Malangtrend.com – Padatnya kunjungan pasien dan keterbatasan lahan membuat UPT Puskesmas Wajak berharap untuk direlokasi. Dengan wilayah kerja mencapai 13 desa, fasilitas yang tersedia saat ini dinilai sudah tidak ideal untuk menopang pelayanan kesehatan masyarakat.
Kepala Puskesmas Wajak drg. Hennie Noerhayati menyebut rata-rata pasien rawat jalan mencapai lebih dari 100 orang per hari, sementara kapasitas rawat inap hanya 6–8 bed.
“Kalau Senin atau Kamis itu parkir sudah tidak bisa diatur. Pasien banyak yang tidak nyaman, apalagi yang bawa mobil,” ungkapnya.
Kondisi bangunan yang sempit membuat jarak antara ruang rawat inap dan rawat jalan kurang dari 10 meter. Hal ini berisiko terhadap penularan penyakit.
“Yang rawat inap ketemu langsung pasien batuk-pilek. Sulit kita siasati. Secara fasilitas sudah tidak layak untuk ukuran Puskesmas,” tegas drg. Hennie.
Ia mengaku telah mengajukan relokasi sejak 2023. Lokasi baru sempat diusulkan di kawasan Jauruman, namun hingga kini belum terealisasi.
“Harapan saya satu, bisa direlokasi. Karena selama ini pelayanan terkendala sarana-prasarana. Kalau tempatnya lebih luas, pelayanan pasti lebih maksimal,” ujarnya.
Keterbatasan ruang juga berdampak pada layanan rawat inap. Banyak pasien terpaksa dirujuk meski berharap dirawat di Puskesmas.
“Bukan kami tidak mau menerima, tapi tempatnya memang tidak ada. Dipaksakan juga tidak nyaman bagi pasien,” imbuhnya.
Padahal secara fasilitas dasar, Puskesmas Wajak telah memenuhi standar, mulai UGD, rawat inap, rawat jalan, laboratorium hingga USG. Tenaga medis pun relatif mencukupi dengan empat dokter umum dan dua dokter gigi, serta dua Puskesmas Pembantu (Pustu) di Bringin dan Patok Picis yang dibuka dua kali sepekan untuk mendekatkan layanan.
Di tengah keterbatasan itu, Puskesmas Wajak tetap menorehkan prestasi. Tahun 2025 lalu menerima penghargaan bidang layanan HIV serta capaian pemeriksaan kesehatan gratis. Berbagai inovasi berbasis komunitas juga terus berjalan, dari Posyandu Jiwa, Posyandu Disabilitas, hingga pemeriksaan kesehatan berbasis kegiatan keagamaan.
Namun drg. Hennie menegaskan, peningkatan kualitas layanan membutuhkan dukungan infrastruktur. “Kami ingin memberi pelayanan terbaik. Tapi tanpa relokasi, tetap tidak maksimal. Wilayah kami luas, 13 desa, sementara kapasitas hanya segini,” katanya.
Ia berharap rencana relokasi yang masuk program pengembangan puskesmas Kabupaten Malang segera terealisasi, agar masyarakat Wajak bisa mendapatkan layanan kesehatan yang lebih aman, nyaman, dan manusiawi. (bua/van/mtc)