Skip to main content

Malang Trend

Nostalgia di Langit Malang! Sky Fest 2026 Bikin Layang-Layang Kembali Hits

Nostalgia di Langit Malang! Sky Fest 2026 Bikin Layang-Layang Kembali Hits
TERBANG : Peserta menerbangkan layangan hias karakter Doraemon di Lapangan Gadang, Kota Malang. (MPM- M Firman)

MALANGTREND.ID – Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 resmi berakhir pada Minggu (9/8). Selama dua hari penyelenggaraan, festival layang-layang yang digelar di Lapangan Layang-Layang Gadang, Kota Malang, sukses menghidupkan kembali permainan tradisional yang mulai jarang ditemui di era serba digital.

Sebanyak 70 pelayang dari 20 komunitas se-Malang Raya, ditambah peserta dari Surabaya dan Tulungagung, ikut memeriahkan festival perdana ini. Berbagai agenda digelar, mulai dari lomba sambitan, atraksi layang-layang hias, lomba konten video, pameran UMKM, hingga pembagian doorprize.

Di tengah dominasi gadget dan media sosial, MSSF 2026 menjadi bukti kalau bermain layang-layang masih punya tempat di hati masyarakat, bahkan lintas generasi.

Pejabat Ikut Main Layangan, Auto Nostalgia

Sejumlah pejabat turut hadir dan ikut menerbangkan layang-layang, di antaranya Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi, Kapolsek Sukun Kompol Ryan Wahyuningtyas, Kadiskominfo Kota Malang M. Nur Widiyanto, anggota DPRD Kota Malang, hingga pengurus KONI dan KORMI Kota Malang.

Bagi Ali Muthohirin, pengalaman itu seperti membawa kembali kenangan masa kecil.

“Rasanya kembali ke masa kecil. Dulu, main layangan ini sangat membahagiakan bagi kita,” katanya.

Ia berharap permainan tradisional ini bisa kembali dikenal oleh generasi muda sebagai alternatif aktivitas positif di tengah kebiasaan bermain gadget.

“Tentu kami juga ingin mengenalkan mainan ini bagi generasi selanjutnya, bahwa layangan ini permainan yang asyik di tengah perkembangan teknologi yang mengharuskan anak-anak selalu megang gadget. Ini bagian terpenting untuk mengalihkan itu semua sehingga anak-anak lebih produktif dan lebih berkegiatan yang positif lagi,” sambung Ali.

Bukan Cuma Seru, UMKM Ikut Kecipratan Rezeki

Menurut Ali, festival ini bukan hanya menjadi wadah bagi komunitas pelayang, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi masyarakat lewat keterlibatan pelaku UMKM, mulai dari kuliner, minuman, aksesori hingga penjual layang-layang.

Selain menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, MSSF 2026 juga masuk dalam dukungan terhadap program 1.000 Event Kota Malang.

“Harapan kami ini lebih besar lagi menjadi event tahunan dan tentu bisa diperbesar lagi skalanya. Mengundang dari pihak-pihak luar sehingga tidak hanya komunitas lokal yang ikut mengikuti perlombaan layangannya,” harap Ali.

Layang-Layang Bukan Sekadar Mainan

Ketua MSSF 2026, Deny Rahmawan, mengatakan festival ini dirancang bukan hanya sebagai ajang lomba, tetapi juga ruang edukasi, silaturahmi, sekaligus regenerasi komunitas layang-layang.

”Selain lomba sambitan, kemudian juga ada pertunjukan layangan hias. Melalui MSSF ini, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali mengenal, mencintai, dan melestarikan permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya bangsa,” jelas Deny.

Ia menambahkan, festival ini diharapkan bisa menjadi tempat lahirnya generasi baru pecinta layang-layang.

“Agenda ini selain menjadi pembibitan dan ajang kompetisi, juga menjadi kesempatan silaturahmi,” tegasnya.

Layang-Layang Punya Masa Depan di Kota Malang

Ketua Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (Pelangi) Kota Malang, Mohammad Saiful Hamzah, menilai festival seperti ini penting untuk menjaga regenerasi pegiat layang-layang sekaligus melestarikan budaya tradisional.

Sementara itu, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi mengaku senang bisa kembali bermain layang-layang setelah sekian lama.

“Mari kita hidup bahagia salah satunya dengan merefleksikan dan flashback lagi masa kecil dengan berlayang-layang. Kami ucapkan selamat kepada panitia, mudah-mudahan di event berikutnya makin sukses, makin ramai, Kota Malang makin mbois,” katanya.

Ketua KORMI Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, berharap ke depan festival ini juga memperbanyak kategori layang-layang hias, karena memiliki nilai seni dan kreativitas yang tinggi.

“Kali ini kan lebih banyak sambitan, kedepan bisa ditambah yang layangan hias. Ini awal sudah bagus, sambutan ada, layang layang hias ada, komunitasnya bisa berkembang lebih baik,” tuturnya.

Meski begitu, ia mengingatkan masih ada tantangan yang harus dihadapi, yakni semakin terbatasnya lahan terbuka untuk bermain layang-layang di Kota Malang.

“Kalau pemerintah mempertahankan kawasan tersebut sebagai kawasan pertanian, saya kira masih bisa dipakai untuk venue layang-layang. Maka harapannya ya tetap dipertahankan sebagai kawasan pertanian, sehingga begitu selesai panen, bisa ada lomba layang layang,” tutupnya. (ian/bua)