi dengan perkembangan kondisi hidrologi dan kebutuhan air di wilayah hilir,” katanya.

Bendungan Selorejo Justru Masih Melimpah

Di saat Bendungan Sutami mengalami penurunan elevasi, kondisi berbeda justru terjadi di Bendungan Selorejo.

Per 26 Agustus, elevasi Bendungan Selorejo tercatat mencapai +619,68 meter, atau sekitar 1,60 meter lebih tinggi dibanding pola operasi yang berada di level +618,08 meter.

“Kondisi Waduk Selorejo relatif lebih baik. Elevasi waduk tercatat sebesar +619,68 meter, atau sekitar 160 cm di atas pola rencana +618,08 meter,” ungkap Arief.

Dengan kondisi tersebut, stok air di Bendungan Selorejo diperkirakan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah hilir hingga akhir musim kemarau tahun ini.

Perbedaan kondisi antara Bendungan Sutami dan Selorejo menunjukkan bahwa situasi hidrologi di wilayah Brantas tidak selalu sama. Karena itu, pengelolaan debit air dan tampungan waduk menjadi langkah penting agar pasokan air tetap aman selama musim kemarau. (ira/bua)