Malangtrend.com – Prof. Dr. Ir. Mashudi, M.Agr.Sc., IPM., ASEAN Eng memperkenalkan hasil penelitiannya berupa Model Nutrisi Presisi Ruminansia Perah (NPRP) sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan produktivitas sekaligus keberlanjutan peternakan perah di wilayah tropis, khususnya Indonesia.
Dalam paparannya, Prof. Mashudi menjelaskan bahwa ternak ruminansia, seperti sapi perah dan kambing perah, memiliki peran strategis dalam penyediaan protein hewani melalui produksi susu. Selain itu, sektor ini juga menjadi sumber utama penghidupan bagi peternak rakyat.
“Keberhasilan produksi susu sangat ditentukan oleh pengelolaan nutrisi, terutama protein. Protein merupakan komponen pakan dengan biaya tertinggi dan sangat berpengaruh terhadap kualitas serta kuantitas susu,” ujarnya.
Ia memaparkan, secara biologis ternak perah bergantung pada fungsi rumen sebagai “pabrik biologis” yang mengonversi pakan berserat menjadi energi dan protein mikroba. Namun, dalam praktiknya, sebagian besar protein pakan mengalami degradasi berlebih di dalam rumen dan berubah menjadi amonia.
Amonia tersebut tidak seluruhnya dimanfaatkan oleh tubuh ternak, melainkan dikeluarkan dalam bentuk urea. Kondisi ini menyebabkan rendahnya efisiensi pemanfaatan nitrogen serta berpotensi mencemari lingkungan. Hal tersebut tercermin dari tingginya nilai Milk Urea Nitrogen (MUN) pada ternak perah.
Menurut Prof. Mashudi, pendekatan konvensional dengan meningkatkan kadar protein kasar (PK) dalam pakan belum sepenuhnya efektif. Bahkan, peningkatan PK di atas kebutuhan fisiologis ternak justru menurunkan efisiensi penggunaan nitrogen. “Masalah ini semakin nyata di sistem peternakan tropis Indonesia yang menghadapi variasi kualitas hijauan, keterbatasan energi fermentabel, serta ketergantungan pada pakan lokal,” paparnya.
Melalui Model Nutrisi Presisi Ruminansia Perah, rumen diposisikan sebagai pusat produksi biologis yang dioptimalkan melalui proteksi selektif protein dan asam amino esensial pembatas, yakni lisin dan metionin. Proteksi ini dilakukan dengan teknologi berbasis kondensasi tanin.
Kebaruan model ini terletak pada integrasi proteksi protein dalam kerangka nutrisi presisi yang selaras dengan fisiologi rumen dan karakteristik peternakan tropis. Dengan sistem tersebut, nutrisi dapat dimanfaatkan lebih efisien dan tepat sasaran. “Dengan penerapan model ini, produktivitas susu dapat meningkat, biaya pakan lebih efisien, dan dampak lingkungan dapat ditekan,” jelasnya.
Ia berharap, model NPRP dapat menjadi fondasi pengembangan sistem peternakan perah tropis yang lebih modern, ramah lingkungan, serta berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global. “Model ini kami rancang untuk menjawab tantangan masa depan peternakan perah Indonesia,” pungkasnya. (hud/udi/mtc)