Harga Bahan Pokok Melambung Tinggi, MinyaKita di Sebagian Pasar Mulai Langka
Malangtrend.com – Sepekan menjelang Ramadan, harga bahan pokok penting (bapokting) mulai melambung tinggi. Kenaikan harga di kisaran Rp 500 sampai Rp 3.000. Seperti gula, telur, bawang merah, bawang putih dan ayam potong. Sementara minyak goreng merk MinyaKita di sebagian pasar mulai langka.
Berdasarkan penelusuran Malang Posco Media di Pasar Pakisaji Kabupaten Malang, Selasa (10/2) kemarin, harga gula Rp 17 ribu per kilogram (kg) dari harga normal Rp 16,5 ribu. Sedangkan telur harganya rata-rata Rp 30 ribu per kg dari harga normal Rp 27 ribu. “Kenaikan tidak terlalu tinggi, tapi sudah mulai ada kenaikan,” ujar Sutekno, pedagang peracangan di Pasar Pakisaji kepada Malang Posco Media.
Ia menyebut, harga beras masih stabil seperti beras SPHP dengan harga Rp 60 ribu per 5 kg. Sedangkan beras premium merek Lahap dan Mentari harganya Rp 16 ribu per kg. “H-7 puasa biasanya naik. Tapi sekarang tidak menentu. Tergantung daya beli masyarakat,” lanjut pedagang berusia 60 tahun asal Desa Karangduren Kecamatan Pakisaji tersebut.
Sementara itu, ketersediaan stok beras di pasar masih dalam kondisi stabil. Namun, stok minyak goreng (migor) sulit didapat. Hal ini diduga karena ada pihak-pihak melakukan penampungan sebagai persediaan untuk kepentingan menjelang Lebaran seperti arisan.
“Minyak goreng sudah mulai agak sulit didapat. Karena biasanya orang buat arisan. Orang menaruh uang, nanti mau Lebaran diambil minyak. Nah itu, orang-orang sudah mulai menampung untuk persediaan,” beber Sutekno, mencontohkan.
Padahal, sebagian masyarakat memilih migor merek MinyaKita dengan harga Rp 18 per liter. Harga ini lebih murah dibandingkan migor merek lain. “MinyaKita per liter rata-rata di sini Rp 18 ribu. Merek lain harganya tinggi. Masyarakat memilih MinyaKita, sehingga saya menjual migor merek MinyaKita saja,” tandasnya.
Pedagang peracangan lainnya di Pasar Pakisaji, Suma’iah menyampaikan, harga telur yang semula Rp 26 ribu per kg naik menjadi Rp 29 ribu. Kenaikan ini terjadi sejak seminggu yang lalu. “Tapi kenaikan harga tersebut tidak terlalu tinggi. Kalau tinggi di atas harga Rp 30 ribu,” ujar perempuan berusia 54 tahun tersebut.
Ia juga menyebut harga beras masih stabil. Sementara itu, bawang merah dan putih harganya fluktuatif atau naik turun di kisaran antara Rp 1.000 sampai Rp 3.000. ‘’Harga bawang merah Rp 45 ribu per kg untuk yang super. Sedangkan bawang merah biasa harganya Rp 35 ribu per kg. Sedangkan bawang putih harganya Rp 33 ribu per kg,’’ terangnya.
Suma’iah mengaku tidak menjual migor MinyaKita karena sulit didapatkan sehingga ia menjual merek lainnya. “MinyaKita agak sulit. Di sales-nya banyak yang kosong. Biasanya saya jual MinyaKita per liter Rp 17,5 ribu,” ujarnya. Ia pun menjual merek lain seperti Fortune Rp 18,5 per liter dan Sanco Rp 39 per dua liter.
“Kalau untuk warung makan lebih suka Fortune. Sedangkan untuk rumah tangga tidak mesti, kadang Sanco kadang MinyaKita,” tandas Suma’iah.
Terpisah, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang Astri Lutfiatunnisa mengakui bila harga bapokting berupa gula dan telur mengalami kenaikan di pasaran, termasuk cabai rawit merah.
“Kalau sekarang kami pengawasannya masih dalam konteks kerja, harga dan ketersediaan. Karena ada beberapa bapokting memang pantauan kami memang benar gula dan telur mengalami kenaikan, termasuk cabai yang signifikan,” ujarnya.
“Kalau minyak (MinyaKita, red) di beberapa pasar terpantau aman. Ini hal baru kalau di Pasar Pakisaji memang langka. Karena seminggu yang lalu kami lakukan operasi pasar untuk minyak di lima pasar,” sambung Astri, yang juga sebagai Plt Kepala Disperindag Kabupaten Malang.
Ia menegaskan akan melakukan operasi pasar kembali terutama di Pasar Pakisaji yang terpantau MinyaKita sulit didapatkan.
Sementara di Kota Malang, harga ayam potong terpantau melambung tinggi. Salah satu pedagang di Pasar Bunulrejo Kota Malang Sunami mengatakan harga ayam potong per 10 Februari 2026, sudah menyentuh angka Rp 42 ribu. Padahal saat ini masih sekitar sepekan sebelum memasuki Bulan Ramadan.
“Ini sudah sepekan harga naik terus, mulai Rp 500 hingga Rp 1.000 per harinya. Bahkan dua hari terakhir, sudah lebih dari Rp 40 ribu per kilogramnya,” jelasnya.
Meskipun tidak menyurutkan minat pembeli untuk saat ini, risiko berkurangnya penjualan jelas mengintai. Pasalnya, kecenderungan masyarakat tidak melakukan substitusi daging ayam dengan kepala atau ceker, melainkan dengan komoditi lain. Seperti tahu, tempe dan jenis bahan lauk lainnya.
Hal senada juga disampaikan oleh pedagang ayam lain, Hasanah. Ia menjelaskan, bahwa kenaikan harga ini mulai terasa berat di kiosnya. “Saya biasanya menjual sekitar 100 ekor untuk mingguannya bahkan lebih. Kalau begini, penjualan mulai terasa turun cukup terasa,” jelasnya.
Di lapaknya sendiri, di beberapa waktu hingga akhir Januari 2026, harga ayam potong terbilang stabil. Paling tinggi di harga Rp 35 ribu, dan masih sering di bawah harga tersebut. “Bahkan di momen Lebaran tahun 2025 lalu, harganya masih di kisaran Rp 40 ribu. Ini belum masuk Ramadan tapi sudah Rp 42 ribu, bisa-bisa nanti waktu Ramadan atau Lebaran Idulfitri bisa tembus Rp 45 sampai Rp50 ribu,” jelasnya.
Hasanah mengatakan untuk jumlah stok tidak mengalami hambatan, hanya harga yang melambung tinggi. Terkait adanya informasi dari distributor soal naiknya harga penjualan, pihaknya menyebut karena permintaan cukup banyak di suplier. “Informasi dari distributor memang ada banyak permintaan saat ini. Mungkin untuk dapur-dapur yang sedang produksi makanan jumlah besar, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Semoga harganya kembali normal, karena sudah mulai banyak yang beralih ke tempe, tahu, dan sebagainya,” pungkasnya.(den/rex/lim/mtc)