Malangtrend.com – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, dunia pendidikan dituntut untuk terus beradaptasi. Menjawab tantangan tersebut, Kepala SMP Islam Sabilillah Malang, Nur Lailiyah, S.Pd., M.Pd mengungkapkan tekadnya untuk mencetak generasi yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan karya melalui Artificial Intelligence (AI) dan pemrograman (coding).
Dalam sebuah diskusi hangat, di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, Lia sapaan akrabnya, menekankan bahwa bakat anak didiknya di bidang teknologi perlu mendapatkan wadah yang lebih spesifik. Meski saat ini SMP Islam Sabilillah telah memiliki ekstrakurikuler (ekskul) robotik, ia menilai fokusnya masih terbatas pada sisi instrumentasi seperti penggunaan Arduino.
”Anak-anak sebenarnya sudah ada yang sampai tahap itu, hanya saja perlu di-upgrade. Saya ingin ke depan anak-anak lebih banyak mendalami bidang pemrograman. Mimpi besar saya adalah menghadirkan ekskul khusus coding dan AI di Sabilillah,” ujarnya.
Saat ini, materi mengenai coding sebenarnya sudah mulai disisipkan ke dalam mata pelajaran Informatika. Namun, Lia mengakui bahwa durasi dan cakupan materi dalam kurikulum reguler belum cukup mendalam karena harus berbagi dengan Capaian Pembelajaran (CP) lainnya.
Menurutnya, coding bukan sekadar mengetik baris kode, melainkan tentang mengasah pola pikir. Melalui kolaborasi dengan pakar dari Politeknik Negeri Malang (Polinema), para pengajar di lingkungan Sekolah Sabilillah mulai mendalami bahwa inti dari coding dan AI adalah pengembangan pattern recognition, logical thinking, dan design thinking.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah yang mulai memasukkan coding ke dalam kurikulum nasional. Dengan adanya dukungan dari unit Multimedia di LPI Sabilillah, rencana pembukaan ekskul ini diharapkan menjadi jembatan bagi siswa untuk menghasilkan karya-karya digital yang luar biasa, seperti virtual library hingga pemanfaatan Virtual Reality (VR).
”Kita harus beradaptasi. Mungkin tidak ya kita punya virtual library? Ya mungkin, karena teknologi sekarang memungkinkan itu semua terjadi,” ujar Lia dengan optimis.
Dengan adanya inisiatif ini, Sabilillah bersiap menjadi pelopor sekolah yang membekali siswanya dengan kemampuan teknis tingkat tinggi guna menghadapi era AI yang sudah di depan mata.
Di sisi lain, kata Lia, AI tetaplah sebuah instrumen yang bersifat netral. Ia bisa menjadi katalis kemajuan, namun di tangan yang salah, ia dapat menjadi alat perusak. Menyikapi fenomena ini, penguatan moralitas dan nilai-nilai religius menjadi harga mati bagi siswa, terutama di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pendidikan karakter dipandang sebagai “perisai” utama agar siswa tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga bijak secara moral.
“Ibarat memegang pisau atau benda berbahaya lainnya, jika seorang anak memiliki moralitas yang bagus, ia tidak akan menggunakannya untuk merusak atau menimbulkan kemudaratan bagi orang lain,” ungkap Lia.
Menurutnya, tanpa landasan karakter yang kuat, hal positif sekalipun dapat berubah menjadi destruktif. Sebaliknya, di tangan pribadi yang baik, teknologi yang dianggap berisiko tinggi pun dapat dijinakkan untuk menciptakan kebaikan bagi peradaban.
Di tingkat SMP, langkah konkret dilakukan melalui program pembelajaran pengembangan karakter (PAP) serta peran aktif wali kelas. Mereka secara konsisten menggaungkan pesan untuk menjadi pribadi yang baik (become a good person). “Fokus utamanya bukan lagi sekadar pada penguasaan alat, melainkan pembangunan manusianya. Sebab, pada akhirnya, teknologi bisa dipelajari oleh siapa saja, namun integritaslah yang akan menentukan ke arah mana teknologi itu akan dibawa,” tutur Lia. (imm/udi)