Rumah Lansia di Dampit Runtuh,
Di Singosari Atap Tiga Rumah Tersapu Angin dan Tiga Pohon Tumbang
Malangtrend.com – Masyarakat Kabupaten Malang diimbau selalu waspada terhadap dampak cuaca ekstrem. BPBD Kabupaten Malang telah mengeluarkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi sejak Oktober 2025 sampai Januari 2026 mendatang.
Seperti yang terjadi beberapa hari ini, hujan deras yang masih mengguyur wilayah Kabupaten Malang berdampak pada runtuhnya atap dan tembok rumah yang ditinggali dua orang lanjut usia (lansia) di Dusun Purwosari Desa Srimulyo Kecamatan Dampit Kabupaten Malang, Minggu (9/10) malam.
Beruntung pemilik rumah, Wakidjan dan istrinya, Moersijah tidak tertimpa maupun terkena reruntuhan atap dan tembok rumahnya yang rusak parah. BPBD Kabupaten Malang yang menerima laporan, Senin (10/11) kemarin datang ke lokasi untuk melakukan asesmen.
Pihak Desa Srimulyo Kecamatan Dampit, juga telah turun untuk menyalurkan bantuan kepada dua penghuni rumah yang merupakan sepasang suami istri (Pasutri) yang sudah lanjut usia. “Tinggal (atap) dapur masih ada. Kalau ruang depan, kamar, dan ruang tamu sudah gak ada (atapnya). Asalnya kan atap yang jatuh, terus temboknya ikut roboh,” kata Kepala Desa (Kades) Srimulyo Kecamatan Dampit, M. Mukhlis, kepada Malang Posco Media, kemarin.
Saat kejadian malam itu sekitar pukul 20.00 WIB. Beruntung Wakidjan yang berusia 88 tahun dan istrinya, Moersijah, 80, tidak berada di area runtuhnya atap dan tembok rumahnya. Keduanya dipastikan tidak tertimpa maupun terkena puing-puing reruntuhan. “Jam delapan malamnya itu hujan lebat, dua harian hujan terus, kemudian atap gak kuat hingga roboh. Saat kejadian penghuni rumah yang satu di rumah belakang, yang satu di depan rumah. Masih selamat,” terang Mukhlis.
Kini pasutri tersebut menjadikan tempat tidurnya pada sisa ruang rumah belakang yang masih ada atapnya. Pihak desa setempat telah menyalurkan bantuan berupa terpal dan sembako. “Saya sudah berkoordinasi dengan Baznas Kabupaten Malang untuk mengajukan bantuan bedah rumah,” tambah Mukhlis.
Pascakejadian, warga setempat bergotong royong membantu melakukan penanganan terhadap rumah yang ditinggali Wakidjan dan istrinya, Moersijah. Pada hari yang sama Minggu sekitar pukul 22.00 WIB, dilaporkan pohon tumbang menggerus bagian belakang warung milik Siti Solikah di Jalan Raya Malang – Lumajang, tepatnya di Desa Tamanasri, Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang. Akibat tumbangnya pohon jenis Mahoni berdiameter sekitar 200 sentimeter dan tinggi sekitar 15 meter itu juga berdampak pada kerusakan atap warung. Ditaksir kerugian pemilik Rp 10 juta.
Di lain tempat yakni, Desa Tamanharjo Kecamatan Singosari dilanda cuaca ekstrem, hujan intensitas tinggi disertai angin kencang, Senin (10/11) kemarin sekitar pukul 14.00 WIB. Dampak kondisi cuaca tersebut mengakibatkan tiga rumah bagian atap rusak terangkat angin dan tiga pohon tumbang di dua titik.
BPBD Kabupaten Malang mencatat tiga rumah yang terdampak yakni milik Hadi Wahyoni, Syamsul Muarif, dan rumah milik M. Muchlisin Widandi. “Ketiga rumah tersebut mengalami rusak ringan dengan kondisi atap terbuka. Tidak ada korban jiwa,” jelas Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) Kabupaten Malang, Sadono Irawan.
Ia menyampaikan, kebutuhan berupa terpal sudah terpenuhi. Sedangkan dampak pohon tumbang di dua titik Desa Tamanharjo Kecamatan Singosari sempat menutup jalan akses warga, menimpa gudang besi, kabel PLN, dan menimpa sepada motor.
Sadono menjelaskan, tiga pohon yang tumbang berjenis Pohon Chery, Pohon Gmelina, dan Pohon Petai. “Tiga pohon tumbang di dua lokasi berbeda. Dampak Pohon Chery tumbang menutupi jalan akses warga dan kabel PLN, Pohon Gmelina menimpa gudang besi milik warga, dan Pohon Petai menimpa dua unit motor tukang yaitu Scoopy dan Jupiter dengan total kerugian ditaksir sekitar Rp 10 juta,” urai Sadono.
Ia menegaskan kejadian dampak cuaca ekstrem, baik pohon tumbang yang terjadi di Kecamatan Ampelgading maupun di Kecamatan Singosari tidak ada korban jiwa. (den/udi/mtc)