MALANGTREND.ID – Hari Kamis, 1 Oktober 2026, tepat empat tahun Tragedi Kanjuruhan yang akhirnya merenggut 135 nyawa. Peristiwa usai laga Arema FC vs Persebaya itu menghebohkan sepakbola dunia, serta menyisakan luka dan trauma yang mendalam. Kini, semua pihak, khususnya Tim Singo Edan coba bangkit melawan rasa trauma itu.
“Kalau dari sisi klub, melihat ya memang trauma itu masih ada, mungkin ya. Terutama dari sisi keluarga korban. Cuma kita melihatnya itu secara luas ya. Karena tragedi itu jangan sampai memberhentikan roda yang lain. Tanpa mengurangi rasa hormat, ya seiring dengan waktu itu harusnya jauh lebih baik, kita menyikapi itu daripada tahun-tahun sebelumnya. Ini kan sudah 4 tahun,” ungkap General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi.
“Mungkin sudah waktunya kita bergerak maju lagi, berjalan lagi, berlari lagi untuk Malang Raya. Karena hampir setelah tragedi itu sepertinya ekonomi di sekitar Kanjuruhan, apapun kegiatan itu seakan-akan berhenti. Jadi, ini dari sisi kita ya, dari sisi klub. Melihat itu, sayang sekali kalau misalkan kita harus berhenti. Makanya salah satu tujuan kita mengelola Stadion Kanjuruhan juga, biar semuanya selesai,” lanjut pria yang akrab disapa Inal ini.
Diharapkannya semua bergerak lagi untuk masyarakat Malang Raya. Lantaran menurutnya tragedi itu bukan hanya untuk Arema atau suporter atau hanya keluarga korban, tapi masyarakat Malang terkena dampaknya. “Ayo, bukan hanya klub ini, Malang Raya ini juga ikut bergerak. Kita bangkit sekarang. Ayolah, ayolah. Ayo kita gerak lagi. Banyak cara untuk menyembuhkan psikologi, dengan cara apa? Ya dengan cara kita harus bergerak lagi. Maksudnya kembali lagi, kita atas nama Malang Raya ini, bukan atas nama klub Arema FC saja. Cuma di sini kita sebagai klub bola yang menaungi Kanjuruhan, kita ikut membantu itu,” yakin Inal. ikut membantu itu,” yakin Inal.
Untuk melawan trauma itu, manajemen Arema FC kini bertekad saat laga home lawan Persebaya pada 29 November mendatang bakal digelar di Stadion Kanjuruhan. Arema FC tampaknya tak mau berlama lama merasakan trauma berkepanjangan, khususnya saat berlaga lawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan.
“Oke, kita kembali normal saja. Maksudnya ini sudah waktunya, bahwa kita melaksanakan pertandingan di situ. Makanya kita tetap berusaha untuk sosialisasi, menenangkan hati, meyakinkan pihak keamanan, pihak pemerintah kabupaten, semuanyalah. Ayo kita bisa, dengan semua sistem keamanan yang udah kita bangun selama ini 3 tahun ini di stadion. Terus kita juga kerja sama dengan pihak kepolisian, keamanan, ayo bagaimana caranya kita mengamankan semuanya ini untuk Malang Raya,” terang Inal.
Misal harus tanpa supporter yang hadir, Arema FC juga siap demi memulai laga lawan Persebaya di Kanjuruhan. Lantaran laga lawan Persebaya di Kanjuruhan itu penting secara psikologis untuk mengurangi trauma yang selama ini masih mengganjal.
“Ya semogalah, apapun nanti keputusan dari pihak keamanam entah itu nanti harus tidak ada penonton atau hanya penonton kita aja, yang jelas itu harus di Kanjuruhan. Itu untuk langkah awal mungkin, dan langkah yang cukup looping nya (lompatannya) lumayan. Harapannya kita di sini, tanding lawan Persebaya,” pungkasnya. (bua)





