Kecamatan Dau, Singosari, Ngajum, Wagir, Lawang dan di Malang Timur.
Di Kota Malang, 25 Kelurahan Rawan Bencana
Malangtrend.com – Cuaca ekstrem di Malang Raya tak boleh diabaikan. Kewaspadaan tingkat tinggi dan kesiapsiagaan bencana harus menjadi prioritas utama. Peta kerawanan bencana juga harus diwaspadai oleh masyarakat. 70 persen dari 39 kelurahan di Kota Malang dinyatakan masuk kategori rawan bencana. Sementara di Kabupaten Malang ini ancaman potensi puting beliung juga rawan terjadi di Kecamatan Dau, Singosari, Ngajum, Wagir dan Lawang serta sebagian kecamatan di Malang Timur.
Secara geografis ada beberapa kecamatan yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi. “Jadi kalau melihat kondisi geografisnya, di Kabupaten Malang ini banyak potensi puting beliung. Di antaranya di Kecamatan Dau, Singosari Ngajum, Wagir dan Lawang sebagian di Malang Timur. Ada sekitar tujuh kecamatan karena kondisi geografis dan ini terus kami antisipasi termasuk imbauan kepada masyarakat,” jelas Plt. Kalaksa BPBD Kabupaten Malang R. Ichwanul Muslimin.
Ia menambahkan saat ini wilayah Kabupaten Malang dalam status tanggap darurat bencana hidrometeorologi sejak 30 Oktober 2025 sampai Januari 2026 mendatang. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk mengantisipasi kerusakan oleh angin kencang agar menanam pohon besar di sekitar rumahnya. “Karena dengan pohon-pohon angin puting beliung mudah terpecah. Kalau terbuka seperti rest area habis semua, karena tidak ada yang menghalangi,” tegasnya.
BPBD Kabupaten Malang mencatat dampak angin puting beliung di Desa Sumbersekar Kecamatan Dau, Minggu (2/11) lalu merusak 157 permukiman warga di dua dusun yakni, Dusun Krajan dan Dusun Semanding. Selain itu, fasum berupa jaringan listrik terputus dan masjid mengalami rusak ringan.
PEMBERSIHAN: Warga Desa Sumbersekar Kecamatan Dau bergotong royong membersihkan puing-puing atap rumah, Senin (3/11). MPM – MUHAMMAD FIRMAN
Bupati Malang HM Sanusi datang melakukan peninjauan rumah yang atapnya rusak kemarin sore. Ia datang bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Budiar Anwar, Plt Kalaksa BPBD Kabupaten Malang R. Ichwanul Muslimin, dan jajaran Pemkab Malang lainnya. “Kalau sudah terjadi musibah seperti ini kami berikan bantuan. Pak Sekda bersama BPBD saya suruh menghitung kerugian. Penggantian nanti kami bantu,” ujar Bupati Malang.
Perhitungan untuk kebutuhan material rumah warga terus dihitung. Sementara ini, Pemkab Malang menyalurkan bantuan berupa sembako, alas tidur, selimut, terpal, dan beberapa kebutuhan lainnya. Bupati Malang menambahkan nantinya akan diminta persetujuan DPRD Kabupaten Malang untuk mengeluarkan Belanja Tidak Terduga (BTT). “Nanti kami minta persetujuan DPRD untuk mengeluarkan BTT agar dapat meringankan beban masyarakat yang terkena musibah puting beliung,” tambahnya.
Plt BPBD Kabupaten Malang R. Ichwanul Muslimin menyebut kemarin sore total sudah terdata 157 rumah warga yang mengalami kerusakan. Seluruh rumah rusak pada bagian atap. Terdata di Dusun Krajan terdapat dua rumah yang rusak berat, rusak sedang sejumlah tujuh rumah, dan rusak ringan 71 rumah. Sebanyak 108 jiwa terdampak.
Sedangkan di Dusun Semanding terdapat lima rumah yang rusak berat, rusak sedang sejumlah 28 rumah, dan rusak ringan 24 rumah. Adapula Poskamling dan Masjid Al Khoirot mengalami rusak ringan.
Sementara itu, dua orang mengalami luka-luka bernama Sunarti, 47, luka sedang dan Ahmad A, 51, mengalami luka ringan. Keduanya sudah menerima penanganan medis dan kembali ke rumah. “Atap rumah yang terdampak macam-macam. Ada yang dari genteng, galvalum, seng, dan kondek. Jadi semuanya yang terlewati oleh angin puting beliung ini terdampak,” beber Ichwanul.
