Warga belakangan kesulitan mencari Pertalite di Malang Raya.
MALANGTREND.ID – Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU kembali jadi pemandangan yang ramai dibicarakan warga Malang Raya. Dalam beberapa hari terakhir, banyak pengendara motor maupun mobil rela mengantre demi mendapatkan Pertalite. Bahkan, di sejumlah SPBU, stok BBM subsidi itu sempat habis.
Fenomena ini terlihat hampir merata di berbagai wilayah Malang Raya. Salah satunya di SPBU Turen yang antreannya mengular hingga memicu kemacetan dan viral di media sosial. Kondisi serupa juga terjadi di beberapa SPBU di Kota Malang.
Kelangkaan Pertalite membuat banyak warga harus berkeliling mencari SPBU yang masih memiliki stok.
“Kemarin saya cari dari Kepanjen sampai Kota Malang, Pertalite habis semua. Akhirnya baru bisa isi hari ini pas tidak terlalu ramai supaya tidak kehabisan. Jengkel juga, rasanya seperti dipaksa beli Pertamax. Padahal kemampuan saya ya beli Pertalite untuk kebutuhan sehari-hari,” keluh Wahyu Adinata, salah satu pengendara.
Berdasarkan pantauan, kondisi serupa sebenarnya juga sempat terjadi pada September lalu. Saat itu, sejumlah SPBU kehabisan Pertalite sehingga masyarakat hanya bisa membeli Pertamax. Setelah Pertamina melakukan penyesuaian distribusi, pasokan kembali berangsur normal.
Namun, beberapa hari terakhir antrean kembali terjadi, terutama di SPBU yang berada di jalur strategis. Banyak pengendara memilih mengisi BBM lebih awal karena khawatir stok Pertalite kembali habis.
Menanggapi kondisi tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa antrean terjadi karena adanya penyesuaian pola distribusi dan pengelolaan stok BBM.
Menurutnya, penyesuaian tersebut dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan rantai pasok BBM di wilayah Regional Jatimbalinus yang meliputi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
“Penyesuaian pola distribusi tidak hanya di Malang, tetapi juga mencakup rantai pasok dari sumber pasokan, baik impor maupun kilang, hingga seluruh wilayah Regional Jatimbalinus. Penyesuaian ini bersifat sementara karena adanya perubahan moda transportasi,” jelas Ahad.
Ia menambahkan, kebutuhan BBM di Malang memang tergolong tinggi sehingga distribusi harus diatur secara cermat. Pada September lalu, konsumsi BBM di Malang tercatat mencapai sekitar 720 kiloliter per hari.
Untuk menjaga ketersediaan stok, Pertamina menjadwalkan pengiriman BBM dari Surabaya ke Malang secara bertahap. Distribusi dilakukan tiga kali sehari, yakni sekitar pukul 01.00 WIB, 07.00 WIB, dan 13.00 WIB.
Dua pengiriman pertama membawa Pertamax, Pertalite, dan Biosolar. Sementara pengiriman ketiga mengangkut Pertamax dan Pertalite. Khusus akhir pekan, jumlah distribusi ditambah menjadi empat ritase guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, Fuel Terminal (FT) Malang juga beroperasi selama 24 jam untuk memastikan proses distribusi berjalan lancar.
Pertamina memastikan terus memantau kondisi di lapangan dan melakukan evaluasi agar pasokan BBM tetap terjaga. Masyarakat juga diimbau membeli BBM sesuai kebutuhan serta memperoleh informasi resmi melalui kanal Pertamina agar tidak mudah terpengaruh isu yang belum terverifikasi.(ian/bua)





