Malangtrend.com – Ratusan mahasiswa semester tiga Institut Teknologi & Bisnis Asia (Institut Asia) Malang, menggelar Parade Mie Nusantara di Plaza Begawan Kota Malang, Sabtu (24/1) sore. Agenda yang menjadi tugas praktik ini, juga ditandai sukses memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan menciptakan 130 varian mie dari sekitar 50 daerah di Indonesia.
Rektor Institut Asia Malang Risa Santoso, B.A., M.Ed., mengatakan bahwa kegiatan ini, merupakan sebagai bagian dari implementasi mata kuliah Business Practice dan Technology in Practice. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk pameran, penjualan produk, serta kompetisi kuliner dengan target memecahkan Rekor MURI melalui penciptaan 130 variasi mie khas Nusantara.
“Program tahunan ini dirancang sebagai wadah pembelajaran praktik lintas disiplin, yang pada tahun ini dikembangkan lebih besar dan sekaligus berhasil memecahkan rekor MURI dengan penciptaan 130 varian olahan mie,” jelasnya kepada Malang Posco Media.
Tak hanya sekadar berkreasi soal rasa dan proses pengolahannya, para mahasiswa juga harus bisa mengakulturasi dengan makanan khas daerah di Indonesia. Tercatat dari 130 varian yang disajikan, setidaknya ada 50 daerah dari 38 provinsi di Indonesia yang diakulturasi dengan berbagai keunikan sajian oleh masing-masing kelompok mahasiswa.
PENILAIAN: Tim penilai dari MURI saat mendatangi stan mahasiswa dalam ajang Parade Mie Nusantara.
“Dari seluruh produk mie yang disajikan dan dikreasikan, hampir 100 persen menggunakan bahan baku Mie Bola Mas, yang menjadi mitra pendukung kegiatan. Selain pameran dan penjualan, agenda juga diisi dengan lomba memasak mie oleh mahasiswa,” jelasnya.
Sejumlah produk dari kreasi mahasiswa ini, bahkan telah terjual habis melalui sistem pemesanan awal sebelum acara berlangsung. Risa mengatakan, Parade Mie Nusantara ini, tidak hanya menonjolkan kreativitas kuliner, tetapi juga menjadi simulasi nyata praktik bisnis dan pemanfaatan teknologi.
“Mahasiswa lintas program studi terlibat aktif sesuai bidang masing-masing, mulai dari mahasiswa IT yang mengembangkan website, Desain Komunikasi Visual (DKV) yang merancang materi promosi, hingga mahasiswa bisnis dan akuntansi yang mengelola penjualan dan pencatatan keuangan,” lanjutnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momen berkesan sekaligus bekal kompetensi mahasiswa sebelum terjun ke dunia industri dan kewirausahaan.
Total peserta yang terlibat diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 orang, mencakup mahasiswa semester satu dan tiga, mitra eksternal, serta panitia dan peserta pendukung lainnya.
Salah satu tim yang melahirkan Mie Wuchang sukses diserbu banyak orang. Bahkan, setidaknya sudah ada 140 orderan yang dilayani sejak stan dibuka pagi hari.
“Bahkan banyak yang sudah pre-order (PO), sebelum festival ini dibuka. Mie Wuchang sendiri, ada perpaduan antara makanan khas Gresik dan Madura. Seperti nasi krawu, tetapi ini menggunakan olahan mie dengan cita rasa rempah khas Gresik dan Madura,” jelas ketua tim, Niko.
Tak hanya Mie Wuchang, salah satu olahan mie yang jadi serbuan pengunjung dan mahasiswa adalah Mie Bute. Diambil dari singkatan bumbu sate, yang dilengkapi oleh sate khas Madura, membuat menu ini banyak diincar para penikmat kuliner mie.
“Kami sampai kehabisan stok, kami tidak menyangka kalau sampai habis, sempat merasa rugi juga, karena waktu masih panjang tapi tidak bisa berjualan,” ungkap perwakilan tim Mie Bute, Nenden Maharani.
Gadis yang memilih jurusan akuntansi itu, mengatakan bahwa mereka terinspirasi dari menu mie instan dengan rasa bumbu sate. Melihat peluang itu, ia ingin menghadirkan olahan mie yang dipadukan dengan bumbu sate asli khas Madura, dilengkapi beberapa tusuk sate ayam dengan daging yang lebih tebal.
“Jadi ini bumbu satenya kami riset dulu, masak mie juga kami riset, sampai jadi perpaduan ini. Dan waktu itu, sebetulnya kami juga sempat menerima pesanan dari kegiatan pengajian. Senang karena produk kami bisa diterima banyak kalangan,” tandasnya. (rex/nug)