Malangtrend.com – Keluhan tubuh terasa tidak enak, mual, atau nyeri dada kerap langsung dianggap sebagai “masuk angin”. Padahal, tidak semua gejala tersebut dapat disamakan. Ada kondisi yang jauh lebih serius, seperti angin duduk (angina) hingga serangan jantung, yang membutuhkan penanganan medis segera.
Kesalahan mengidentifikasi gejala sering berakibat fatal. Angin duduk dan serangan jantung memang kerap menyerupai masuk angin, sehingga banyak orang abai dan terlambat mencari pertolongan. Memahami perbedaan ketiganya menjadi penting agar langkah penanganan tidak salah dan keselamatan tetap terjaga.
Berdasarkan informasi dari situs Heartology dan berbagai sumber, berikut perbedaan masuk angin, angin duduk, dan serangan jantung.
1. Masuk Angin
Dalam masyarakat, istilah masuk angin digunakan untuk menggambarkan kondisi tidak enak badan, mulai dari kembung, pegal-pegal, sering bersendawa, hingga mual. Namun, secara medis masuk angin tidak dikenal sebagai penyakit.
Keluhan ini sebenarnya lebih mendekati gangguan pencernaan seperti GERD (refluks asam lambung), yang terjadi ketika otot katup bawah kerongkongan melemah sehingga asam lambung naik ke atas. Faktor risiko GERD meliputi obesitas, kehamilan, bertambahnya usia, hingga gastroparesis.
Gejalanya mencakup sesak napas, perut terasa penuh, sering bersendawa, mual, ataupun muntah.
2. Angin Duduk (Angina)
Berbeda dengan masuk angin, angin duduk adalah kondisi medis serius. Dalam istilah medis dikenal sebagai angina pectoris, yaitu nyeri dada akibat aliran darah yang tidak mencukupi untuk mengalir ke jantung. Penyebabnya adalah pembuluh darah yang menyempit atau mengeras sehingga jantung kekurangan oksigen.
Keluhan angina biasanya berupa tekanan atau rasa terhimpit di dada, yang dapat menjalar ke rahang, leher, punggung, hingga lengan kiri. Gejala lain yang menyertai antara lain sesak napas, gelisah, mual atau nyeri mirip gerd, pusing, keringat dingin, dan tubuh terasa lemah.
3. Serangan Jantung
Serangan jantung merupakan kondisi paling berbahaya. Biasanya berawal dari penyakit jantung koroner, namun dipicu banyak faktor risiko seperti kolesterol tinggi, merokok, kurang olahraga, diabetes, hipertensi, obesitas, hingga stres.
Ketika pembuluh darah koroner tersumbat total, aliran darah terhenti dan otot jantung mengalami kerusakan. Kondisi ini dapat mengancam nyawa dalam hitungan menit. Gejalanya sering menyerupai masuk angin atau angin duduk, sehingga banyak pasien terlambat ditangani.
Meski keluhan ketiganya dapat terlihat mirip, masuk angin, angin duduk, dan serangan jantung memiliki penyebab serta tingkat bahaya yang berbeda. Karena itu, masyarakat diminta tidak meremehkan nyeri dada atau menganggapnya sekadar masuk angin.
Jika gejala terasa berbeda dari biasanya, muncul tiba-tiba, atau disertai sesak napas, keringat dingin, dan nyeri menjalar, segera cari pertolongan medis. Deteksi dini dan tindakan cepat dapat menyelamatkan nyawa serta mencegah kerusakan jantung permanen. (ntr/aim/mtc)