Air Hujan di Blimbing Mengandung Mikroplastik Tinggi
Malangtrend.com – Penelitian terbaru terhadap paparan mikroplastik di Malang perlu jadi perhatian. Sebab dari hasil penelitian terbaru yang dilakukan Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton), paparan mikroplastik sudah terkandung dalam air hujan.
Dari hasil pengumpulan sampel dan penelitian air hujan yang dilakukan tim Ecoton mulai 7 November hingga 9 November 2025, Blimbing menjadi kawasan yang memiliki kadar kandungan mikroplastik tertinggi dibanding kawasan lain di Malang.
“Tercatat dari Blimbing kandungan mijroplastiknya mencapai 98 partikel per liter. Disusul Singosari dengan 40 partikel per liter, Merjosari 33 partikel per liter, Gadang 20 partikel per liter, dan Sudimoro 11 partikel per liter,” ungkap Aleika Rahmatullah, Peneliti Ecoton, Minggu (9/11).
Dijelaskan Alek, sapaannya, penyebab utama tingginya mikroplastik di air hujan berasal dari udara. Sekitar 50 persen mikroplastik di udara dipicu oleh kebiasaan membakar sampah yang dilakukan oleh sebagian masyarakat.
Selain itu, ia menjelaskan, timbulan sampah yang hanya ditimbun tanpa pengelolaan juga berpotensi melepaskan mikroplastik ke udara ketika terkena panas. Partikel itu kemudian terbawa angin dan akhirnya bisa turun bersama air hujan.
Meski belum ada baku mutu yang menetapkan batas aman mikroplastik dalam air, namun Alek menyebut ribuan partikel mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti kanker, gangguan hormonal bagi wanita hingga menurunnya kesuburan bagi pria.
“Ketika mikroplastik masuk ke tubuh, dampak jangka panjangnya bisa menghambat pembuluh darah dan berisiko menyebabkan stroke. Karena itu, masyarakat perlu dilibatkan dalam pemantauan dan monitoring pencemaran lingkungan,” bebernya.
Sampel air hujan di Blimbing diambil di sekitar pasar dan jalan raya. Kedua lokasi itu dinilai berkontribusi terhadap tingginya kadar mikroplastik. Aktivitas pembakaran plastik sekali pakai di pasar serta gesekan ban kendaraan dengan aspal di jalan raya menjadi sumber tambahan mikroplastik di udara.
“Tingginya kadar mikroplastik di Blimbing hampir setara dengan temuan di Jakarta. Harapannya masyarakat tidak lagi membakar sampah, dan pemerintah memperhatikan pelayanan pengelolaan sampah,” tutur dia.
Alek juga menyoroti belum adanya peraturan daerah di Malang yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai. Ia mengimbau masyarakat untuk beralih menggunakan alternatif ramah lingkungan. “Misalnya seperti tas kain untuk belanja, lalu rantang kalau untuk membeli makanan dan alternatif lain sebagainya,” pungkas dia. (ian/udi/mtc)