Malangtrend.com – Provinsi Jawa Timur tercatat sebagai salah satu daerah dengan temuan kasus Super Flu terbanyak di Indonesia. Meski demikian, hingga saat ini kasus influenza A (H3N2) subclade K belum terdeteksi di wilayah Kota Malang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menyampaikan bahwa sejumlah sampel dari dua lokasi, yakni Puskesmas Dinoyo dan kasus Severe Acute Respiratory Infection (SARI) dari RSUD Saiful Anwar, telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya. Namun hasil pemeriksaan belum menunjukkan adanya temuan Super Flu.
“Sampai saat ini belum ada laporan, baik suspek maupun konfirmasi kasus Super Flu di Kota Malang,” ujar Husnul kepada Malang Posco Media, Senin (5/1) kemarin.
Meski belum ditemukan kasus, Husnul menegaskan masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus meningkatkan kewaspadaan. Ia menilai virus H3N2 memiliki karakteristik yang mirip dengan flu biasa, tetapi dengan gejala yang cenderung lebih berat.
Untuk mengantisipasi penyebaran, Dinkes Kota Malang telah menyiapkan fasilitas layanan kesehatan yang dapat diakses masyarakat, meliputi 16 puskesmas, 33 puskesmas pembantu (pustu), dan 642 posyandu yang tersebar di 57 kelurahan. Selain itu, terdapat 29 rumah sakit serta 156 klinik yang siap memberikan pelayanan.
“Masyarakat kami imbau tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah atau di ruangan yang ramai, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta memenuhi gizi seimbang. Jika muncul keluhan kesehatan, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat,” imbaunya.
Husnul menjelaskan, pada kategori suspek, gejala Super Flu hampir sama dengan flu biasa. Namun pada kategori probable, akan muncul tambahan gejala yang lebih berat. Sementara untuk memastikan konfirmasi kasus, diperlukan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang hasilnya dikeluarkan oleh BBLKM Surabaya.
“Karena mutasi virus, gejala yang timbul bisa lebih berat. Badan terasa sangat sakit, sulit bangun, sulit beristirahat. Saluran pernapasan juga bisa terganggu karena lendir yang berlebih, sehingga kondisi tubuh terasa menurun drastis,” jelasnya.
Penyebaran Super Flu disebut dipengaruhi oleh faktor cuaca, perubahan gaya hidup, serta longgarnya penerapan protokol kesehatan pascapandemi Covid-19. Oleh karena itu, Dinkes Kota Malang terus melakukan langkah antisipatif melalui edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Edukasi tersebut dilakukan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta pelayanan rutin di puskesmas, pustu, dan posyandu. Tenaga kesehatan juga diminta aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai karakteristik Super Flu dan langkah pencegahannya.
“Tenaga kesehatan sudah kami informasikan untuk terus mengedukasi masyarakat di lapangan, mulai dari pemahaman tentang flu, mutasi virus hingga menjadi Super Flu, serta upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko penularan,” pungkas Husnul. (ian/aim/mtc)