Disabilitas Fisik Asal Lawang Kembangkan Usaha Kopi dan Kripik Singkong
Di sebuah rumah sederhana di Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang, aroma kopi robusta dari Lereng Arjuno menyeruak setiap pagi. Di balik aroma itu, ada sepasang tangan yang bekerja pelan, tapi pasti. Jari-jemari yang tak bisa lurus itu milik Munir, 34 tahun, penyintas kusta yang kini dikenal sebagai wirausahawan kopi dan keripik singkong.
MALANGTREND.COM– Keterbatasan justru sebagai pelecut semangat Munir untuk berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pria sosok sederhana ini membuat produk UMKM berupa kopi bubuk dan keripik singkong dalam kemasan.
Pria berusia 34 tahun tersebut kerap mengikuti pameran atau bazar produk UMKM seperti di kampus-kampus, Malang Creative Center (MCC) Kota Malang, dan di acara lembaga pemerintahan. Munir juga kerap diundang mengikuti bazar UMKM di kampungnya. Bahkan, mahasiswa pernah mendatangi rumahnya untuk mengetahui proses pengolahan kopi dari awal hingga siap dijualbelikan.
Produk kopi Munir diambil dari Lereng Gunung Arjuno dengan jenis kopi robusta. Produknya sempat terjual habis dua kilogram (kg) saat mengikuti bazar UMKM di MCC Kota Malang Lantai II, beberapa waktu lalu.
Jumlah tersebut dalam setiap kemasan berisi 50 gram menjadi 34 bungkus plastik. Ia juga melayani pesanan dalam jumlahnya banyak. Ia mengelola usaha UMKM ini seorang diri, namun terkadang dibantu oleh keluarganya.
Meskipun Munir baru satu tahun menggeluti wirausaha, namun ia terus mengembangkan dan berharap bisa memiliki sarana prasarana lebih canggih untuk mengelola produknya, termasuk toko.
Munir kini menjadi salah satu anggota Lingkar Sosial (Linksos). Komunitas ini berfokus pada pemenuhan hak dan pemberdayaan disabilitas Malang Raya hingga luar daerah. Munir menyampaikan, keterbatasan fisik yang dialaminya berawal dari penyakit kusta. Awalnya ia mengira tidak berbahaya. Namun ternyata ia mendengar keterangan dokter bahwa, penyakit kusta menyerang tulang dari dalam. “Akhir 2002 saat saya periksa baru tahu kalau penyakit kusta dan berdampak ke fisik, tangan saya gak bisa lurus,” kata Munir saat ditemui beberapa waktu lalu.
Awalnya, jari jemarinya tidak bisa digerakkan sama sekali. Namun, setelah menjalani perawatan di RS Saiful Anwar (RSS) Kota Malang selama dua tahun, kondisinya perlahan bisa membaik. “Saya sempat tidak bekerja selama lima tahun mulai dampaknya kusta itu. Di rumah saja. Soalnya kan tidak bisa ngapa-ngapain karena kondisi fisik tidak bisa untuk mengerjakan sesuatu,” ucap Munir.
Ia mengatakan, orang tuanya telah berjualan kopi dengan berkeliling terlebih dahulu. Namun, Munir bisa membantu dari segi produksi di rumah. Munir juga awalnya tidak bisa mengendarai sepeda motor. Ia mengikuti kegiatan UMKM dengan menaiki angkot, termasuk menuju kegiatan di Linksos. “Tapi sekarang saya sudah bisa naik motor setelah adanya tes dari RSSA harus bisa naik motor. Akhirnya saya berani,” ujarnya.
Setelah bisa beraktifitas di luar rumah dengan lebih baik, akhirnya Munir menggantikan orang tuanya berjualan, termasuk melalui online. Hal ini juga melihat orang tuanya semakin menua.
Munir melihat peluang dengan banyaknya penjualan barang melalui online. Ia pun mengikuti perkembangan dengan memasarkan produknya melalui online tanpa harus berkeliling berjualan.
“Sebelumnya orang tua saya berjualan keliling di daerah Pasar Lawang menjual kopi bubuk,” lanjutnya.
Selain aktif mengikuti bazar, Munir juga kini aktif mengikuti pelatihan UMKM, termasuk bersama disabilitas lainnya yang tergabung dalam Linksos. “Saya memilih berusaha UMKM karena dari kondisi fisik tidak memungkinkam untuk pekerjaan yang lebih keras,” lanjutnya.
Munir menambahkan, dari penjualan produk UMKM nya bisa mendapat omzet kisaran Rp 2 juta per bulan. Dalam seminggu selalu ada orang yang memesan produknya. “Dengan kondisi saat ini, saya harus menjalani dengan semangat dan berharap UMKM saya semakin berkembang, punya toko dan alat-alat bisa terpenuhi,” tutupnya. (den/udi)