Ketika berbicara tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, perhatian kita sering tertuju pada peristiwa-peristiwa besar yang tercatat dalam buku pelajaran—Proklamasi 17 Agustus 1945, Pertempuran Surabaya, atau Konferensi Asia-Afrika. Namun, di balik narasi besar itu, ada ribuan kisah perjuangan lokal yang tidak kalah heroik, salah satunya adalah perjuangan Laskar Sabilillah di Malang.
Laskar Sabilillah merupakan barisan rakyat yang berakar dari pesantren dan organisasi Islam, yang digerakkan oleh semangat jihad dalam mempertahankan kemerdekaan. Mereka bukan tentara reguler, melainkan kumpulan rakyat yang rela berkorban demi keyakinan bahwa kemerdekaan adalah amanah Tuhan. Namun, seiring waktu, kisah mereka mulai jarang terdengar, terutama di kalangan generasi muda yang lebih akrab dengan layar gawai daripada buku sejarah.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi kami, tim peneliti dari Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) untuk melakukan penelitian bertajuk “Pengembangan E-Modul Berbasis Autoplay tentang Perjuangan Laskar Sabilillah Malang dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia untuk Menunjang Pemahaman dan Kesadaran Sejarah Siswa SMA Islam Sabilillah Malang.”
Penelitian ini diketuai oleh Prof. Dr. Joko Sayono, M.Pd., M.Hum., dengan anggota Dr. Reza Hudiyanto, M.Pd., dan Arif Pandu Winata, S.Pd., mahasiswa Magister Pendidikan Sejarah UM. Penelitian ini masih dalam tahap pengembangan, dengan tujuan menghadirkan sejarah perjuangan lokal ke ruang digital agar lebih hidup, kontekstual, dan menyentuh bagi generasi Z yang lahir di era teknologi.
Sejarah yang Mulai Terlupakan
Jika kita amati, minat generasi muda terhadap sejarah kian menurun. Bagi sebagian siswa, sejarah hanyalah kumpulan tanggal dan nama tokoh yang harus dihafal menjelang ujian. Padahal, sejarah sejatinya adalah cermin nilai dan karakter bangsa. Khususnya sejarah lokal seperti perjuangan Laskar Sabilillah Malang, seringkali hanya disinggung sekilas di kelas. Padahal, kisah mereka sarat nilai religius, patriotik, dan sosial.
Sebagai laskar rakyat, mereka menunjukkan bagaimana kekuatan spiritual dapat menjadi energi perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan. Nilai-nilai inilah yang sangat relevan untuk pendidikan masa kini. Di tengah krisis moral dan lunturnya rasa kebangsaan, kisah perjuangan Laskar Sabilillah menjadi pengingat bahwa cinta tanah air lahir dari iman dan pengorbanan, bukan sekadar slogan.
Menghidupkan Sejarah dengan Teknologi Digital
Berangkat dari kesadaran itu, kami sedang mengembangkan E-Modul berbasis Autoplay sebagai media pembelajaran sejarah interaktif. Media ini tidak hanya akan menyajikan teks, tetapi juga memadukan video dokumenter, narasi suara, animasi, serta kuis reflektif berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Melalui aplikasi Autoplay Media Studio, e-modul ini dirancang agar siswa dapat belajar secara mandiri dan eksploratif. Nantinya, mereka dapat menelusuri peristiwa-peristiwa perjuangan di Malang, mengenal tokoh-tokoh penting seperti KH. Masjkur, serta menafsirkan makna jihad dalam konteks kebangsaan.
Kami berharap produk pengembangan ini menjadi inovasi dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Meski masih dalam tahap rancangan dan uji coba awal, kami optimistis e-modul ini akan meningkatkan pemahaman siswa terhadap sejarah lokal sekaligus memperkuat kesadaran sejarah (historical awareness). Guru pun akan lebih mudah menyampaikan materi dengan cara yang menarik dan sesuai karakter peserta didik abad ke-21.
Dengan demikian, belajar sejarah tidak lagi terasa membosankan. Siswa akan diajak “mengalami” sejarah secara digital—melihat, mendengar, dan memahami peristiwa perjuangan melalui pengalaman belajar yang interaktif dan bermakna.
Dari Kesadaran Sejarah ke Pembentukan Karakter Bangsa
Pendidikan sejarah tidak seharusnya berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan harus menyentuh ranah kesadaran sejarah (historical consciousness)—kemampuan memahami masa lalu untuk menafsirkan masa kini dan masa depan.
Melalui e-modul berbasis autoplay ini, kami berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa perjuangan Laskar Sabilillah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan inspirasi abadi tentang keberanian, keikhlasan, dan keteguhan iman.
Generasi muda yang memiliki kesadaran sejarah akan tumbuh menjadi pribadi yang tahu akar budayanya, menghargai jasa para pendahulu, serta memiliki kompas moral yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman. Inilah esensi pendidikan sejarah sejati—mendidik hati sekaligus pikiran.
Inovasi Pembelajaran Sejarah di Era Digital
Kita hidup di zaman ketika informasi berlimpah, tetapi makna sering menguap. Tantangan pendidikan sejarah saat ini bukan hanya bagaimana mengajar, tetapi bagaimana membuat sejarah terasa hidup dan relevan bagi siswa.
Guru tidak cukup menjadi penyampai materi, tetapi harus menjadi perancang pengalaman belajar yang kreatif dan reflektif. Teknologi digital seperti e-modul autoplay membuka peluang besar untuk itu. Dengan menggabungkan narasi, visual, dan aktivitas reflektif, sejarah dapat dipelajari secara kontekstual dan menyenangkan.
Penelitian ini diharapkan tidak hanya menghasilkan produk akademik, tetapi juga dapat diterapkan di sekolah-sekolah sebagai model pembelajaran sejarah berbasis digital yang aplikatif dan sesuai dengan semangat Merdeka Belajar.
Meneladani Laskar Sabilillah di Masa Kini
Laskar Sabilillah adalah teladan tentang keberanian spiritual yang berpadu dengan nasionalisme. Mereka berjuang bukan karena kepentingan politik, tetapi karena panggilan iman dan tanggung jawab terhadap bangsa.
Di era modern, semangat itu tetap relevan. Jika dulu mereka berperang melawan penjajah, kini generasi muda harus berjuang melawan kebodohan, kemalasan, dan degradasi moral. Bentuk perjuangan boleh berbeda, tetapi nilai-nilai yang diwariskan tetap sama: keikhlasan, keberanian, dan cinta tanah air.
Melalui pengembangan e-modul ini, kami berharap semangat itu akan terus hidup di hati siswa. Bahwa kemerdekaan bukan hanya kisah yang diceritakan, melainkan amanah yang harus dijaga.
Sejarah tidak boleh berhenti di buku pelajaran. Ia harus dihidupkan kembali dalam bentuk yang dapat disentuh, dilihat, dan dirasakan oleh generasi muda. Dengan dukungan teknologi digital, kisah perjuangan Laskar Sabilillah Malang tidak akan hilang ditelan zaman — justru akan hadir kembali, menyala dalam semangat baru di ruang-ruang kelas Indonesia.(*)