Skip to main content

Malang Trend

Persebaya Juaranya, Mungkin Ya!

Persebaya Juaranya, Mungkin Ya!

MALANGTREND.ID – Lama gak bikin catatan tentang Arema. Mulai lagi. Pas momen ada gelaran Piala Presiden 2026 yang hari ini laga terakhir. Laga perebutan juara 3 dan final penentuan juara, digelar hari ini, Kamis 6 Agutus 2026.

Jangan tanya lelahnya pemain, yang baru bertanding di semifinal, hari Selasa (4/8), sore dan malam. Ada selisih waktu, yang biasanya itu dibuat pembeda kondisi pemain masing-masing tim.

Ya, kalau mau ngikut aturan FIFA, organisasinya sepakbola dunia, pemain wajib mendapatkan waktu istirahat minimal 72 jam atau 3 hari, di antara dua pertandingan guna pemulihan fisik dan mental.

Barangkali panitia Piala Presiden akan berdalih, ini bukan pertandingan resmi FIFA. Lagian tim peserta juga gak ada yang protes. Ya jelas tanpa protes, karena mereka dalam posisi yang mau gak mau, harus mau.

Harap maklumlah. Yang diiukuti aturan jadwal tayang di televisi. Harus sesuai tanggal pemilik hak siar. Selasa tampil, Kamis tampil lagi. Semacam jadwal hiburan sirkus.

Lebih dari itu, ada semacam ‘kutukan’ kalau juara Piala Presiden, gak bakalan juara di kompetisi resmi atau di Liga Indonesia. Biasanya malah terpuruk.

Bisa jadi, sudah habis-habisan di Piala Presiden. Beneran habis di kompetisi resmi. Selain lelah atau pemain cedera, juga gaya permainan, kekuatan dan kelemahannya sudah terbaca.

Lalu siapa juara Piala Presiden 2026?

Sayangnya bukan Arema yang kalah tipis 0-1 dari Persebaya di babak semifinal. Ya dari awal manajemen Singo Edan memang gak berani narget juara. Antara gak berani, atau malu-malu kucing.

Berdalih untuk uji coba komposisi pemain dan strategi pelatih, jadinya seperti iseng-iseng berhadiah. Padahal ekspektasi kita semua, berharap Arema raih juara kelima Piala Presiden.

Lumayan hadiahnya jika juara, Rp 8 miliar. Hanya untuk beberapa pertandingan saja. Bandingkan juara Liga Indonesia dengan sekian banyak pertandingan, hadiahnya Rp 10,5 miliar.

Saya yakin, Arema sebenarnya ingin juara, tapi apalah daya, gol tandukan Yuran Fernandes menit 45+6, jadi satu-satunya gol penentu kemenangan Persebaya untuk melaju ke final.

Jujur, Arema sebenarnya bukan bermain jelek. Setidaknya dari penguasaan bola dan banyaknya peluang, Alfarizi dkk rasanya lebih unggul. Hanya saja, barisan penyerang Singo Edan masih ompong.

Absennya seorang Gustavo Henrique di lini depan Arema, sangat berpengaruh dalam penyelesaian akhir tim asuhan Marcos Santos. Striker asal Brasil itu cedera usai mengantarkan Arema lolos ke semifinal.

Problem finishing lini depan tentu jadi pekerjaan rumah bagi Arema sebelum tampil di Liga. Ini bukan soal gak ada pemainnya, tapi masalah finishing touch.

Barisan penyerang Arema sudah cukup banyak. Khususnya penyerang asing, Arema punya Joel Vinicius, Gustavo França Amadio, Gabriel Silva (Gabi), Careca, Marcos Vinicius dan Gustavo Henrique Rodrigues.

Semua penyerang ini berasal dari Brasil, yang tentu kita ketahui bersama, negara ini merupakan penghasil lini depan yang moncer.

Tapi kalau hanya satu yang bisa diandalkan, mungkin salah pilih, atau pelatihnya gak bisa memoles. Eman kalau sekian penyerang asing itu gak bisa dimaksimalkan.

Seperti saat lawan Persebaya, sudah ganti formasi, hasilnya juga sama, tak bisa cetak gol. Mungkin juga karena taktik strateginya masih sama. Istilah si komentator Indosiar, gameplan-nya sama.

Terlepas permainan Singo Edan yang kurang sangar, kurang menggigit, harus diakui taktik strategi Bajul Ijo cukup efektif. Memperkuat pertahanan, melakukan serangan, maksimalkan bola-bola mati.

Cukup manfaatkan satu peluang dari tendangan sudut jadi gol, dari total 4 kali corner kick yang didapat Persebaya.  Sedangkan Arema, dari 7 tendangan sudut, gak ada yang berbuah gol.

Apakah Persebaya juaranya? Akan ditentukan di partai puncak menghadapi Persib Bandung, Kamis (6/8) malam. Mungkin Persebaya bisa juara, dengan pertandingan dipimpin wasit Candra. Wasit asal Padang yang memimpin laga Persebaya vs Arema di semifinal.

Kalau yang mimpin wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto seperti laga semifinal Persib vs Persija, peluangnya fifty-fifty. Saya juga gak tau, kenapa laga Persebaya vs Arema, gak sekalian dipimpin wasit asing. Meski sepertinya gak ada masalah dengan seorang Candra.

Memang tak terlihat secara kasat mata. Cuman, kalau boleh saya menilai, ada ‘sesuatu’. Ya maaf, karena sebelum kick off, saya dengar-dengar sudah ada yang minta jatah juara Piala Pesiden 2026.

Apakah Persebaya juaranya, mungkin ya! Mengingat kualitas tim ini secara teknis sebenarnya cukup bagus. Jadi kombinasi yang pas untuk juara. (*)