Malangtrend.com – Kali Paron di Dusun Beru, Desa/Kecamatan Bumiaji, kembali menjadi langganan banjir. Setelah sempat terkendali sepanjang 2024 hingga sebagian 2025, luapan air kembali terjadi pada musim hujan akhir 2025 hingga awal 2026.
Terbaru, pada Minggu (4/1) malam kemarin, Kali Paron meluap akibat tingginya curah hujan. Peristiwa tersebut mengakibatkan sekitar enam rumah terdampak banjir dan satu kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi. Menanggapi kejadian itu, Wali Kota Batu Nurochman bersama Wakil Wali Kota Heli Suyanto turun langsung meninjau lokasi terdampak di Dusun Beru.
“Peninjauan kami pusatkan di Dusun Beru. Namun perhatian pemerintah juga tertuju pada dua titik luapan utama, yakni Desa Bulukerto dan Desa Bumiaji,” ujar Nurochman, yang akrab disapa Cak Nur, kepada Malang Posco Media, kemarin.
Ia menerangkan bahwa dalam peninjauan turut hadir Kepala Dinas DPUPR, Kalaksa BPBD dan jajaran Kecamatan Bumiaji. Kehadiran stake holder terkait untuk merespons cepat keluhan warga terkait tingginya debit air yang membawa material lumpur setiap kali hujan deras.
“Untuk mencari solusi jangka panjang, kami telah instruksikan DPUPR segera melakukan foto udara untuk pemetaan sungai dan kanal-kanal banjir eksisting. Selanjutnya data ini akan memudahkan pemerintah dalam melakukan pemetaan dan intervensi kebijakan, termasuk rencana menambah kanal-kanal baru atau sudetan untuk memecah debit air,” tegas Cak Nur.
Namun, Wali Kota menekankan bahwa penambahan infrastruktur fisik bukan satu-satunya solusi. Cak Nur menyoroti persoalan alih fungsi lahan yang memicu banjir lumpur. Menurutnya, komitmen masyarakat dalam menjaga kawasan hulu sangat krusial.
“Pemerintah akan menambah sudetan, tapi perilaku masyarakat terkait alih fungsi lahan harus menjadi komitmen bersama. Masyarakat pengelola hutan harus berpikir jangka panjang bahwa ada saudara-saudara kita di posisi bawah yang harus dipertimbangkan keselamatannya. Kepatuhan terhadap ketentuan pemanfaatan kawasan hutan adalah kunci,” tambahnya.
Terkait langkah yang sudah diambil, Wali Kota menjelaskan bahwa BPBD sebenarnya telah melakukan upaya mitigasi beberapa bulan lalu. Namun, kendala utama di lapangan adalah aliran air yang membawa material berat.
“Sebanyak apapun kanal dan sudetan sungai, tetap tidak akan bisa menampung jika air membawa material lumpur, sampah, hingga potongan kayu. Inilah mengapa kesadaran menjaga hutan dan tidak membuang sampah ke aliran sungai menjadi sangat penting agar upaya mitigasi kami di hilir tidak sia-sia,” tandasnya. (eri/aim/mtc)