Malangtrend.com – Rasa syukur dan terima kasih disampaikan warga Nahdlatul Ulama (NU) kepada gereja-gereja di Kota Malang yang telah mendukung dan memfasilitasi jamaah Mujahadah Kubro Satu Abad NU, 7–8 Februari 2026. Dukungan lintas iman tersebut menjadi bukti nyata kuatnya toleransi dan persaudaraan antarumat beragama di Kota Malang.
Salah satu bentuk dukungan itu terlihat saat ribuan jamaah NU asal Kota Surabaya transit di Kantor Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Wilayah Jawa Timur, Jalan S. Supriadi Kecamatan Sukun Kota Malang. Sekitar 1.200 jamaah disambut hangat oleh pengurus gereja hingga para biarawati. Senyum ramah, minuman hangat, dan makanan ringan menyertai kedatangan jamaah sebelum melanjutkan perjalanan ke Stadion Gajayana sebagai lokasi Mujahadah Kubro 1 Abad NU.
Ketua Panitia Keberangkatan Jamaah Mujahadah Kubro PCNU Surabaya Muhammad Syafi’i menyampaikan apresiasi, atas kesiapan dan keterbukaan GKJW yang telah memfasilitasi transit jamaah. Ia menyebut, koordinasi telah dilakukan sejak sekitar sepekan sebelum kegiatan agar seluruh rangkaian perjalanan berjalan lancar.
“Rombongan PCNU Surabaya sendiri datang menggunakan sekitar 21 bus besar, ditambah kendaraan pendukung seperti mobil van dan Elf, serta sejumlah kendaraan pribadi,” jelasnya.
Seluruh jamaah PCNU Surabaya yang transit di GKJW diperkirakan mencapai 1.200 orang. Menurut Syafi’i, kerja sama lintas iman seperti ini bukan hal baru dan telah terjalin sejak lama antara NU dan GKJW, khususnya di Jawa Timur.
Atas sambutan dan fasilitas yang diberikan, Syafi’i mewakili jamaah NU menyampaikan terima kasih mendalam. Ia menegaskan bahwa kebaikan tersebut hanya dapat dibalas dengan doa, seraya menyampaikan ungkapan khas NU.
“Jazakumullah khairan katsiran,” ungkapnya dengan senyum ramah.
Sementara itu, Ketua Majelis Agung GKJW Pendeta Nataniel Hermawan mengatakan, bahwa pihaknya menyambut kehadiran jamaah NU juga dengan penuh sukacita. Menurutnya, dukungan terhadap Mujahadah Kubro Satu Abad NU merupakan bagian dari panggilan iman dan kemanusiaan untuk merawat persaudaraan lintas agama.
Pendeta Nataniel juga mengingatkan bahwa hubungan NU dan GKJW memiliki akar sejarah panjang. NU berdiri pada 1926, sementara GKJW lahir pada 1931 dari Mojowarno, Jombang, wilayah yang sama dan dalam rentang waktu yang tidak berjauhan.
“Bahkan, Presiden Keempat RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengajar di Kantor Majelis Agung GKJW selama tujuh tahun, dari 1974 hingga 1981,” ceritanya.
Dalam momentum tersebut, GKJW menyediakan berbagai fasilitas bagi jamaah NU, mulai dari ruang istirahat terpisah, kamar mandi, hingga tempat khusus untuk salat.
“Mengingat suhu udara Kota Malang yang dingin, minuman hangat dan makanan ringan juga disiapkan sebagai bentuk pelayanan dan kepedulian,” pungkasnya.
Dukungan gereja-gereja di Kota Malang, termasuk GKJW, Gereja Katedral Ijen, GKI Bromo, dan HKBP Malang, menjadi cerminan kuatnya harmoni sosial di kota ini. Bagi warga NU, sikap keterbukaan dan pelayanan tersebut bukan hanya membantu kelancaran Mujahadah Kubro, tetapi juga mempertegas bahwa persaudaraan lintas iman di Malang terus tumbuh dan terawat dengan baik. (rex/jon/mtc)