Dyfi: Tingkat Keterisian Pesawat Jenis ATR 200 Tidak Lebih 30 Persen
Malangtrend.com – Harapan kelompok bisnis milik konglomerat Rudi Kirana, Lion Group bisa berjaya di rute penerbangan Malang–Lombok, pupus sudah. Rute penuh harapan yang dirintis mulai 15 Desember 2025 itu, ternyata hanya bertahan kurang lebih dua minggu saja.
Peresmian rute Malang–Lombok yang digeber langsung oleh Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak, terhitung sejak Januari 2026, secara resmi dihentikan total. Penyebabnya, tidak lain karena kecilnya animo masyarakat yang menunggang Wings Air ATR 72 di rute Malang – Lombok.
Dikonfirmasi keadaan di atas Dyfi Suciyati, Area Manager Lion Air Group Jatim membenarkan. Berhenti terbang sebagai langkah strategis ini harus diambil tidak lain untuk menutup angka kerugian agar tidak berkepanjangan.
‘’Benar. Sejak bulan ini (Januari) penerbangan Malang-Lombok kami hentikan terlebih dahulu. Sampai kapan? Kami belum tahu dan menunggu perkembangan berikutnya,’’ ungkap Dyfi ketika dihubungi Malang Posco Media (MPM) melalui ponselnya, Senin siang.
Dyfi tidak menyebutkan secara detail, kenapa rute penerbangan antar wilayah pariwisata ini tidak begitu menarik animo masyarakat luas. Padahal potensi pariwisata Malang Raya dan Lombok sudah sangat teruji keunggulannya.
‘’Kecil. Cukup kecil sekali load factor-nya. Dari kapasitas sekitar 72 tempat duduk, tingkat keterisiannya tidak lebih dari 30 persen saja. Melihat kondisi itu manajeman memutuskan untuk menghentikan rute Malang-Lombok,’’ kata Dyfi.
Sementara itu ditemui terpisah, Cahyo Purwo Widyatomo Kepala UPT Bandara Abd Saleh Malang Dishub Jatim menyebutkan, perhitungan secara bisnis mestinya rute Malang-Lombok cukup bagus dan menjanjikan.
Tetapi harapan itu tidak seperti yang dibayangkan. Bahkan penerbangan di saat Natal dan Tahun Baru kemarin, rute Malang-Lombok juga tidak seramai yang dibayangkan. Pesawat tidak pernah terisi penuh.