Ilustrasi – Seseorang mengalami rasa gatal akibat alergi makanan. ANTARA/HO-monstArrr_ dari iStockphoto
MALANGTREND.ID – Banyak orang masih mengira keracunan makanan dan alergi makanan adalah hal yang sama. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda, mulai dari penyebab, gejala, hingga cara terjadinya.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan, kesalahan memahami dua kondisi ini masih sering ditemukan, baik di masyarakat maupun dalam pemberitaan.
“Keracunan menimpa siapa pun yang memakannya, alergi hanya menimpa orang tertentu. Karena itu, keracunan bisa menjadi wabah, sementara alergi tidak,” kata Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K), dalam diskusi media di Jakarta.
Keracunan Makanan Bisa Menyerang Siapa Saja
Menurut Yogi, keracunan makanan terjadi setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, racun, maupun bahan kimia.
Karena sumbernya berasal dari makanan yang tercemar, siapa pun yang mengonsumsinya berisiko mengalami gejala serupa.
Gejala yang paling sering muncul antara lain:
- Mual
- Muntah
- Diare
- Nyeri perut
- Demam
- Pusing
Keluhan biasanya muncul beberapa jam hingga satu atau dua hari setelah makanan dikonsumsi.
Karena dapat menyerang banyak orang sekaligus, kasus keracunan makanan juga berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB).
Alergi Makanan Dipicu Sistem Imun
Berbeda dengan keracunan, alergi makanan terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap protein tertentu dalam makanan.
Artinya, hanya orang yang memang memiliki sensitivitas terhadap makanan tersebut yang akan mengalami reaksi alergi.
Gejalanya bisa muncul sangat cepat, mulai beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi makanan pemicu.
Beberapa tanda alergi yang perlu diwaspadai antara lain:
- Gatal-gatal
- Bibir atau kelopak mata bengkak
- Biduran
- Sesak napas
- Penurunan kesadaran
Karena sifatnya individual, alergi makanan tidak akan menular atau menyebabkan banyak orang mengalami gejala secara bersamaan.
Kenapa Anak dan Remaja Lebih Rentan?
Menurut Yogi, anak-anak dan remaja lebih mudah mengalami dampak serius akibat keracunan makanan.
Hal ini karena cadangan cairan tubuh mereka lebih sedikit sehingga lebih cepat mengalami dehidrasi. Selain itu, sistem kekebalan tubuh dan saluran pencernaan anak juga belum berkembang sempurna.
Risiko semakin tinggi karena anak dan remaja lebih sering makan di luar rumah, seperti di kantin sekolah atau membeli jajanan di pinggir jalan.
Pada anak usia kecil, gejala keracunan juga sering sulit dikenali karena mereka belum mampu menjelaskan keluhan yang dirasakan. Anak biasanya hanya terlihat lebih pendiam, lemas, atau tidak seaktif biasanya.
Data BPOM: Remaja Paling Banyak Terdampak
Berdasarkan data Pusat Analisis Kebijakan Obat dan Makanan BPOM tahun 2024, terdapat 1.164 kasus keracunan obat dan makanan di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, 806 kasus berasal dari makanan dan minuman.
Sementara itu, sekitar 42,96 persen kasus terjadi pada kelompok usia 12 hingga 25 tahun, sehingga remaja menjadi kelompok yang paling banyak terdampak.
Memahami perbedaan antara keracunan dan alergi makanan penting agar penanganan yang diberikan lebih cepat dan tepat. Jika muncul gejala berat seperti sesak napas, muntah terus-menerus, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis.(ntr/mpm/bua)





