Harvi Prasetyo, Ciptakan Lagu Jawa Ditengah Gempuran Lagu Indie Pop
Suara petikan gitar akustik, kerap bergema mengisi ruang sunyi. Sambil menggumam, tangannya lincah menuliskan lirik-lirik berbahasa Jawa yang indah. Kata demi kata, disusun dan dirangkai menjadi sebuah lagu, yang tidak hanya enak didengar, tapi juga menarik untuk disimak. Bukan hanya soal ‘hits’, tapi lebih jauh lagi, pesan budaya melalui Bahasa Jawa jadi poin pentingnya.
Malangtrend.com – MALANG POSCO MEDIA – Ini yang dilakukan Harvi Prasetyo, warga Kelurahan Polowijen, sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu yang cukup dikenal di Malang Raya. Musisi yang sempat ‘viral’ pada era 2008-an dengan saat itu bergabung bersama Icon Band, kini banting setir menekuni lagu-lagu Jawa dan menjadi pencipta lagu bagi penyanyi Jawa di Indonesia.
Di saat industri musik arus utama dipenuhi lagu-lagu indie pop dengan lirik urban, Harvi justru memilih untuk menekuni tembang Jawa yang ia yakini sebagai bagian dari jati dirinya. Dibalik kesederhanaan proses kreatif itu, tersimpan perjalanan panjang yang tidak selalu mulus.
Harvi bukan nama baru di dunia musik. Ia mulai menapaki industri sejak 2005 sebagai vokalis Icon Band, sebuah fase yang membawanya merasakan kerasnya persaingan musik nasional.
Bersama band tersebut, ia pernah meraih Juara 2 dalam kompetisi KFC Music Hit List Volume 3, menyisihkan sekitar 3.500 peserta dari seluruh Indonesia. Atas prestasinya itu, bandnya mendapat kesempatan untuk membuat video klip. Tidak disangka, lagu Ketetapan Hati yang jadi andalan, saat itu langsung ‘booming’.
“Waktu itu bahkan lagunya berkali kali sampai jadi nomor 1 di radio-radio di Bandung. Waktu di ajang Inbox, Dahsyat, MTV Ampuh, dulu juga selalu masuk top chart. Bahkan dulu Icon Band waktu itu sempat tur di lima kota tahun 2009-an,” ungkap Harvi mengawali ceritanya.
Moncernya Icon Band saat itu, membuat Harvi makin bersemangat meniti karir di dunia musik. Sebab, dengan menapaki karir di industri musik, juga sekaligus menjadi ajang aktualisasi dirinya. Terutama juga kepada orang tuanya.
Sebab, beber Harvi, sebenarnya orang tuanya tidak terlalu setuju jika dirinya menekuni bidang tersebut. Namun karena Harvi merasa jiwa seninya lebih dominan, ia tetap bersikukuh menjadi musisi.
“Orang tua sempat tidak setuju saya ngeband. Bolak balik diminta ikut tentara karena mbak saya tentara. Sampai diminta ikut sekolah SMA taruna. Tapi dengan lolosnya di tingkat nasional itu, orang tua akhirnya mendukung. Karena memang susah, seolah olah seperti masuk ke lubang jarum kan itu,” kenang dia.
Sayangnya, tidak lama kemudian Icon Band vakum karena kesibukan masing masing personelnya. Banyak yang meneruskan kerja di bidang musik atau sekolah musik. Sementara Harvi sendiri, akhirnya menekuni sebagai penyanyi solo pada 2019-2020.
Saat itu, bertepatan dengan pandemi Covid-19, ia bersama gitarisnya lantas membuat sebuah lagu. Tidak lagi lagu pop biasa, tapi lagu berbahasa Jawa. Sehingga sejak saat itu, ia mengusung genre Pop Java Romantic. Lagu pertama yang dibuat, yakni berjudul ‘Rabi Karo Kowe’.
“Pas ngobrol dengan teman saya itu, kami coba lihat perkembangan di industri musik. Saya lihat memang lagi kencangnya lagu Jawa. Karena saya pun dari dulu suka karya Didi Kempot, maka akhirnya fokus disitu,” beber dia
“Bahasa Jawanya pun ada yang halus, ada juga yang santai seperti bahasa bahasa harian. Tapi kalau bahasa Malangan banget, ya tidak ya. Yang penting Bahasa Jawanya kena,” sambung Harvi.
Lagu demi lagu, akhirnya terus diciptakan oleh Harvi. Perlahan, video klip juga sekaligus dibuat. Oleh sebab dirinya bersolo karir tanpa label, semuanya ia kerjakan sendiri. Termasuk pendanaan untuk pembuatan video klip.
Ia mencari pendanaan ke rekan sejawatnya hingga ke sejumlah pelaku usaha. Bahkan untuk video klip pertamanya, pendanaannya dibantu temannya sendiri dan pembuatannya dibantu mahasiswa lulusan baru.
Saat ini ia sudah mempunyai 15 lagu dengan 14 lagu diantaranya telah memiliki video klip. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, Harvi juga kerap membuatkan lagu-lagu Jawa untuk sejumlah penyanyi di Indonesia. Di antaranya Intan Chaha, Novi Patra, Yofi Syahputri, Lohita Sari, dan banyak lainnya.
“Dari banyak lagu yang saya buat, yang paling berkesan itu saat membuat lagu ‘Tragedi Kanjuruhan’. Sebenarnya lagu itu langsung jadi hanya sehari setelah tragedi. Hanya saja tidak langsung saya keluarkan karena kondisinya saat itu masih sangat emosional,” ungkap dia.
“Dalam video klip itu, ada keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Itu saya merinding ketika orang tuanya menangis melihat hasil jadi video klipnya. Mereka sengaja tidak memilih untuk masuk di sebuah film dokumenter, tapi justru mau masuk di video klip saya,” sambungnya.
Tidak hanya lagu komersil, Harvi juga aktif memproduksi permintaan pembuatan jingle lagu untuk berbagai kepentingan. Misalnya untuk kebutuhan layanan promosi seperti yang pernah dilakukan oleh Imigrasi Surabaya hingga untuk kepentingan kampanye dari beberapa anggota DPR RI dan DPRD.
“Untuk jingle SAE dari Wali Kota Malang periode 2018-2023 H. Sutiaji itu juga saya bikin jinglenya. Masih aktif melayani permintaan itu juga sih,” tambahnya.
Tahun ini, Harvi berencana merilis single baru yang tetap setia pada lagu Jawa. Baginya, bermusik bukan sekadar mengikuti tren, melainkan juga upaya merawat bahasa dan budaya. “Ya sekarang saya sudah mulai konsisten di lagu Jawa, untuk ‘uri-uri’ (melestarikan) Bahasa Jawa,” tutupnya. (ian/aim/mtc)