Malangtrend.com – Arema FC tak luput dari denda imbas pertandingan tensi tinggi di markas Persebaya pada pekan 13 BRI Super League 2025/2026. Tim Singo Edan mendapatkan denda sebesar Rp 80 juta karena kartu kuning yang didapatkan para pemainnya.
Dalam putusan Komdis PSSI, Arema FC didenda karena tujuh pemain mendapatkan kartu kuning dalam satu pertandingan. Selain itu, ada official tim yang terkena kartu kuning.
“Pertandingan: Persebaya Surabaya vs Arema FC, 22 November 2025.Jenis Pelanggaran: 7 orang pemain dan 1 orang ofisial yang mendapatkan kartu kuning Keputusan: denda Rp. 80.000.000,” bunyi putusan Komdis PSSI dari hasil sidang pada 25 November 2025.
Dalam laga berkesudahan 1-1 tersebut, tujuh pemain Arema FC yang mendapatkan kartu adalah Lucas Frigeri, Dalberto, Matheus Blade, Betinho, Rifad Marasabessy, Salim Tuharea dan Anwar Rifai. Selain itu, Matheus Blade akhirnya mendapatkan kartu merah.
Sebaliknya, di kubu Persebaya ada tiga pemain mendapatkan kartu kuning. Yakni Gali Freitas, Bruno Moreira dan Milos Raickovic.
Terkait banyaknya kartu kuning dan berujung denda, Pelatih Arema FC Marcos Santos mengakui, sudah berusaha meminimalisir agar anak asuhnya tidak gampang mendapatkan kartu. Akan tetapi, dalam suatu pertandingan, dia tidak bisa menampik bila situasi yang berdampak kartu terkadang tak bisa terhindarkan.
“Kartu kuning, apalagi merah pasti merugikan tim. Namun terkadang wasit dalam situasi tertentu seperti tidak adil, terlalu cepat memberikan kartu kepada pemain,” kata dia.
Termasuk ketika dirinya juga sempat mendapatkan kartu kuning di pekan 14 saat lawan Malut United. Menurutnya, ada andil wasit keempat, yang turut memengaruhi keputusan sang wasit utama.
“Karena tensi pertandingan, saya sempat meninggalkan area teknis. Sebenarnya bukan wasit utama penyebabnya. Justru wasit keempat yang tidak membiarkan saya bekerja di sana. Sangat sulit. Dia tidak membiarkan saya bekerja dengan leluasa sepanjang waktu, bahkan tidak mengizinkan saya memanggil penerjemah untuk berbicara dengan pemain,” kata Marcos.
Dia menilai, hukuman kartu adalah bagian dari sebuah pertandingan. Namun, tentunya dia mau timnya mau lebih berhati-hati lagi agar tidak mudah terkena hukuman, apalagi berujung denda.
“Ini bagian dari sepak bola. Saya terima (dapat kartu). Saya salah meninggalkan area teknis. Itu memang bukan salah siapa pun selain saya,” pungkasnya. (ley/jon/mtc)