Malangtrend.com – Kemenangan Arema FC atas Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 8 Februari 2026 kemarin bukan sekadar tiga poin. Ia adalah penanda bahwa Singo Edan masih punya denyut, masih menyimpan ambisi. Namun satu malam berkelas di GBK tidak boleh membuat Arema FC lupa diri. Kompetisi masih panjang, dengan 14 pertandingan tersisa yang harus dijalani dengan kepala dingin.
Putaran pertama menjadi fase yang tidak mudah. Arema FC terseok-seok, kehilangan konsistensi, dan terlalu sering membiarkan peluang berlalu tanpa arti. Kini, memasuki paruh kedua musim, arah mulai dibetulkan. Target awal musim—menembus papan atas atau berada di lima besar—tidak dihapus. Ia hanya sempat tertunda, lalu dikejar kembali dengan cara yang lebih realistis.
Evaluasi paruh musim menjadi titik balik penting. Arema FC melakukan belanja besar di putaran kedua, sesuatu yang jarang mereka lakukan dalam beberapa musim terakhir. Sembilan pemain didatangkan, termasuk pergantian lima pemain asing. Dua di antaranya dilepas dalam kondisi ‘terpaksa’: Paulinho yang memilih mengundurkan diri dan Luiz Gustavo yang harus menepi akibat cedera.
Alih-alih larut dalam masalah, manajemen dan tim pelatih memilih meracik ulang komposisi skuad. Marcos Santos membuka dapur taktiknya, membuang resep lama, lalu mulai meracik skuad Arema FC versi baru—lebih seimbang dan lebih fungsional.
Kepercayaan manajemen kepada Marcos Santos pun tak setengah-setengah. General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi bahkan dengan tegas menyebut pelatih asal Brasil tersebut sebagai versi terbaik yang dimiliki Arema FC dalam beberapa musim terakhir. Kepercayaan itu bukan hanya sebatas kata, tetapi juga ruang bekerja yang luas.
Dalam sejumlah unggahan media sosial staf atau karyawan tim tersebut, pria yang akrab disapa Inal ini kerap disebut “sedang memasak”. Sebuah istilah yang menggambarkan bagaimana Arema FC bergerak di bursa transfer paruh musim: tidak banyak suara, minim gembar-gembor, namun tiba-tiba mengenalkan pemain—satu per satu—dengan tujuan yang jelas.
Di lini depan, Gabriel Silva, Gustavo Franca, dan Joel Vinicius dihadirkan untuk menjawab problem klasik putaran pertama: tumpulnya penyelesaian akhir. Arema FC kerap menciptakan banyak peluang, namun terlalu sering berakhir sia-sia. Ketiganya diharapkan mengubah peluang menjadi gol, bukan sekadar angka statistik.
Sementara di lini belakang, masuknya Ilham Rio Fahmi, Hansamu Yama, Walisson Maia dan ditutup Leo Guntara dihari terakhir bursa transfer, menjadi ramuan untuk memperkokoh sektor yang sebelumnya rapuh. Pada putaran pertama, Arema FC hanya mampu mencatat satu clean-sheet—catatan yang jelas belum mencerminkan ambisi tim besar.
Di tengah semua perubahan itu, hadir Gianluca Pandeynuwu sebagai bagian dari strategi yang lebih subtil. Kiper lokal ini bisa bagaikan sebagai “ramuan rahasia” Marcos Santos. Dengan menurunkannya sejak awal, Arema FC tidak terbelenggu kuota pemain asing di bawah mistar. Ketika pertandingan menuntut kekuatan tambahan, Marcos tak perlu memaksakan pergantian pemain asing demi memasukkan opsi lain. Fleksibilitas taktik menjadi senjata.
Namun kini, tentu bukan hanya kemenangan atas Persija yang cukup menjadi bukti. Arema FC harus menagih kelanjutan dari malam istimewa di GBK itu. Ujian berikutnya sudah menanti saat Singo Edan menjamu Semen Padang—laga yang justru kerap menjadi batu sandungan bagi tim yang baru bangkit.
Konsistensi menjadi kata kunci. Arema FC dituntut bukan hanya mampu menaklukkan tim besar, tetapi juga menjaga standar permainan saat menghadapi lawan yang di atas kertas lebih ringan. Jika hasil apik terus dirawat, bukan dirayakan berlebihan, maka kebangkitan itu bisa benar-benar nyata.
Singo Edan sudah melangkah. Kini, pekerjaan terberat justru memastikan setiap langkah berikutnya tetap berada di jalur yang benar mencapai tujuan akhir musim, yakni papan atas. (ley/jon)