Pemkot Batu melalui Dinas Kesehatan memastikan program pemerintah pusat berupa Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah direalisasikan. Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan (PSDK) Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin. “Hingga 11 November 2025 jumlah masyarakat Kota Batu yang memanfaatkan program PKG mencapai 40.494 orang. Jumlah tersebut mencakup semua usia,” kata Icang kepada Malang POSCO Media.
Ia mencontohkan untuk CKG yang telah dilaksankan oleh Dinas Kesehatan Kota Batu adalah sekolah-sekolah. Program ini menyasar anak usia 7 hingga 17 tahun dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA. “Di sekolah-sekokah, program CKG ini ditujukan pada anak usia sekolah untuk identifikasi faktor risiko kesehatan, deteksi dini kondisi pra penyakit dan deteksi penyakit lebih awal,” benernya.
Untuk pemeriksaan kesehatan gratis meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, tensi, Hb, gula darah, screening jiwa dan screening merokok. Lebih lanjut, usai dilakukan pemeriksaan kesehatan, hasilnya akan dilakukan analisis oleh Dinas Kesehatan Kota Batu. Selanjutnya akan dilaporkan ke sekolah tersebut dan Kepala Dinas untuk dilakukan evaluasi.
“Tidak berhenti disitu, kami akan lakukan intervensi lebih lanjut dari hasil analisis. Misalnya ketika ada siswa yang diketahui sebagai perokok aktif atau pasif dari hasil screening, maka ada intervensi lebih lanjut dengan dilakukan edukasi dan konseling,” paparnya.
Contohnya lagi, ketika ada siswi yang memiliki Hb tinggi akan diberikan edukasi dan mendapat tablet tambah darah ke sekolah-sekolah tersebut. “Selain pemeriksaan kesehatan, kami juga melakukan sosialisasi terkait kesehatan remaja. Mulai dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), anemia, HIV dan sosialisasi bahaya NAPZA (Narkoba, Alkohol dan Penyalahgunaan Zat Lainnya,” paparnya.
Selain pada anak sekolah program, CKG juga dilaksanakan di event yang digelar Pemkot Batu seperti CFD maupun event lainnya. Bahkan juga menyasar pengemudi ojol dan angkot di Kota Batu. “Dari hasil CKG, untuk Kota Batu ada 10 penyakit yang banyak diderita warga Kota Batu pada 2024 antara lain, hipertensi esensial, rhinitis akut, infesi saluran pernapasan atas (ISPA), diabetes mellitus, gastritis, myalgia, influenza, ginggivitis, faringitis acute, Observasi febrrhiniti,” pungkasnya.
Sementara itu Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Malang juga sudah berjalan hampir setahun sejak mulai digulirkan pada awal Februari lalu. Selama pelaksanaan program tersebut, sudah banyak masyarakat di Kota Malang yang memanfaatkannya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Malang Meifta Eti Winindar menyampaikan, CKG yang digelar secara rutin selama hari kerja ini telah menyasar hingga ratusan ribu masyarakat di Kota Malang. “Untuk CKG ini sudah berjalan dengan baik dan lancar. Kami sudah melakukan skrining ke lebih dari 150 ribu orang, malah hampir 200 ribu orang ya,” ungkap Meifta, Selasa (11/11).
Meifta menyebut pelaksanaan CKG tidak hanya dilakukan di 16 Puskesmas yang ada di Kota Malang. Akan tetapi pihaknya juga menggencarkan ke sekolah hingga ke event-event yang dihadiri masyarakat luas. “Kami lakukan masif, di setiap event kami juga lakukan CKG. Jadi tidak hanya di Puskesmas, tapi di tempat lain juga,” tegas Meifta.
Disampaikan Meifta, CKG ini merupakan salah satu bentuk deteksi dini terhadap potensi sejumlah penyakit yang berat. Diharapkan dengan upaya seperti ini, masyarakat yang memiliki masalah atau gangguan kesehatan bisa segera diobati atau segera dirujuk untuk mendapatkan penanganan.
Sebagai bentuk pencegahan, pihaknya telah rutin memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Harapannya agar terbangun gaya hidup yang lebih sehat. “Terpenting, pola hidup sehatnya yang harus ditingkatkan. Aktifitas fisik, pola makan, tidak merokok, istirahat cukup dan sebagainya,” sebut dia.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Husnul Muarif menyebut, ada beberapa penyakit atau gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan. “Yang paling banyaknya ya masih hipertensi terutama yang di usia 50 tahun keatas. Lalu diabetes cukup banyak, sekitar 10-20 persen,” sebut Husnul.
Sedangkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Malang terlaksana dengan sangat baik. Terbukti sejak awal dilaksanakan pada Febuari, hingga Senin (10/11) lalu CKG telah dilakukan pada 342.223 orang. Jumlah itu mencatat Kabupaten Malang masuk dalam 10 besar terbanyak se Jawa Timur. “Total kami melaksanakan CKG pada 342.223 orang. Terbanyak nomor 9 se Jatim,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo.
Doketr Wie bigitu drg Wiyanto Wijoyo akrab dipanggil, mengaku CKG merupakan program Presiden Prabowo Subianto dalam rangka mencapai visi bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas. Di Kabupaten Malang dilaksanakan sejak Febuari lalu. Dengan sasaran mulai dari bayi baru lahir sampai dengan lansia.
Penyakit paling banyak ditemukan, Dokter Wie mengatakan karies gigi. Ditemukan ada 45.306 dari 187.306 orang yang diperiksa. “Prosentasenya tinggi untuk karies gigi, yakni 44,56 persen,’’ kata mantan Kepala Puskesmas Pakis ini.
Dia menyebutkan, 187.306 orang yang diperiksa berusia di bawah 18 tahun. Selain karies gigi, hipertensi juga ditemukan paling banyak. Jumlahnya 36.177 jiwa dari 187.306 atau 20,66 persen.
Dia menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan karies gigi. Diantaranya Konsumsi gula berlebihan, kebersihan gigi yang buruk, menggunaan botol susu saat tidur, kurangnya Fluoride dan Faktor Genetik.
Sedangkan faktor penyebab hipertensi, kata Dokter Wie, karena Stres, konsumsi garam berlebih, kebiasaan merokok, obesitas, dan konsumsi alkohol berlebih. “Untuk pencegahan karies gigi pada anak-anak yaitu dengan menyikat gigi secara teratur, membatasi konsumsi gula, rutin periksa ke dokter gigi, dan Gunakan Fluoride sesuai anjuran,’’ katanya.
Sedangkan untuk pencegahan hipertensi dapat dilakukan dengan Diet Sehat, Olahraga,Hindari Alkohol dan Rokok, Manajemen Stres. Dokter Wie juga mengatakan CKG tetap dilaksanakan sampai saat ini. “Warga Kabupaten Malang boleh langsung datang mengikuti program cek kesehatan gratis. Bisa langsung ke Puskesmas, atau ke Puskesmas Pembantu dan Posyandu,’’ pungkasnya. (eri/ian/ira/udi)