Malangtrend.com – UPT Puskesmas Wajak terus memperluas jangkauan layanan kesehatan masyarakat melalui berbagai inovasi berbasis kebutuhan lokal. Mulai pemeriksaan mata gratis, layanan HIV khusus hari Sabtu, hingga Posyandu Jiwa dan Disabilitas, semua digerakkan untuk mendekatkan layanan kepada warga di 13 desa wilayah Kecamatan Wajak. Satu inovasi yang menjadi andalan Puskesmas Wajak adalah GEPREK KEKER (Gerakan Pemeriksaan Kesehatan Pekerja)
Kepala Puskesmas Wajak, drg. Hennie Noerhayati, mengatakan saat ini lagi musim Cek Kesehatan Gratis (CGK). Salah satu upaya Puskesmas Wajak adalah jemput bola menemui para pekerja, khususnya di sektor non formal. Lantaran kebanyak mereka tidak sempat memeriksakan kesehatan di saat jam kerjanya. “Kita masuk ke tempat perusahaan pekerja seperti di tempat wisata Gentong Mas, selain kita memeriksa kesehatannya, kita juga memberikan pelatihan seperti pertolongan pertama kalau misalnya ada pengunjung yang kecelakaan, lalu di perusahaan keripik, pekerjanya lumayan banyak jadi kita sasar ke situ. Ke depannya kita mau menambah lagi jemput bola, untuk pekerja non-formal, nama programnya GEPREK KEKER, Gerakan Pemeriksaan Kesehatan Pekerja,” terang drg. Hennie Noerhayati.
Dijelaskannya, karakter masyarakat Wajak yang multikompleks menjadi tantangan sekaligus peluang dalam penguatan layanan promotif dan preventif. “Alhamdulillah masyarakat di sini masih bisa diedukasi, komunikasinya nyambung. Lintas sektoral juga bagus, jadi selama saya memimpin di Wajak tidak ada kendala berarti,” ujarnya kepada Malang Posco Media.
Sejumlah layanan unggulan dikembangkan. Selain yang jemput bola dengan GEPREK KEKER, untuk setiap Rabu, Puskesmas Wajak membuka pemeriksaan kesehatan mata gratis bekerja sama dengan optik lokal. Inovasi ini dilakukan agar warga tidak perlu jauh-jauh ke Kepanjen untuk sekadar cek mata.
Sementara layanan HIV dijadwalkan khusus hari Sabtu. Tujuannya memberi rasa nyaman bagi pasien. “Kami pilih hari Sabtu karena pasien tidak terlalu banyak, jadi lebih privasi,” terang drg. Hennie.
Puskesmas Wajak juga rutin menggelar pemeriksaan IVA untuk deteksi dini kanker serviks. Lalu di bidang kesehatan mental, Puskesmas Wajak menginisiasi Posyandu Jiwa di Desa Codo dan Wajak, serta Posyandu Disabilitas yang digelar rutin setiap Jumat. Tercatat sekitar 123 warga dengan gangguan jiwa berada dalam pendampingan.
“Alhamdulillah sekarang sudah tidak ada lagi kasus pasung. Yang bisa kita kendalikan kita masukkan Posyandu Jiwa, yang berat kita jemput bola ke rumah,” jelasnya.
Pendekatan berbasis komunitas juga dilakukan melalui organisasi keagamaan. Awalnya menyasar Fatayat dan Muslimat NU, lalu berkembang ke Aisyiyah hingga gereja-gereja.
“Lebih efektif karena mereka kumpul ramai. Bahkan Muslimat sekarang sudah mandiri, punya alat tensi sendiri. Kami tinggal kirim tenaga,” tambahnya.
Dari sisi edukasi, Puskesmas Wajak aktif masuk sekolah-sekolah melalui UKS, memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi, pencegahan NAPZA, hingga kampanye cegah pernikahan anak.
Dengan rata-rata kunjungan pasien di atas 100 orang per hari dan total lebih dari 7.000 kunjungan sepanjang 2024, Puskesmas Wajak terus berupaya memperkuat peran sebagai garda terdepan layanan kesehatan primer.
“Kami ingin masyarakat datang ke Puskesmas bukan hanya saat sakit. Sehat pun silakan cek,” yakin drg. Hennie. (bua/van/mtc)