Malangtrend.com – Di tengah pesatnya laju teknologi, aroma kayu bakar dengan kepulan asap dari sebuah tungku pawon tradisional nyaris terlupakan. Anak anak muda yang hidup di era digital saat ini belum tentu tahu bagaimana bentuknya pawon serta ‘sibuknya’ aktivitas di pawon atau dapur yang memiliki kekayaan budaya di Indonesia.
Tidak hanya soal memasak hingga ritual, sejak dulu pawon menjadi tempat yang sangat penting dalam kehidupan. Begitu kayanya budaya Pawon ini, Kampung Budoyo Ketawanggede mengajak masyarakat khususnya anak muda untuk mengenal lebih jauh tentang Pawon dalam sebuah acara bertajuk Budoyo Pawon di Jalan Kerto Pamuji, Rabu (5/11).
“Kami itu wilayah yang sangat dekat dengan kampus. Anak anak mahasiswa itu rumah keduanya ya di Ketawanggede. Melalui ini, kami mengingatkan bagaimana pentingnya dapur ini. Sejarah pawon tetap dilestarikan dan anak anak tahu seperti apa misalnya Pawon ‘Cutik Geni’ itu,” jelas Yanto Catur, Ketua Kampung Budoyo Ketawanggede.
Dijelaskan Yanto, dalam tiap rumah, pawon menjadi ruang yang paling nyaman untuk menghabiskan waktu. Semua hal bisa sangat intim dibahas ketika berada di pawon. Tidak hanya itu, untuk proses memasak di pawon juga sangat menarik dilakukan dibandingkan saat ini. Oleh karenanya, pihaknya mengajak anak anak muda untuk melestarikan budaya Pawon yang menarik tersebut.
“Kalau dulu dengan pawon tradisional, harus cari kayu bakar dulu, yang basah dijemur, menyalakan api ada caranya, prosesnya panjang. Kalau sekarang kan tinggal beli gas, menyala terus selesai. Lebih bermakna dengan proses yang panjang,” jelas dia.
Yanto menyampaikan, acara Budoyo Pawon yang digelar selama dua hari hingga Kamis (6/11) tersebut juga dikonsep dengan nuansa tempo dulu. Sehingga tidak heran ketika pengunjung masuk dan mengikuti pengenalan budaya pawon itu akan lebih terasa dan mengena.
Kampung Budoyo Ketawanggede sendiri sebenarnya rutin menggelar acara budaya. Hanya saja konsepnya tiap tahun berbeda dan untuk kali ini mengangkat ‘Budoyo Pawon.’ Selain mengenalkan pawon tradisional, pihaknya juga menggelar penyuluhan halal bekerjasama dengan BPOM kepada para UMKM di sekitar.
Tidak hanya makanan halal, para UMKM juga diberi penyuluhan untuk memberikan makanan sehat. “Mahasiswa sekarang, makan terlalu banyak makanan instan. Kalau sakit, generasinya ya habis. Jadi untuk mencegah dari itu saja,” sebutnya.
Yanto berharap, melalui serangkaian acara yang ada di dalam Budoyo Pawon ini, masyarakat luas bisa ‘nguri-uri’ kekayaan budaya yang ada di Kota Malang ini. “Kami berpesan, jangan sampai meninggalkan budaya Pawon. Selain melestarikan budaya, kita juga butuh makanan sehat untuk kita dan generasi kita dengan melalui Pawon yang sehat,” pungkasnya.(ian/lim/mtc)skintoto