Cerita Pedagang Buku Lawas Velodrome Bertahan di Tengah Era Digitalisasi
Malangtrend.com – Di sela pepohonan tinggi dan berdaun rimbun di Pasar Buku Velodrome, deru zaman terasa berjalan lebih cepat seperti langkah pengunjung pasar. Bukan untuk membeli buku, tapi berburu secangkir kopi dan berselancar dalam gawai di kafe yang kini mulai bermunculan di sela sela kios buku.
Di tengah riuh obrolan muda mudi di kafe, terdapat sebuah ruang sempit penuh aroma kertas tua. Itu kios buku milik Dodik Irawan. Satu dari sedikit penjual buku lawas yang masih bertahan selama belasan tahun.
Dodik Irawan adalah salah satu dari 15 penjual buku bekas lawas yang kini masih bertahan di Pasar Buku Velodrome.
Di era ketika segala informasi dapat dijangkau lewat layar ponsel, kios Dodik menjadi jejak zaman yang enggan hilang.
Pria 43 tahun ini menggantungkan hidup sepenuhnya dari berjualan buku bekas, tanpa pekerjaan sampingan, tanpa usaha lain yang menopang. Setiap hari warga Kelurahan Jodipan ini membuka kios sejak pagi, menunggu siapa pun yang datang dengan rasa ingin tahu atau sekadar mencari bacaan lama yang sulit ditemukan di toko modern.
“Di sini awalnya ada 72 pedagang buku. Kemudian yang aktif sekitar 50-an kios. Sekarang sudah jauh berkurang, tinggal 15 saja yang bertahan. Ada yang alih usaha, ada yang jual buku dari rumah, macam -macam,” terang Dodik.
Para pedagang selain Dodik, hampir semua memiliki pekerjaan sampingan. Ada yang bekerja sampingan menjadi makelar, ada yang sambil membuka warung, buka kedai kopi, karaoke dan banyak lagi lainnya. Sedangkan ia sendiri masih bersikukuh dengan pekerjaan yang memang ia cintai sejak muda dulu.
“Memang kalau hanya jual buku, katanya teman- teman memang berat. Kalau saya, jualnya offline dan jual online di Facebook sama Instagram. Ya tergantung masing-masing penjual buku. Kalau saya, memang suka menjaga dan merawat pelanggan. Rutin saya tawari buku-buku bagus,” ungkap Dodik sambil merapikan tumpukan buku di rak kayu yang mulai kusam.
Meski sederhana, koleksinya tidak bisa diremehkan. Dodik menyimpan sedikitnya 5.000 buku lawas. Mulai dari buku-buku sejarah, politik, hingga buku komik lokal tertumpuk rapi di kios sempit miliknya. Berbeda seperti buku-buku baru, buku lawas harganya bisa dibanderol lebih mahal jika terdapat nilai historis dan tingkat kelangkaan bukunya.
Meski sepi pengunjung, masih ada saja kolektor buku yang mencari buku-buku tertentu. Hal ini jadi keuntungan tersendiri bagi penjual buku lawas seperti dirinya.
“Tapi di sini masih terjangkau. Terkadang saya juga kirim (suplai) ke Pasar Buku Wilis. Ya ada saja sebenarnya,” ucap dia.
Kendati begitu, diakui Dodik, dari segi tingkat kunjungan, memang mengalami penurunan yang cukup drastis dari tahun ke tahun. 16 tahun lalu, satu pekan Dodik bisa menjual sedikitnya 50 buku.
Sementara saat ini, paling banter berkisar 20-an buku tiap Minggu. “Tapi ya tidak tentu, tergantung kita mengambilnya berapa. Ya saya sih yang penting ikhtiar jual saja di online,” lanjut alumnus SMKN 5 Malang tersebut.
Di Pasar Buku Velodrome, tiap akhir pekan selalu ada Pasar Minggu. Ratusan bahkan ribuan orang selalu meramaikan seluruh kawasan Velodrome. Sayangnya, dampaknya ke pedagang buku belum signifikan. Jika ada pun hanya satu dua orang saja yang berkunjung dan membeli buku.
Tidak hanya tingkat penjualan, dari segi harga buku juga dinilai relatif menurun. Ketika ada buku terbitan yang langka dan bagus, dulu bisa dijual sangat mahal. Tapi untuk saat ini dirasa lebih sulit.
“Jualan buku bekas itu kalau dari keuntungan sebenarnya bagus, cuma pembelinya menurun. Selain faktor digital, selain itu daya saing penjual buku lebih ketat,” bebernya.
Dodik meyakini, meski hampir semua penjual buku mengeluhkan sepinya pembeli, buku-buku lawas masih punya tempat yang bagus di hati para peminatnya. Apalagi nilai edukasi atau pengetahuan di buku-buku lawas, disebutkan Dodik sangat bagus.
Ia mengaku masih berat jika meninggalkan usahanya tersebut. Tentunya, dia juga sambil terus cari cara lain untuk meningkatkan penjualan buku. Yaitu dengan melakukan inovasi.
“Sementara ini inovasinya ya penjualan online dulu. Mau bikin acara juga repot. Sebenarnya ada teman yang menawari bikin acara untuk menarik perhatian masyarakat, tapi sponsornya tidak ada, karena timnya kurang,” sebut pria kelahiran 6 Juli 1982 tersebut.
Di antara ribuan halaman yang berdiam pada rak-rak sempit itu, Dodik seakan menyimpan keyakinan: selama masih ada orang yang mencari cerita, memegang buku, mencium aroma kertas tua, kios bukunya akan tetap hidup.
“Saya optimis saja sih. Alhamdulillah ini masih cukup untuk keluarga. Yang penting sejak awal jualan, saya terus merawat pelanggan, melayani pelanggan, itu yang bikin berlanjut,” sambung Dodik.
Ia pun menaruh harapan besar kepada para pemangku kebijakan di Kota Malang. Ia ingin agar para pedagang buku juga mendapatkan perhatian yang sama seperti pedagang lain.
“Minimal kami diperhatikan dan diurusi. Minimal diakui, diajak komunikasi. Kalau sekarang kan dibiarkan saja oleh pemerintah,” tandas pria yang hobi gowes tersebut. (ian/van/mtc)