Malangtrend.com – Sanksi denda Arema FC kembali bertambah. Terbaru, denda didapatkan Tim Singo Edan imbas lima kartu kuning ditambah kehadiran suporter saat laga di markas Persija Jakarta pada pekan ke-20 BRI Super League 2025/2026 yang berlangsung 8 Februari lalu. Total denda sebesar Rp 75 juta tersebut semakin menambah daftar hukuman yang harus diterima Arema FC sepanjang musim ini.
Di tengah masih berlakunya larangan suporter tandang, denda sebesar Rp 25 juta dijatuhkan karena adanya kehadiran suporter Arema FC di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Sementara itu, tim Arema FC juga dikenai denda Rp 50 juta akibat lima kartu kuning yang diterima, dengan rincian empat pemain dan satu official (pelatih).
Dua keputusan tersebut diambil oleh Komite Disiplin PSSI berdasarkan sidang yang digelar pada 10 Februari 2026 lalu. Dalam Surat Keputusan bernomor 155/L1/SK/KD-PSSI/II/2026, Arema FC didakwa dalam kasus Tingkah Laku Buruk Tim pada laga tandang melawan Persija. Dalam pertandingan tersebut, empat pemain Arema serta pelatih kepala Marcos Santos sama-sama menerima kartu kuning. “Arema FC melanggar Kode Disiplin PSSI 2025 karena 4 pemain mendapat kartu kuning dan 1 ofisial mendapat kartu kuning. Keputusannya, Komdis PSSI melayangkan denda: Rp 50 juta berdasarkan Pasal 53 ayat (1) huruf a Kode Disiplin PSSI 2025,” tulis Komdis PSSI dalam surat keputusannya.
Kasus kedua yang membuat Arema FC kembali disanksi adalah kehadiran Aremania pada pertandingan yang sama melawan Persija. Dalam perkara tersebut, Arema sebagai tim tamu dijatuhi denda Rp 25 juta berdasarkan Pasal 5 ayat (7) dan (11) Regulasi Liga.
Tambahan denda ini melengkapi sejumlah hukuman yang sebelumnya telah dijatuhkan Komdis sepanjang kompetisi berjalan. Pada pekan ke-17 misalnya, saat menjamu Persik Kediri, Arema FC mendapat sanksi Rp 60 juta akibat insiden psywar kembang api di hotel tim tamu. Dalam kasus tersebut, panitia pelaksana pertandingan juga harus membayar denda Rp 40 juta.
Sementara pada pekan ke-16, Arema kembali dikenai sanksi Rp 25 juta saat bertandang ke markas Bali United karena adanya Aremania sebagai suporter tamu. Hukuman lain datang pada pekan ke-13 ketika menghadapi Persebaya Surabaya. Delapan kartu kuning yang diterima pemain membuat klub harus membayar denda Rp 80 juta.
Selain sanksi kepada tim, beberapa pemain Singo Edan juga mendapat hukuman individual dari Komdis karena kartu merah yang diterima di lapangan. Pada pekan ke-12, Julian Guevara dijatuhi denda Rp 10 juta usai laga melawan Persija. Kemudian pada pekan ke-6, Bayu Setiawan juga mendapat denda Rp 10 juta saat menghadapi Persib Bandung. Pada pertandingan yang sama, panpel turut dikenai denda Rp 25 juta akibat kehadiran suporter tamu.
Adapun pada awal musim, sanksi serupa juga diterima pemain Arema FC Betinho yang didenda Rp 10 juta pada pekan ke-4 saat melawan Persijap Jepara. Bahkan sebelumnya di pekan ke-2, Yann Motta juga dikenai denda Rp 10 juta ketika menghadapi PSIM Yogyakarta setelah menerima kartu merah.
Dengan tambahan hukuman terbaru tersebut, total denda yang berkaitan dengan Arema FC hingga pekan ke-20 mencapai Rp 340 juta. Catatan ini menunjukkan persoalan disiplin masih menjadi perhatian bagi tim Singo Edan, baik terkait akumulasi kartu di lapangan maupun pelanggaran yang melibatkan suporter sepanjang musim kompetisi berjalan.
Terkait denda dalam laga melawan Persija ini, sejatinya manajemen Arema FC sudah memperkirakan akan menerima sanksi ketika mendapati dukungan suporter di SUGBK. General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi mengaku pasrah dengan keputusan tersebut. “Denda itu sudah risiko kita. Ya sudahlah, mau gimana lagi, toh secara sikap Aremania datang dengan sopan, gak anarkis, gak neko-neko di Jakarta,” kata Yusrinal.
Manajer yang akrab disapa Inal itu berharap federasi segera mencabut aturan larangan suporter tandang. Ia menilai kemesraan antara Aremania dan Jakmania pada laga tersebut bisa menjadi pertimbangan sekaligus contoh baik bagi suporter di sepak bola Indonesia. “Di satu sisi memang kita berharap regulasi larangan suporter away itu segera dicabut. Tetapi kita juga harus membuktikan kalau Aremania memang layak untuk menikmati pencabutan regulasi itu, termasuk mungkin suporter klub lain juga demikian,” pungkas Inal.
Sementara itu, terkait denda untuk tim karena banyaknya kartu kuning dalam satu laga, pelatih Arema FC Marcos Santos mengaku belum bisa memberikan tanggapan lebih jauh. Dia mengakui salah satu kartu kuning memang diterimanya setelah insiden dengan pelatih Persija, Mauricio Souza, di pinggir lapangan di akhir laga. “Lima kartu kuning? Siapa saja? Saya baru tahu, saya tidak tahu. Tapi saya belum paham regulasinya (berapa kartu, denda berapa). Saya menunggu informasi soal itu baru bisa berkomentar. Selain itu, kalau manajemen beri tahu saya sebagai pelatih, baru akan menekankan juga untuk bicara ke pemain. Jadi saya belum berani mengomentari,” sebut Marcos. (ley/udi/mtc)