Malangtrend.com – Meski menjadi titik nol Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas dan secara geografis berada di lereng pegunungan, Kota Batu masih memiliki zona merah atau kesulitan distribusi air. Dampaknya beberapa wilayah sering kesulitan air bersih. Hal itu dikarenakan debit air yang semakin menurun dan membuat warga mulai khawatir.
Menyikapi permasalahan tersebut Pemkot Batu telah menginstruksikan agar Perumdam Among Tirto melakukan pemetaan mata air. “Terkait masalah penurunan debit air, kami telah mengambil langkah antisipatif dengan meminta Perumdam Among Tirto dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memetakan ulang semua sumber mata air di Batu. Jangan sampai kita menunggu sampai krisis benar-benar datang,” ujar Wali Kota Batu Nurochman kepada Malang Posco Media, Rabu (12/11) kemarin.
Pemetaan sumber mata air dilakukan mulai dari hulu hingga kawasan padat penduduk. Kemudian akan diketahui mana yang masih kuat, mana yang mulai menurun debitnya hingga mana yang perlu penanganan segera. Langkah selanjutnya dari hasil pemetaan itu, Pemkot ingin mengetahui secara pasti kondisi setiap sumber air. Jika ada yang debitnya kecil, dilakukan pendalaman. Jika ada yang meluber ke sungai tanpa dimanfaatkan, akan dialirkan ke tandon cadangan sebagai tambahan suplai air bersih.
“Selain soal sumber, perhatian juga mengarah ke jaringan distribusi air bersih. Pasalnya masih banyak pipa milik Perumdam yang masih peninggalan lama, bahkan ada yang sejak masa Belanda. Kondisi itu membuat aliran air tak maksimal, terutama ke wilayah tinggi,” terangnya.
Untuk masalah jaringan distribusi air, menurut Cak Nur memang perlu investasi jaringan baru. Sehingga upaya yang dilakukan Pemkot Batu telah bertemu dengan provinsi dan kementerian agar mendapat bantuan. Ini dilakukan karena biaya investasi jaringan air baru butuh biaya cukup tinggi.
“Kami juga menyoroti tentang blueprint pengelolaan air bersih, sesuatu yang hingga kini belum dimiliki Kota Batu. Dengan adanya dokumen tersebut akan menjadi arah kebijakan dan panduan pengambilan keputusan di masa depan,” terangnya.
Blueprint pengelolaan jaringan air bersih tersebut sebenarnya pernah ia sampaikan saat menjabat di DPRD. Sekarang, Cak Nur minta blueprint tersebut disusun. “Kami juga kerja sama dengan perguruan tinggi dan Jasa Tirta 1 untuk riset dan pemetaan ilmiah. Targetnya, tahun 2026, semua peta sumber air dan rencana pengelolaan rampung agar kebijakan bisa dijalankan lebih presisi,” imbuhnya.
Sebelumnya Direktur Perumdam Among Tirto Achmad Yusuf, mengakui tantangan pengelolaan air bersih di lapangan cukup berat. Contohnya distribusi air di Batu masih sangat bergantung pada gravitasi, membuat wilayah dengan elevasi tinggi sering kesulitan air.
“Kita terus upayakan revitalisasi jaringan dan pipa distribusi supaya pasokan lebih stabil. Banyak pipa lama yang sudah rapuh, bahkan ketika banjir seringkali jaringan air yang berlokasi di sungai mengalami bocor. Jadi memang butuh modernisasi jaringan dan tidak cukup dengan menggunakan APBD,” pungkasnya.(eri/lim/mtc)