Kepiawaian Zacharia-Arga Jebol Situs Website
Di tengah maraknya ancaman siber dan dunia digital yang kian kompleks, Zacharia Esen dan Ramadhan Arga Adiansyah membuktikan bahwa dari ruang kelas sederhana di SMKN 4 Malang, talenta besar bisa tumbuh. Kecermatan, ketekunan, dan kepiawaian dalam ‘mengotak-atik’ sistem di dunia maya membuatnya kini mulai diperhitungkan di tingkat Nasional.
Malangtrend.com – Di balik layar komputer yang dingin dan barisan kode yang tampak rumit, dua anak ABG ini saling berpandangan singkat. Tak banyak kata. Tapi jari-jari mereka cepat menari di atas keyboard. Di leaderboard, posisi terus berubah, saling kejar-mengejar poin, naik turun, menegangkan.
Dengan kekompakan dan kolaborasi yang ciamik, Zacharia dan Arga memenangkan kompetisi cyber security bergengsi, yaitu Fitcom 3.0 di Universitas Dinamika Surabaya, Oktober kemarin. ‘Duo Hacker’ itu sukses mengalahkan tim dari berbagai daerah di Indonesia.
Capaian ini menambah panjang prestasi bergengsi mereka sebelumnya. Diantaranya, seperti Junior Cyber Security Competition Komdigi Jawa Timur September kemarin, yang sukses masuk lima besar, hingga menjuarai C.O.D.E Challenge di Universitas Telkom Surabaya Agustus lalu.
“Fitcom 3.0 ini berat karena pakai leaderboard. Poinnya kejar-kejaran, bisa berubah sewaktu-waktu,” kenang Zacharia dengan raut wajah yang bersemangat saat menceritakan kembali momen prestisius tersebut, Rabu (17/12) ditemui di SMKN 4 Malang.
Ia pun menceritakan, saat Fitcom 3.0 tersebut. Ada dua sesi yang harus dilalui. Sesi pertama adalah Capture The Flag (CTF), sebuah arena yang berisi teka-teki cyber security. Peserta ditantang membongkar persoalan forensik digital, kriptografi, analisis log, hingga mencari celah pada sistem website.
Ini bukan suatu hal yang mudah. Sebab, saat masuk ke dalam teka-teki itu, seringkali menemui jalan buntu. Tiap kategori beda beda penanganannya. Sesi kedua pun makin jauh lebih menantang. Peserta benar-benar diminta menembus mesin atau website asli sampai ke servernya. Sehingga bukan sekedar menyelesaikan soal-soal saja. “Jadi kita berdua beneran menjebol, tapi tipe soalnya beda beda. Kita diberi file analisis, kami analisis celahnya dari mana, kelemahannya dimana,” sahut Arga.
Di antara puluhan tim, pesaing terberat sudah mereka kenali sejak awal. Sebab, mereka sudah sering bertemu di kompetisi yang sama. Yang paling berat yaitu ketika ada tim dari SMK Telkom Malang. Kendati begitu, sedikit pun Zacharia maupun Arga tidak pernah gentar ketika berkompetisi dengan lawan terberatnya tersebut. Justru, kehadiran lawan terberat bisa jadi motivasi untuk meraih yang terbaik. “Kami sudah cukup tahu kemampuan mereka, tapi kami tidak takut karena sudah latihan yang terbaik,” ucap Zacharia, remaja kelahiran Kota Baru Kalimantan Selatan, 27 Maret 2008 ini.
Zacharia dan Arga sendiri sebenarnya memang bukan duo dadakan. Siswa kelas 11 ini sudah cukup lama turun bersama di berbagai kompetisi. Menurut Zacharia, kuncinya justru pada perbedaan jurusan antara mereka berdua.
Zacharia berasal dari Jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), sementara Arga berasal dari Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Dari perbedaan jurusan tersebut, ternyata justru menciptakan duet tangguh yang cukup menakutkan bagi lawan lawannya. “Saya sudah klop dengan Arga. Karena ada kolaborasi antara TKJ dan RPL. RPL lebih ke coding, sedangkan TKJ lebih ke jaringan. Nah kan kompetisinya menggabungkan dua hal tersebut, jadi seperti sudah ada ‘job desc’ masing masing. Kalau kerjasama juga enak, sudah dapat chemistry-nya,” beber Zacharia, alumnus SMP Lab UM ini. “Sama seperti Zacha. Saya sering jadi satu tim dengan Zacha. Jadi memang sudah klop dan enak saja kerja sama dengan Zacha,” kata Arga mengamini.
Zacharia memilih Jurusan TKJ, awalnya hanya ingin mengenal teknologi lebih dalam. Namun setelah setahun belajar, dunia cyber security justru membuatnya jatuh hati.
Sementara Arga, remaja kelahiran 1 September 2008 itu sengaja memilih jurusan RPL, karena kecintaannya terhadap dunia komputer. Ia kemudian mulai mengenal hacker sejak kelas 10, ketika suatu saat muncul sebuah brosur mengenai open recruitment ekskul hacker. “Awalnya tidak tertarik tapi diajak teman akhirnya ikut. Tapi teman saya tiba tiba keluar, dan saya yang jadi tertarik. Ternyata seru,” kenang Arga, alumnus SMPN 15 Malang tersebut.
Pasca kompetisi Fitcom 3.0 di Universitas Dinamika Surabaya, Zacharia dan Arga kini membidik kompetisi serupa yang juga cukup bergengsi. Yakni kompetisi cyber security di Lomba Kompetensi Siswa (LKS) yang digelar tiap tahunnya. Mereka yakin dan optimis bisa menaklukkan tantangan di ajang tersebut.
Dengan kiprah dan prestasi yang makin berkilau, Zacharia dan Arga saat ini sudah mulai memetakan mimpi dan cita citanya kedepan. Cita cita mereka mulai bercabang, meski tetap di dunia yang sama. Zacharia ingin benar-benar berkecimpung di bidang cyber security, khususnya forensik digital.
Sementara Arga ingin jadi programmer, yakni membuat program atau aplikasi. Sedangkan cyber security menjadi pekerjaan sampingan. “Saya lebih suka di bidang forensik, menganilis serangan serangan di website, server. Jadi misal ada serangan harus tau mau apa untuk melindunginya. Jadi seperti konsultan siber security,” jelas Zacharia.
Sementara itu, Guru Pembimbing di SMKN 4 Malang Sotya Renaningwibi menyampaikan, kedua anak didiknya itu memang mempunyai bakat dan passion luar biasa di bidang cyber security. Keduanya rutin berlatih tiap Minggu, namun ketika mendekati kompetisi bisa lebih intensif menjadi latihan setiap hari.
“Mereka menekuni ini karena memang passion mereka. Nah kami sebagai guru, selain skill, yang perlu ditanamkan adalah etika. Kalau ingin skill itu bisa jadi karir yang baik dan bermanfaat, itu harus beretika. Tidak hack sembarangan tapi bisa menyalurkan bakat menjadi prestasi. Supaya tidak disalahgunakan bakatnya,” tutur Sotya. (ian/udi/mtc)