Malangtrend.com – Popularitas melon jenis Golden Kinanti rupanya terus meningkat. Peminatnya pun makin banyak. Terlebih untuk melon yang dibudidayakan dengan cara hidroponik. Hal ini bisa terlihat seperti di salah satu Greenhouse ada di Kelurahan Sawojajar yang kini menjadi salah satu jujugan para suplayer melon.
Greenhouse itu dikelola oleh Dwi Vindi mahasiswi jurusan Agroekoteknologi Universitas Brawijaya (UB). Proyek yang awalnya dimulai untuk kebutuhan riset skripsi ini kini terbukti memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan karena peminatnya makin banyak.
“Varietas Golden Kinanti ini peminatnya lebih tinggi dan budidayanya menurut kami lebih cepat dan gampang dibandingkan varietas lain. Hasil riset, melonnya juga lebih besar dibandingkan yang ditanam di tanah, bisa 2,5 kilogram tiap buahnya,” terang Dwi, ditemui Selasa (3/2).
Lebih jauh, melon varietas Golden Kinanti ini punya keunggulan lain yakni tingkat kemanisan yang tinggi. Sehingga banyak masyarakat yang memilih melon itu dibandingkan varietas lain. Dengan kata lain, sistem hidroponik ini terbukti berhasil mendapatkan hasil panen yang lebih optimal dibandingkan penanaman konvensional di tanah.
Dwi membeberkan, salah satu teknik yang ia gunakan, yakni melakukan optimasi pertumbuhan buah melon. Caranya dengan menyisakan hanya satu buah terbaik pada setiap pohon agar nutrisi dan tingkat kemanisannya maksimal.
“Dengan kapasitas 500 tanaman, menghasilkan sekitar 7 kuintal sekali panen. Kalau menurut saya cukup menjanjikan karena harga melon juga cukup stabil, tidak seperti cabai atau tomat yang naik turunnya begitu tinggi,” bebernya.
Dalam kurun waktu 1,5 tahun terakhir, greenhouse ini sudah mencatatkan lima kali masa panen. Dari segi perawatan, Dwi menilai sistem hidroponik juga jauh lebih praktis bagi petani milenial. Pengaturan nutrisi dilakukan secara terpusat melalui tandon air yang langsung menyebar ke seluruh tanaman. Sehingga tidak perlu melakukan pemupukan manual setiap hari.
“Jadi tidak perlu spray. Mungkin spray hanya untuk tambahan saja. Bukan untuk nutrisi utama,” tegas dia.
Melihat keberhasilan ini, Dwi berencana untuk mengembangkan usaha budidaya melon hidroponik ini secara mandiri di daerah asalnya, Banyuwangi. Tentunya setelah menyelesaikan studinya itu nanti.
Fawzi, salah satu suplayer melon yang membeli ke greenhouse tersebut, membenarkan alasan utama membeli melon Golden Kinanti karena peminatnya yang banyak. Konsumen banyak yang memilih Golden Kinanti karena rasanya lebih manis.
“Ini manisnya mencapai 16 (brix), sementara melon rata-rata hanya di angka 13. Teksturnya juga lebih renyah dan warnanya lebih menarik,” jelasnya kemarin, saat sedang memborong hasil panen untuk dikirim ke konsumen.
Selain rasa, daya simpan menjadi nilai plus bagi para pedagang. Fawzi menyebutkan bahwa melon ini tetap memiliki tekstur yang keras dan layak konsumsi hingga lebih dari 10 hari setelah panen. Ini merupakan sebuah keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki melon biasa yang cenderung cepat lembek.
Meskipun dibanderol dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan melon biasa, permintaan pasar tetap stabil. Fawzi menjual melon premium ini di kisaran harga Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram, jauh di atas harga melon biasa yang hanya Rp 8.000 per kilogram.
”Harganya sesuai dengan rasa dan kualitas. Kami bahkan berani memberikan garansi; jika buah tidak manis, konsumen bisa mengembalikannya,” tambah Fawzi yang sekali ambil bisa membawa hingga 22 kilogram melon ini.
Keberadaan budidaya melon hidroponik ini menjadi bukti bahwa kualitas produk pertanian yang terjaga akan selalu menemukan pasarnya sendiri, bahkan dengan harga premium sekalipun. (ian/aim/mtc)