Sementara ini kerugian dari kerusakan rumah warga belum dapat ditaksir. Di sisi lain material yang masih layak difungsikan, digunakan kembali. “Kami tidak bisa memperkirakan kerugian karena setiap rumah ini berbeda,” jelas Ichwanul.
Sementara Kalaksa BPBD Kota Malang Prayitno menjelaskan bahwa 70 persen dari 39 kelurahan di Kota Malang masuk kategori rawan bencana. Secara geografis Kota Malang sendiri banyak ancaman bencana alam khususnya seperti banjir, longsor, dan angin kencang.
“Kami telah melakukan pelatihan yang menyasar warga sipil dan kelompk masyarakat khususnya di wilayah rawan. Tak hanya sosialisasi lewat medsos, tapi juga tatap muka. Warga diajari evakuasi, pakai alat, dan mitigasi,” jelasnya.
BPBD menargetkan pemetaan bencana hidrometeorologi rampung pada semester dua 2025. “Data sebelumnya masih campur dengan bencana non alam seperti pandemi. Sekarang kami fokus pada banjir, longsor, angin kencang, termasuk puting beliung,” tutup Prayitno.
Hujan lebat dan angin kencang yang menerjang Kota Malang, Minggu (2/11) sore, tidak hanya 13 pohon tumbang dan menimpa dua kendaraan. Tapi juga menimbulkan beberapa bencana termasuk atap rumah di Jalan KH Hasyim V RT 7 RW 3 Kecamatan Kedungkandang terlepas dan beterbangan, membuat satu warga mengalami luka di bagian kepala.
Pemilik rumah bernama Muhammad Rofiq, 60, mengatakan kejadian terjadi sekitar pukul 14.00 WIB saat ia dan keluarganya berada di dalam rumah. “Tiba-tiba terdengar suara ‘brakk’ keras. Begitu saya keluar, atap spandek bangunan kamar gudang di lantai dua rumah saya sudah terlepas dan beterbangan,” ujarnya.
Atap spandek berukuran 6 x 6 meter persegi tersebut termasuk rangka kayunya terhempas oleh angin hingga mengenai rumah tetangga di seberang jalan. Pecahan genteng kaca rumah milik Istiana, 60, menyebabkan luka di bagian kepala korban. “Balok kayu fondasi atap mengenai genteng kaca rumah Bu Istiana sampai pecah, dan pecahannya mengenai kepala beliau hingga berdarah,” jelas Rofiq.
Korban langsung dibawa ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Ia mengalami tiga luka di kepala dan harus dijahit, namun diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Usai kejadian, Rofiq bersama warga sekitar langsung melakukan perbaikan darurat pada kedua rumah yang terdampak. “Hari itu juga kami perbaiki bersama-sama, selesai sekitar jam 22.00 WIB,” katanya.
Peristiwa ini telah dilaporkan kepada Ketua RT dan RW setempat, serta diteruskan ke BPBD Kota Malang untuk penanganan lebih lanjut.
Sementara Warga Desa Sumbersekar Kecamatan Dau, bergotong royong membersihkan puing-puing atap rumah, Senin (3/11) kemarin pasca diterjang angin puting beliung hari sebelumnya. Muhammad Basori bersama keluarganya tampak membersihkan sisa-sisa genteng dan kanopi atap rumah miliknya yang tersapu angin di Dusun Krajan Desa Sumbersekar Kecamatan Dau.
Kondisi genteng rumah milik bapak dua anak itu hampir seluruhnya tersapu angin. Kini rumahnya beratap terpal. Bila hujan deras datang, sudah pasti bocor ke dalam ruangan rumah. Basori tinggal sama istri dan dua anaknya. “Nanti kalau hujan deras tidur di saudara. Tapi untuk sementara ini masih di sini (rumah sendiri),” kata Basori kepada Malang Posco Media kemarin.
Ia menambahkan, untuk perbaikan atap rumah seluas 8 meter x 9 meter itu nanti sepenuhnya digantikan oleh spandek. Basori menaksir dana dibutuhkan untuk perbaikan Rp 15 sampai 20 juta. “Rencana nanti dibongkar dan digantikan sama spandek,” tambah pria berusia 46 tahun tersebut. Di sisi lain, petugas jaringan kelistrikan terlihat membersihkan puing-puing berupa seng yang masih menyangkut di kabel. Hingga sore kemarin, sebagian lampu masih padam termasuk di rumah Basori.(rex/den/lim/mtc)