Malangtrend.com – Di usia yang baru menginjak 20 tahun, Lukman Hakim Arifin telah membuktikan bahwa inovasi dan kemandirian bisa lahir dari desa. Dari kandang kambing sederhana di rumahnya, RT 02 RW 01 Desa Rembun, Kecamatan Dampit Kabupaten Malang ia membangun wirausaha sosial yang bukan hanya menghidupi dirinya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Usaha itu bernama Embik Farm. Berawal dari usaha kecil milik ayahnya, Lukman meneruskan semuanya saat berstatus mahasiswa baru, tepat setelah sang ayah meninggal dunia.
“Usaha saya namanya Embik Farm bergerak di bidang peternakan kambing. Awalnya punya bapak saya. Waktu saya maba, bapak tidak ada. Kemudian saya lanjutkan,” ujarnya, Selasa (18/11).
Awalnya, Lukman tak memahami dunia peternakan. Namun tekadnya untuk belajar tak surut. Ia mendaftar program P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha) UMM pada 2024 dan mulai mempelajari cara memperbarui sekaligus memasarkan usaha keluarga itu.
“Kalau tahap awal itu mahasiswa yang ingin memulai usaha dari nol dianggarkan Rp 15 juta. Sedangkan tahap bertumbuh itu usaha yang telah berjalan satu tahun dianggarkan Rp 20 juta. Tapi anggaran yang kita ajukan tidak sepenuhnya cair,” jelasnya.
Berbekal pelatihan tersebut, Embik Farm kini berkembang menjadi usaha berbasis produk. Mulai dari susu kambing, es krim susu kambing, hingga pupuk organik. Enam reseller telah bergabung dan tersebar di Kecamatan Tumpang, Dau, Gondanglegi, Singosari, Kota Malang, serta di rumah produksinya. Penjualan kambing sendiri meningkat saat momentum Idul Adha.
Tak berhenti di situ, tahun 2025 Lukman kembali mengikuti P2MW untuk mempertajam kemampuan sekaligus berbagi ilmu kepada masyarakat.
“Masyarakat sebagai program mitra dengan berbagai hasil untuk menumbuhkan ekonominya. Kemudian juga reseller mendapat pendapatan dari penjualan susu kambing,” ujar mahasiswa Agribisnis semester lima FPP UMM tersebut.
Ketika menjadi pemateri, ia pandai menyesuaikan diri dengan audiens. Pada kelompok bapak-bapak, ia fokus pada cara menemukan konsumen dan teknik merawat ternak. Sementara kepada mahasiswa, ia menjelaskan peluang mendapatkan penghasilan harian.
“Saya juga menjelaskan bagaimana anak muda ini mendapat penghasilan harian, baik melalui bisnis online, offline, jasa, maupun properti,” imbuhnya.
Lukman juga piawai membaca pasar. Susu kambing ia arahkan untuk segmen bapak dan ibu, karena manfaatnya lebih banyak dibanding susu sapi.
“Banyak disarankan dokter untuk penguatan tulang, daya ingat maupun memperbaiki organ dalam lainnya. Kalau di saya, harga susu kambing dijual Rp 30 ribu per liter,” paparnya.
Segmen anak muda ia dekati melalui produk es krim susu kambing yang lebih mudah diterima. Sementara pupuk organik menyasar petani. Semua produk tersedia dalam kemasan siap jual dari botol 250 ml dan 500 ml hingga cup es krim. Para reseller yang belum memiliki fasilitas penyimpanan juga ia bantu dengan menyediakan freezer.
Perjalanan bisnisnya pun mulai menarik perhatian investor. Meski omzet awal masih fluktuatif, antara Rp 1 juta hingga Rp 5 juta per bulan, namun Lukman tak gentar. Visi wirausaha sosial tetap ia pegang: tumbuh bersama masyarakat.
“Orang yang berwirausaha yang bermanfaat bagi masyarakat, contohnya meningkatkan ekonomi dan sumber daya manusia. Mungkin dari ilmu yang saya bagikan dapat membuka pintu rezeki bagi masyarakat,” ungkap alumnus SMAN 1 Turen yang juga Juara 1 Entrepreneur Day UMM tersebut.
Dari desa kecil di Dampit, semangat wirausaha itu pun terus berkembang menjadi contoh bahwa inovasi bisa hadir dari mana saja, asalkan ada keberanian untuk memulai. (den/aim/mtc)