Malangtrend.com – Sutradara film Bayu Eko Moektito alias Bayu Skak kembali membuat gebrakan. Kali ini mengumumkan kolaborasi terbarunya bersama studio animasi asal Kota Malang Homepimpa dalam proyek film keenamnya, Fo Ufo.
Proyek ini juga didukung Kementrian Ekonomi Kreatif (Ekraf). Proyek film animasi dengan teknik CGI ini akan melibatkan ratusan animator asal Malang. Ini disampaikannya dalam Talk Show “Bicara Film: Merayakan Kearifan Lokal Lewat Sinema” Selasa (9/12/25) di Cinepolis Malang Town Square (Matos).
Film ini digadang-gadang sebagai pelopor genre komedi fiksi ilmiah di Indonesia yang sebagian besar dialognya menggunakan Bahasa Madura.
“Kami mengangkat kearifan lokal. Bahasanya nanti pakai Bahasa Madura. Karena ceritanya ada UFO crash landing di tanah Madura. Makanya namanya jadi ‘Fo Ufo” kan. Alur ceritanya nanti tunggu saja ya tanggal mainnya,” papar Bayu Skak dalam press conference usai Talk Show.
Dijelaskan lagi, film Fo Ufo saat ini dalam proses editing dan dijadwalkan tayang tahun depan. Diperkirakan akan release di bioskop-bioskop Tanah Air bertepatan dengan momen Hari Raya Lebaran.
Tidak itu saja, Bayu, melalui Skak Studios, memilih Homepimpa, yang berlokasi di Malang, untuk menggarap elemen kunci film yakni visualisasi alien melalui teknik CGI.
“Film ini akan jadi sesuatu yang fresh karena ini sci-fi comedy. Kami harus berpikir next bikin apa lagi, karena saat ini horor komedi sudah sangat ramai,” ujar Bayu Skak merujuk pada maraknya genre serupa di pasaran.
Diketahui, peran Homepimpa dalam proyek ini sangat krusial. Didirikan sejak tahun 2012, Homepimpa sebagai studio animasi yang 80 persen animatornya berasal dari Malang, bahkan diklaim sebagai penyumbang animator terbanyak di Indonesia.
Mereka telah mengerjakan proyek-proyek internasional seperti film Pororo dan serial Gop and Friends, yang disiarkan di 22 negara, termasuk Disney+ Hotstar India tahun lalu.
Bayu Skak juga menegaskan komitmennya untuk memberdayakan talenta lokal di film ini. Setelah sebelumnya menguji coba dengan persentase aktor daerah yang lebih kecil, di film Fo Ufo ini, 90 persen pemainnya berasal dari daerah, hanya menyisakan 10 persen, atau bahkan lima persen dari ibu kota Jakarta.
Bahkan, konsultan budaya dan komedi seperti Habib Jafar turut dilibatkan untuk memastikan kesesuaian konten.
“Jika semua pemainnya 100 persen dari Jakarta, kami yang ada di daerah ini mau jadi apa? Kami harusnya ikutan juga,” jelas Bayu mengenai filosofi di balik keputusannya untuk memberikan panggung lebih besar kepada aktor lokal.
Kolaborasi antara Skak Studios dan Homepimpa ini diharapkan dapat membuktikan bahwa kualitas film lokal, khususnya dari Jawa Timur, memiliki potensi besar untuk bersaing di kancah nasional maupun global.
Turut memberi apresiasi, Direktur Film, Animasi dan Video Kementerian Ekonomi Kreatif Doni Setiawan yang turut hadir mengapresiasi besarnya perkembangan sektor animasi di wilayah Malang Raya. Dimana bakat dan karya animator asal Malang bisa dijagokan di kancah nasional bahkan internasional.
Dengan dukungan kuat dari pemerintah, ia berharap studio animasi besar seperti Skak Studios bisa menggaet lebih banyak animator asal daerah daerah lainnya untuk terlibat dalam proyek kreatif lainnya. “Ini lah yang menjadi goal pemerintah. Dimana kami akan mengajak studio animasi yang sudah besar dan berkembang untuk membuat proyek animasi dan film yang menggandeng animator lokal daerah. Selain di Malang ini, kami juga sudah membuat proyek yang sama di Aceh, Klaten, Surabaya, Cirebon sampai Sumatera Utara. Kedepan akan kami perluas lagi,” pungkas Doni. (ica/van)