Waspadai Kandungan Mikroplastik dalam Hujan
Malangtrend.com – Mencuatnya hasil penelitian terbaru oleh Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton), terkait paparan mikroplastik dalam air hujan di Kota Malang mendapatkan respon. Meskipun belum ada informasi terkait dampak langsung terhadap kesehatan di masyarakat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mengimbau agar masyarakat lebih waspada.
Kadinkes Kota Malang dr. Husnul Muarif mengatakan bahwa fenomena hujan mengandung mikroplastik yang sebelumnya terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia, kini turut menjadi perhatian Pemerintah Kota Malang. Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada hasil analisis spesifik mengenai kandungan mikroplastik dalam air hujan di wilayah Kota Malang.
“Untuk Kota Malang, analisa dampaknya memang belum ada. Artinya, pengukuran kondensasi air di awan yang mengandung mikroplastik memang belum secara utuh. Mungkin nanti akan dikaji lebih lanjut oleh DLH atau OPD terkait,” ujarnya saat dikonfirmasi Malang Posco Media, Senin (10/11).
Husnul menjelaskan, mikroplastik dapat terbentuk dari partikel plastik yang melayang di udara dan ikut larut dalam proses kondensasi. Partikel tersebut kemudian terbawa ke awan dan akhirnya turun bersama air hujan. “Artinya, plastik itu larut di udara. Begitu ada proses kondensasi dan terbentuk awan, maka awan itu bisa mengandung mikroplastik. Saat hujan turun, airnya pun berpotensi mengandung partikel mikroplastik,” terangnya.
Namun, menurutnya, untuk mengetahui jenis dan kadar mikroplastik secara pasti dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan metode laboratorium yang spesifik. Untuk saat ini, dirinya menyebutkan bahwa masyarakat telah diimbau agar tak membakar sampah plastik yang dapat mengontaminasi proses pembentukan awan dengan partikel mikroplastik.
Kadinkes juga menegaskan pencegahan pencemaran mikroplastik dapat dimulai dari kebiasaan rumah tangga, terutama dengan tidak membakar sampah plastik sembarangan. “Pemakaian dan pemusnahan plastik di Malang sudah satu pintu, baik dari rumah tangga, TPS hingga TPA. Tapi masyarakat juga perlu dihimbau agar tidak membakar plastik di rumah, karena bisa menghasilkan partikel halus berbahaya,” jelasnya.
Menurut Husnul, dampak kesehatan akibat paparan mikroplastik bersifat jangka panjang dan tergantung pada kadar serta lamanya seseorang terpapar. Namun, tingkat risiko bahaya dari mikroplastik ini akan lebih berbahaya terhadap masyarakat kelompok rentan.
“Kalau terpapar mikroplastik, efeknya tidak langsung terasa. Tapi dalam jangka panjang bisa berpengaruh terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia,” tandas Husnul.
Diberitakan Malangtrend.com sebelumnya, dari hasil pengumpulan sampel dan penelitian air hujan yang dilakukan tim Ecoton mulai 7 November hingga 9 November, Blimbing menjadi kawasan yang memiliki kadar kandungan mikroplastik tertinggi dibanding kawasan lain di Malang.
“Tercatat dari Blimbing kandungan mijroplastiknya mencapai 98 partikel per liter. Disusul Singosari dengan 40 partikel per liter, Merjosari 33 partikel per liter, Gadang 20 partikel per liter, dan Sudimoro 11 partikel per liter,” ungkap Peneliti Ecoton, Aleika Rahmatullah.
Dijelaskan pria yang akrab disapa Alek itu, penyebab utama tingginya mikroplastik di air hujan berasal dari udara. Sekitar 50 persen mikroplastik di udara dipicu oleh kebiasaan membakar sampah yang dilakukan oleh sebagian masyarakat.
Selain itu, ia menjelaskan, timbulan sampah yang hanya ditimbun tanpa pengelolaan juga berpotensi melepaskan mikroplastik ke udara ketika terkena panas. Partikel itu kemudian terbawa angin dan akhirnya bisa turun bersama air hujan.
Meski belum ada baku mutu yang menetapkan batas aman mikroplastik dalam air, namun Alek menyebut ribuan partikel mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti kanker, gangguan hormonal bagi wanita hingga menurunnya kesuburan bagi pria. (rex/udi/mtc)