Malangtrend.com – Terlahir sebagai tuna daksa tak membuat Sabrina Dewi Cahyani, rendah diri. Apalagi minder. Dengan keterbatasannya, dia tetap percaya diri. Bahkan, berhasil membuktikan diri sebagai sosok yang unggul. Terutama di bidang akademik.
“Banyak hal yang bisa kita apresiasi dari sosok Sabrina. Dia anak yang ceria. Gayanya khas. Tetap mempunyai rasa percaya diri yang luar biasa. Dan kompetensinya mampu melampaui teman-temannya,” ujar Kepala SMK Tunas Bangsa Endah Sri Wahyuni, S.Pd.
Sabrina Dewi Cahyani adalah alumni SMK Tunas Bangsa. Dia menjadi siswa sekolah ini pada tahun ajaran 2020-2023. Mengambil Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. “Bicaranya terbatas, untuk berkomunikasi dengan dia membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi serta pemahaman yang memadai. Tapi anaknya cukup pintar,” katanya.
Ketunaan yang dimiliki Sabrina, mewajibkan dia setiap hari harus menggunakan kursi roda untuk menunjang kegiatannya dalam belajar. Meskipun begitu, dia mendapat lingkungan yang tepat. Teman-temannya mendukung. Pun guru-guru di sekolah. Kegiatan belajar dijalaninya dengan baik.
Seluruh siswa SMK Tunas Bangsa memberikan perhatian. Mereka selalu siap membantu saat Sabrina kesulitan. Misalnya harus ke lantai 2. Semua kompak membantu. Menuntun sampai ke atas. “Kami mengajarkan anak untuk empati. Peka pada lingkungannya. Memiliki kepedulian pada sesama. Terutama kepada temannya sendiri,” ungkap Endah. “Dan kami apresiasi yang tak terhingga. Semua teman Sabrina sangat mendukung dan membantu Sabrina di setiap proses pembelajarannya,” tambahnya.
Secara akademik, Sabrina sangatlah menguasai dan mampu untuk belajar bersama teman-temannya di kelas. Hampir semua mata pelajaran umum dan kejuruan dia bisa selesaikan baik tugas maupun ujiannya. Secara umum, Sabrina adalah anak yang mempunyai kompetensi di atas teman-temannya. Mulai dari kelas 10 sampai kelas 12, putri dari pasangan Feri Misqi Sulistiyo dan Retno Susantin ini selalu mempunyai nilai yang unggul di kelasnya.
Keinginan untuk melanjutkan kuliah sangatlah didukung oleh Koordinator Guru IBK. Orang tuanya juga sangat mendukung keinginan putrinya untuk melanjutkan kuliah di Kota Malang. Sampai pada akhirnya, Sabrina mengikuti jalur prestasi pendidikan.
Dia berkeinginan kuliah di Universitas Brawijaya serta mengambil jurusan Psikologi. Sampai pada akhirnya, Sabrina dinyatakan lulus dan diterima di UB. “Kami sangat bangga dengan pencapaian Sabrina. Semoga masa depannya sukses,” ucap Endah.
Dia menceritakan momentum haru bersama orang tua Sabrina. Yakni pada saat wisuda kelulusan SMK Tunas Bangsa. Orang tuanya menangis haru karena menerima sertifikat sebagai siswa berprestasi. “Pada saat itu Sabrina juga tidak bisa datang, karena bersamaan test di Universitas Brawijaya untuk masuk di Jurusan Psikologi,” ujarnya.
Sabrina sudah memasuki tahun ketiga di dunia kampus. Endah bersyukur anak didiknya itu juga mendapat lingkungan yang mendukung. Di UB, Sabrina menjadi mahasiswa yang aktif. Baik di kampus maupun organisasi kemahasiswaan. Saat ini Sabrina menjabat sebaga Wakil Ketua Dewan Perwakilan PSDM Brawijaya.
“Sabrina telah membuktikan diri bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi. Dengan kepercayaan diri bahkan bisa melampaui yang lain. Semoga Sabrina menjadi motivasi bagi adik kelasnya di SMK Tunas Bangsa,” ungkap Endah.
Dia menyampaikan informasi dan mengimbau kepada masyarakat, untuk bergabung dengan SMK Tunas Bangsa Kota Malang. Salah satu lembaga pendidikan Inklusi yang sangat terpercaya dan diakui keberadaannya. “Kami berjuang bersama untuk mendampingi murid IBK yang setiap tahun selalu ada dan menjadikan IBK yang mandiri dan luar biasa sesuai kopetensi dan kemampuan yang dimiliki IBK,” pungkasnya.(imm/adv/lim)